Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku

Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku
Gagal


__ADS_3

"Kita turun, Kak. Cari tau siapa orang itu?" ujar Aira, penasaran. Kalau di lihat dari kejauhan postur tubuhnya mirip dengan Raka. Tapi, dia gak mau menduga-duga hal itu.


"Ya udah, kita cek sekarang!" sahut Kinos penasaran. Dia beranggapan itu maling yang akan mencuri di cafe Aira.


Seorang pria dengan memakai pakaian serba hitam, wajah di tutup dengan masker mengendap-endap di teras cafe. Sesekali ia melirik kanan, kiri, untuk memastikan tempat itu aman. Di tengah malam begini, jalanan memang masih ramai. Namun, tak menyurutkan niat pria itu untuk masuk ke dalam cafe. Berbekal jepit rambut, pria itu berusaha membuka gemboknya.


"Shittt sial, sudah banget sih!!" umpatnya dengan nada kesal. Beberapa kali mencoba, namun belum berhasil.


Saking fokusnya ingin membuka kunci. Pria itu tak menyadari kedatangan dua orang di belakangnya. Yang menangkap basah dirinya.


"Apa yang kamu lakukan di sini!" tanya Aira dengan tatapan menuduh.


Sontak, pria itu terdiam kaku. Kepergok dengan seseorang. Tak ingin mati di tempat, perlahan ia menoleh. Wajahnya yang tertutup masker memandang heran wanita cantik yang ada di hadapannya. "Ya Tuhan, kok ada ya makhluk secantik dua di dunia ini," gumamnya dalam hati, sampai mlongo memandang wajah Aira.


"Kalian yang siapa? Kenapa ada di sini?" Pria itu justru balik bertanya.

__ADS_1


Aira sangat mengenali suara dari balik masker itu. Dia tidak menyangka, kalau Rakalah yang akan berbuat jahat si cafe itu. Apa tujuannya. "Mas Raka," lirihnya terkejut.


"Kamu gak perlu tahu siapa kami. Yang jelas, untuk apa kamu mengendap-endap di tempat ini. Mau maling, ya?" Sekarang giliran Kinos yang bersuara.


"Persetan dengan kalian." Raka mendorong tubuh Kinos, hingga terjungkal ke belakang. Dengan sekali gerakan, ia kabur dari tempat itu. Tanpa bisa di cegah oleh Aira maupun Kinos.


"Berhenti!!! Heyy,, Mas Raka berhenti kamu!!" teriak Aira berusaha mengejar. Namun,percuma saja. Karena langkah Raka lebih cepat di banding dia.


"Ra, kamu kenal siapa orang tadi?" tanya Kinos, yang berhasil berdiri lagi. Kemudian mengejar Aira.


Aira mengangguk, seraya menatap kosong jalanan yang mulai terlihat sepi. "Dia mantan suami aku, Kak."


"Belum, Kak. Ada saatnya aku akan datang di hadapan lelaki itu. Lelaki yang sudah menyakiti aku, mengkhianati aku sama mami. Dia juga yang udah manfaatin aku." Aira sakit, jika mengingat kejadian malam itu. Ia diusir di depan orang banyak. Di perlakukan semena-mena, seperti sampah yang tidak berguna.


"Kalau menurut aku aneh sih, Ra. Ada yang gak beres dengan status kamu di rumah itu. Apa tujuan mereka mengusir kamu. Toh, dengan cara tidak mengusir kamu dari sana. Mereka masih bisa memperlakukan kamu dengan semena-mena. Itu yang menjadi pertanyaan besar, Ra. Pasti ada rahasia yang kamu gak tahu. Apa mungkin, kamu bukan anak kandung mami Citra?" ucap Kinos, menduga-duga kemungkinan itu.

__ADS_1


Aira memoleh ke samping, memandang wajah Kinos lekat. Mulai berpikir dengan apa yang dikatakan oleh pria itu. "Kok Kakak beranggapan seperti itu?"


"Gini, Ra. Sejahat-jahatnya orang tua kandung. Gak akan mungkin tega mengusir anaknya dari rumah. Gak akan tega menyiksa kamu seperti itu. Kecuali, mami Citra itu hanyalah seorang ibu tiri. Aku pikir wajar, kalau dia bukan ibu kandung kamu."


Aira merasa tidak ada yang aneh dengan kehidupannya selama ini. Sebelum pernikahan dengan Raka. Citra sangat menyanyanginya. Apa pun selalu di beri tanpa harus meminta. Aira membuang jauh-jauh tebakan Kinos, yang menganggap dia hanyalah anak tiri dari Citra.


*************


"****, sial!" teriak Raka kesal. Karena rencananya tidak berhasil. Awalnya, pria itu akan menjarah barang-barang yang ada di cafe itu. Dan harus gagal, dengan kedatangan orang yang tidak ia kenal tadi.


"Siapa sih tuh cewek. Kayak gak asing gitu." Raka mulai mengingat-ingat wajah wanita tadi, yang sempat berdialog dengannya. "Kek mirip Aira. Hahaha mana mungkin si cupu itu," sambungnya lagi masih menerka-nerka.


"Eh, ngomong-ngomong kemana ya tuh orang? Masih hidup apa udah koid? Hahahaha kasihan banget deh, dia." Raka terus bicara sendiri, seperti orang gila yang sedang kumat.


"****, sayang banget gue belum berhasil merawanin tuh cewek. Hadoehhhh, gue gak bisa bayangin. Pasti rasanya enak tuh, ini semua gara-gara Citra. Gue akan buat perhitungan sama tuh nenek sihir."

__ADS_1


Raka mulai mempunyai rencana jahat. Untuk melenyapkan Citra. Dengan begitu, semua kekayaan wanita itu akan menjadi miliknya. Toh, mereka masih resmi menjadi suami istri. Kalau Citra mati, otomatis dialah yang akan menjadi ahli warisnya.


"Sepertinya malam ini adalah waktu yang tepat untuk habisin nenek sihir itu. Gue harus cari cara untuk melenyapkan Citra. Agar tidak ada yang curiga. Huhhh, tapi apa ya?" Sambil terus berjalan. Otaknya bekerja. "Nah, gue ada ide. Hahahaha, nenek sihir tunggu gue di surga, ya? Hahahaha...."


__ADS_2