Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku

Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku
Penyelamat


__ADS_3

Suara tangis dari Aira, bahkan tak sedikitpun mampu membuat hati Raka Minak. Ia justru semakin menjadi, menggesek-gesekkan miliknya di dada wanita itu. Dengan mata terpejam, menikmati sensasi yang belum pernah ia alami.


Tubuh Air meremang, tegang. Bukan karena ikut larut dalam permainan Raka. Jijik, takut, membayangkan sosok di hadapannya itu. "Lepasin aku, Raka," rintih Aira memohon.


"Gak akan, sayang?" balas Raka dengan suara parau. "Aku gak mungkin menyia-nyiakan mangsaku lepas begitu saja. Nikmati saja, sayang! Nanti juga akan ketagihan," sambungnya dengan napas yang memburu.


"Juniorku ini terlalu panjang untuk aku masukkan ke dalam gua milikmu," desisnya lagi, meracau frustasi. Hilang akal, di bumbung gairah yang mencuak.


"Tolong!!??" teriak Aira, memberontak. Menggeliatkan tubuhnya agar bisa terlepas dari cengkraman lelaki jahanam itu. "Mang Jali, tolong aku. Huhuhuhu." Tangisnya tumpah, siapa saja ia sebut. Berharap ada keajaiban datang di waktu yang tepat. Sebelum si brengsek itu mengambil mahkotanya.


Dengan tangan yang di ikat ke pegangan sofa. Aira tidak bisa berbuat banyak, selain berteriak. Mencari bantuan. Pergerakannya terbatas, karena ulah Raka.


"Ya Tuhan, sayang? Kamu terlalu manis untuk menangisi nasib kamu yang malang ini. Aku janji, akan melakukannya pelan. Aku gak akan menyakitimu," racau Raka yang masih betah bermain-main di benda kenyal itu. "Bibir kamu ini seksi," ucapnya memegang bibir Aira dengan lembut. Wanita itu membuang wajahnya ke samping. Tak tahan melihat ekspresi wajah Raka yang menjijikkan.


"Dan..." Sorot mata Raka beralih ke gunung kembar miliknya. Dengan sekali remas, membuat Aira menjerit sakit.


"Arghhhhh, sakit!!! Lepaskan aku," tangis Aira pecah. Air matanya kembali menetes.


"Teriaklah, sayang? Tidak akan ada yang mendengarnya." Raka justru tersenyum puas, melihat Aira mengerang kesakitan.

__ADS_1


Saking fokusnya menikmati keindahan yang di depan mata. Raka tak mendengar suara mobil berhenti tepat di halaman rumah. Pria yang masih mengenakan kemeja kerjanya, bergegas turun. Mendengar suara rintihan dari dalam. Mempercepat langkah kakinya. Keberuntungan masih berpihak padanya, pintu tidak terkunci dari dalam. Dengan begitu, ia bisa bebas masuk kapan saja.


"Lepaskan aku, Raka."


Suara tangisan Aira terdengar sangat jelas. Membuat darahnya mendidih. Gejolak amarah yang kian memburu di dadanya ingin segera tertuntaskan. Kaka melihat, sang wanita pujaan sedang berada dalam kungkungan pria brengsek seperti Raka. Tak tanggung, guci bermaterial keramik yang ada di pojok sofa ia sambar begitu saja.


Pyar.... Brughhhhh ....


Benda itu mendarat tepat di tengkuk Raka. Sedetik kemudian, serangan dari belakang berkali-kali menikam tubuh pria itu. Suraj mengangkat tubuh Raka dengan sangat mudah, dengan amarah yang meluap. Suraj memukul pria itu membabi buta. Tak sedikitpun memberikan celah untuk membalasnya.


Hampir semua bagian tubuh Raka menjadi pelampiasan kemarahan Suraj. Setelah terkapar tak berdaya, ia geletakkan begitu saja di lantai. Pandangan matanya beralih pada wanita yang menangis dalam pilu, dengan tangan yang terikat. Segera, ia menolongnya. Melepaskan ikatan tali itu. Beruntung, Aira belum sampai ternodai oleh di brengsek itu. Bagian tubuh bawahnya masih tertutup rapat.


Tak dapat berkata apa-apa, Aira hanya bisa terisak dalam dekapan pria yang tepat. Lagi-lagi Tuhan, masih menyelamatkan dirinya dari pria brengsek seperti Raka. Bahkan untuk di sebut manusia, rasanya tak pantas lagi.


****************


Suraj memutuskan untuk membawa Aira ke rumahnya. Apalagi, si Raka sudah berhasil sadar dari pingsannya. Kemungkinan besar, ia akan mengulang perbuatannya lagi. Jika Aira masih ads di sana.


"Ya Tuhan, sayang? Untung Suraj datang di waktu yang tepat." Yuni merengkuh tubuh gemetar Aira yang masih ketakutan, jika mengingat kejadian tadi.

__ADS_1


"Mi, ajak Aira ke kamar!" titah Maholtra yang juga ikut prihatin melihat keadaan wanita itu. "Suraj, papi mau ngomong sesuatu sama kamu," sambung pria berkebangsaan India itu pada anaknya.


"Iya, Pi."


Mereka memutuskan untuk bicara di ruang kerja Maholtra. Kegusaran terlihat jelas di wajah pria itu. Beberapa kali, keningnya mengkerut. Memikirkan cara, agar bisa menyelamatkan Aira dari dua manusia sialan itu.


"Jadi, kamu belum mempunyai bukti apapun. Untuk membantu Aira melayangkan gugatan cerai itu?" tanggap Maholtra, saat ia mendengar cerita dari Suraj.


"Belum, Pi." Wajahnya sendu.


"Sebenernya tidak butuh bukti untuk melaporkan mereka. Kalian punya saksi, kan?" tanya Maholtra dengan tatapan serius.


"Ada, Pi. Pegawai Aira di cafe," jawab Suraj, belum mengerti arah pembicaraan papinya itu.


"Kasih alamatnya ke papi. Besok akan Pali bantu. Kalau keadaan Aira sudah baik, temani dia melaporkan gugutan cerai ke pengadilan. Papi akan urus, selebihnya," tegas Maholtra dengan sangat yakin.


"Apa papi yakin, kita akan memenangkannya?" Suraj masih menyimpan keraguan. Bukan tidak percaya kemampuan papinya. Akan tetapi, dia sangat mengenal musuh yang akan mereka hadapi. Mereka sangat licik.


"Kamu meragukan, papi?"

__ADS_1


"Gak, Pi. Suraj tunggu kabar baiknya."


__ADS_2