
Dengan lantang, Citra membentaknya. Tatapan mata yang tajam, langsung tertuju ke arahnya. Wanita itu mendekat, tepat berada di hadapannya.
"Kamu sudah mulai berani melawan. Mami gak pernah mengajarkan kamu untuk melawan pada suamimu. Raka masih berstatus suami kamu!!!" Citra kembali membentaknya.
Aira tersenyum getir menanggapinya. Sungguh manusia laknat yang ada di depannya ini. Seorang ibu yang tidak patut untuk di contoh.
"Mami sadar, mami ngomong apa barusan? Mami sadar nggak!!" ucap Aira dengan nada membentak. "Suami macam apa yang harus Aira patuhi. Suami macam apa, dia??" sambungnya menunjuk ke wajah Raka. "Dia bahkan tidak pantas di sebut manusia. Hewan sekalipun tidak ada yang sebejat dia!!!!!"
Gemuruh dalam dadanya meluap. Meningkatkan emosi dalam dirinya. Secara tak sadar, Aira menjadi sosok wanita yang kuat. Yang bisa membela dirinya sendiri di depan dua laknat itu.
Plakkklkk
Satu tamparan dari Citra, membekas di pipi Aira. Sontak, tangannya langsung bergerak. Menahan panas yang menyakitinya. Tak sadar, air matanya kembali menetes. Untuk pertama kalinya, Citra menampar, menyakiti fisiknya.
"Jangan sakiti dia!!!!" sambar Suraj, mengangkat tangannya. Ia hampir saja lepas kontrol. Membalas perlakuan Citra tadi.
"Nggak usah ikut campur masalah ini," tandas Citra tertuju ke arah Suraj. "Aira, masuk!!" Kemudian memerintahkan Aira.
"Saya akan membawanya pergi!!" balas Suraj, tak kalah nekatnya. "Ayo, sayang?" Setelah itu kembali menarik tangan Aira, untuk secepatnya pergi dari tempat itu.
Mereka berdua mulai melangkahkan kakinya. Kembali, suara lantang dari belakang. Menghentikan mereka.
"Kamu bawa pergi istri saya, saya akan laporkan anda ke kantor polisi. Dengan tuduhan penculikan!" ancam Raka, menyunggingkan senyumnya. Dia yakin, dengan ancaman itu, Suraj tidak akan berani membawa Aira.
__ADS_1
"Laporkan saja, saya tidak perduli!!" tandas Suraj, tidak takut. Mereka kembali melangkah.
"Tapi, Suraj." Aira mencegahnya. "Aku gak mau kamu terkena masalah," ucap wanita itu, menahan diri untuk tidak ikut bersama Suraj.
"Bukan aku yang akan kena masalah, tapi mereka. Mereka yang akan aku laporkan. Atas tuduhan perselingkuhan!" ujar Suraj, menyakinkan Aira.
"Hahahaha, kamu pikir mereka akan percaya begitu saja. Tanpa kamu membawa bukti yang jelas?" sambar Citra, terbahak. "Kamu punya bukti apa, akan melaporkan kami?" sambungnya, mengejek.
Dari kalimat itu, Suraj kesulitan untuk membalasnya. Dia terlalu bodoh untuk dibodohi dua manusia licik, seperti mereka. Harusnya, ia membuat bukti itu. Seperti foto atau video, agar bisa di jadikan kekuatan untuk melaporkan ke pihak berwajib.
Aira menunduk penuh sesal. Hatinya berkecamuk radam, membuat ia kembali memasang wajah suram. Mungkin, memang sudah suratan takdir dari-Nya, hidup Aira akan menyedihkan seperti ini.
************
Tak punya pilihan lain, bagaimana pun juga Suraj harus menghargai keputusan Aira. Dan memilih mundur untuk menyusun strategi selanjutnya, yang akan menjatuhkan dua manusia brengsek itu.
"Aku harus mencari cara. Agar bisa membebaskan Aira dari Raka dan Citra." Dalam mobil, ia terus bergumam.
Walau kecewa, Yuni dan Maholtra mendukung seratus persen rencana selanjutnya yang akan di susun oleh Suraj.
"Kalian harus kumpulkan bukti, perselingkuhan mereka. Dengan begitu, kita akan mudah menyeret mereka ke jeruji besi." Maholtra memberi saran.
"Iya, Pi."
__ADS_1
Semalaman Suraj tak bisa tidur dengan tenang. Pikirannya hanya fokus pada Aira. Takut, mereka menyakiti wanita itu. Hingga pagi menjelang, tubuh Suraj seperti lunglai tak bertenaga.
Sebelum beranjak dari ranjang, Suraj menghubungi nomor Aira. Mungkin dengan rencananya ini, mereka berdua akan berhasil mengalahkan musuh.
Sesuai yang di janjikan oleh Suraj. Aira sudah berada di warung makan sekitar pasar. Sekalian belanja untuk kebutuhan cafe. Aira harus tetap melanjutkan hidupnya. Tidak boleh menyerah begitu saja, sembari mencari celah agar bisa terbebas dari masalahnya.
"Ra, udah lama ya nunggunya?" tanya Suraj, yang baru saja datang.
"Belum, aku juga baru nyampe."
"Aku seneng, liat kamu dalam keadaan baik. Aku janji, akan segera membebaskan kamu dari mereka," ujar Suraj, menggenggam tangan itu. Seketika hati Aira menghangat. Setitik bening keluar begitu saja di kelopaknya. "Stttt, jangan nangis lagi!" Suraj mengusap dengan lembut cairan itu. "Kamu tidak pantas mengeluarkannya untuk mereka."
"Terimakasih, kamu sudah tulus menyanyangi aku. Andai saja, aku tidak egois ...." Bibir Aira di bungkam dengan telunjuk Suraj.
"Tidak ada kata terlambat, kita bisa memperbaikinya."
"Tapi aku," sambung Aira, tak kuasa untuk melanjutkannya lagi.
"Aku gak perduli dengan itu semua. Yang terpenting, kita bisa bersatu."
Aira mengelap wajahnya Mbia bisa tersenyum lega, akhirnya. Masalah yang sedang ia hadapi, mengajarkan dia untuk tetap bersabar.
"Sekarang, aku harus bagaimana?"
__ADS_1