Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku

Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku
Hasilnya


__ADS_3

Aira nampak mengingat-ingat sesuatu. Saat kejadian, dimana ia meletakkan benda itu di kamar maminya. "Iya, udah. Aku udah pencet tombol on, sama kayak yang kamu perintahkan itu."


Suraj membuka tablet yang ia bawa. Benda berwarna putih, yang berlogo gigitan apel itu mulai ia mainkan. "Ini, sayang!" Setelah itu mengarahkan benda itu ke Aira.


"Kok gak ada gambarnya? Koneksi tidak terhubung. Apa yang terjadi, Suraj?" Aira begitu terkejut melihat hasilnya. Tidak ada aktivitas yang terekam di dalamnya. Hanya gelap, tidak ada warna.


"Kemungkin besar hanya ada dua, yang menjadi penyebabnya." Suraj menutup kembali benda itu. "Satu, kamu lupa menyalakan tombol on-nya. Atau...." Suraj menghentikan kalimatnya. Berpikir sejenak. Kemudian mengangguk, dengan sangat yakin. "Mereka menyadari kamera itu. Dan di buang begitu saja," ucapnya pasrah.


Aira hanya bisa menghembuskan napasnya panjang. Ia sangat kecewa dengan hasil dari rekaman itu. Belum ada bukti, yang bisa membuat ia terbebas dari Raka.


"Sungguh, sayang. Aku gak lupa, kok!" sesal Aira menunduk pasrah.


"Iya, sayang. Aku percaya kok. Mungkin, nasib baik belum berpihak pada kita." Suraj meraih tangan wanita itu, menggenggamnya erat. Memberi semangat, saat Aira patah harapan.


"Nanti, aku coba cek deh. Cari tau, apa yang sebenarnya terjadi?" timpal Aira, yang mulai menemukan semangatnya.


"Iya, sayang."


*************


"Sayang, kita langsung pulang ya?" Raka bertanya pada Citra, sebelum mereka masuk ke mobil.


"Emmm, iya. Aku capek, pengen tidur. Ngantuk!" balas Citra, mengeluh capek.

__ADS_1


"Yakin, mau tidur." Raka menyenggol lengan Citra, menggoda wanita itu.


"Kamu ini, hampir tiap hari loh kita nglakuin itu. Gak bosan apa, kamu?" seloroh Citra yang mulai memegang gagang pintu. Namun, pergerakannya tercekat. Saat melihat Aira dan Suraj, baru saja keluar dari cafe. "Ngapain mereka ada di sini?" gumamnya, dengan alis yang saling menaut.


"Siapa sih, sayang?" Raka mengikuti kemana arah pandangan wanita itu. "Aira sama Suraj. Ngapain mereka ada di sini?"


"Mencurigakan. Pasti ada sesuatu yang sedang mereka rencanakan." Citra melepaskan pegangan tangannya. Kemudian berniat akan menghampiri mereka berdua.


"Mau kemana?" tanya Raka, menahan pergelangan tangannya.


"Ya mau nyamperin mereka-lah," balas Citra ketus.


"Untuk apa?" Raka mengarahkan pandangannya pada wanita yang ada di hadapannya. "Kita ikuti saja mereka?" sambung pria itu menyeringai.


"Bener juga, kamu."


"Kamu harus hati-hati, sayang? Yang kaku hadapi ini bukan orang sembarangan. Jangan ceroboh, aku takut terjadi sesuatu sama kamu," ucap Suraj mengkhawatirkan keadaan Aira.


"Iya, aku akan hati-hati kok. Gak mungkin ceroboh lagi." Aira melirik sekilas wajah Suraj, yang sangat mengkhawatirkannya. "Lagian, sekarang aku bukan Aira yabg dulu. Aira yang lembek, yang lemah. Sekarang, aku udah jadi Aira yang tangguh." Wanita itu mengangkat lengannya. Menunjukkan otot-ototnya di depan Suraj. Agar pria itu tidak terlihat tegang.


"Iya, sayang. Aku percaya kok." Suraj menyunggingkan senyumnya. "Ingat, kalau sampai mereka menyakiti kamu. Kamu teriak, panggil Jali, atau pak RT. Minta bantuan pada mereka," lanjut Suraj mewanti-wanti Aira untuk sigap dalam bertindak.


"Alahh, pak RT mah gak bakalan percaya sama aku," balas Aira merengut.

__ADS_1


"Kok bisa, sayang?"


"Mami sama pak RT pernah kepergok papi berselingkuh di gudang belakang," jawab Aira mengingat peristiwa itu. "Sampai-sampai darah papi langsung naik, dan terkena struke saat itu juga." Aira menghela napasnya kasar. Sakit di dadanya, saat menceritakan pada Suraj.


"Astaghfirullah. Kok ada ya, orang-orang kayak mereka. Sampai sekarang, mereka masih menjalin hubungan?" Suraj kembali bertanya.


Aira menggeleng. "Udah gak. Burung pak RT udah gak bisa on lagi, kena penyakit impoten. Sekarang di urus sama bininya. Ya karena itu, jika ada apa-apa mami selalu ngancem. Mau ngasih tau ke bininya. Kalau mereka pernah selingkuh," jelas Aira, semakin membuat Suraj ngilu.


Sesampainya di rumah, Aira meminta Suraj untuk mengantarnya sampai di depan pagar. Mengingat, hari sudah semakin larut.


Wanita itu langsung masuk ke dalam. Kebetulan Jali masih terjaga, dan langsung menghampiri Aira.


"Non Aira kok gak ngabarin,, kalau mau pulang?"


"Gak apa, Mang. Udah di antar temen, kok." Aira mengedarkan pandangannya ke arah bagasi yang pintunya masih terbuka. "Mobil mami gak ada, kemana mami?" Setelah itu melempar tanya pada supirnya.


"Pergi sana den Raka," jawab Jali jujur.


"Oh." Aira nampak berpikir. "Ini saatnya aku cek ke kamar mami." Wanita itu membatin. "Ya udah ya, Mang? Aku masuk dulu."


"Iya, Non."


Buru-buru Aira menuju ke kamar Citra. Dua sudah tidak sabar ingin mengecek kamera itu. Pintu ia buka dengan pelan. Seperti orang yang mengendap-endap, Aira masuk ke dalam. Langsung menuju ke meja rias, tempat kamera itu di sembunyikan.

__ADS_1


Matanya fokus pada pot bunga yang letaknya sama, saat terakhir ia lihat. Akan tetapi, ia tidak menemukan benda itu di sana. "Loh, kok gak ada ya?" Aira mencarinya di sekitar tempat itu. Nihil, hasilnya sama.


Hingga pandangannya fokus ke lantai, di dekat kolong meja ada benda yang sangat mirip dengan kamera itu. Saat akan mengambilnya. Terdengar dari arah luar. Derap langkah kaki menuju ke tempat itu.


__ADS_2