
Sudah hampir satu minggu, Aira berpisah dari Suraj. Rasa rindu kian menyiksa dirinya. Gelak tawa pria itu, saat menggodanya menari-nari di pelupuk mata. Tak terasa pelupuknya penuh dengan air mata. Yang sekaki kedip saja akan jatuh.
Suraj adalah tempat ternyaman Aira untuk mengutarakan keluh kesahnya. Cinta yang tulus yang diberikan pria itu. Mengubah Aira yang dulu tak berdaya. Menjadi Aira yang tegar dan kuat.
Dati pria itu juga, ia menemukan cinta sejati. Ketulusan yang selama ini, tidak ia dapatkan. Hanya saja, perasaan rindu itu harus ia tahan. Sebelum waktunya tiba.
Rasa takut, kadang hadir dalam dirinya. Takut kehilangan pria itu. Takut perasaan Suraj akan berpaling. Jika ia terlalu lama menunggu.
"Maafin keegoisan aku, Suraj. Tapi, ini semua demi kita. Demi masa depan kita, nanti. Aku ingin memantaskan diri untuk bisa bersanding denganmu."
Kerinduan itu juga dirasakan oleh Suraj. Yang larut dalam kepedihan, tak berdaya di bumbung rasa yang sulit digambarkan dengan ucapan. Andai ia memiliki kaca benggala seperti Mak Lampir. Mungkin, dia tak akan setersiksa ini. Menahan rindu pada orang yang ia cintai.
Pencariannya belum menemukan hasil. Dia masih harus menunggu, dan menunggu lagi. Entah sampai waktu yang tak bisa ditentukan.
"Sayang, kamu belum tidur?" Yuni menegurnya. Tak tega melihat kemurungan yang akhir-akhir ini terlihat jelas di wajah putranya.
"Belum, Mi." Dijawab lemas oleh pria itu. Dengan kepala yang menyender dinding ranjang.
"Kamu yang sabar, sayang. Percayakan semua pada-Nya. Jika, kalian berjodoh. Sejauh apapun kalian terpisah. Akan ada jalan untuk bertemu." Yuni menyemangati Suraj. "Kalau kami begini terus, yang ada kamu sakit. Badan kamu gak terawat. Kerjaan terbengkalai. Kasihan Aira di sana. Mungkin, dia sedang berjuang untuk bisa membuat kalian bersatu."
__ADS_1
Sulit, untuk dicerna oleh pikiran Suraj. Mendengar penuturan maminya. Yang ada rasa sesal, karena datang tidak tepat pada waktunya. Menyelamatkan Aira dari kedua laknat itu.
Sebagai orang tua, Yuni hanya bisa menyemangati. Membantu mencari Aira, pun sudah. Namun, takdir belum mempertemukan mereka. Dia bisa apa. Selain menunggu saat itu tiba. Itu yang diharapkan dari Suraj. Yang harus bisa menerimanya dengan lapang dada.
**************
"Saya terima nikah dan kawinnya Citra Rahmawati binti Ardiansyah dengan mas kawin tersebut TUNAI."
Kalimat itu keluar dari bibir Raka. Untuk kedua kalinya ia menyebutkan ijab qobul di depan penghulu. Di tempat yang sama. Hanya saja yang sekarang, ia harus menikahi wanita yang menjadi tambang emas baginya. Baik sekarang, maupun nanti.
"Kita udah sah jadi suami istri. Aku janji, akan semakin menyanyangimu, Sayang." Citra memeluk pria itu, masih di depan penghulu dan para saksi.
"Selamat ya, atas pernikahan kalian," ucap Penghulu setelah doa pernikahan usai dilafalkan..
Cafe sengaja di tutup. Mereka masih bersenang-senang di hotel yang sudah di edan. Usai ijab qobul, langsung menunju ke tempatnya. Beberapa kali gagal melakukannya di hotel. Mereka semakin bersemangat.
"Aku mandi dulu, ya? Biar gerahnya ilang." Raka berpamitan untuk ke kamar mandi.
"Iya, sayang. Aku tunggu di ranjang ya?"
__ADS_1
Sambil menunggu Raka kembali. Citra membuka akun medsosnya. Sedikit terkejut saat melihat foto mawar terpampang jelas di halaman depan sebuah majalah elektronik. Di situ tertulis artikel yang mengatakan wanita itu menjadi pengusaha tersukses dalam bidang kecantikan.
"Mawar, brengsek!!!" Citra melempar ponselnya. Kesal melihat kesuksesan mantan majikannya itu. Yang ia rampas kebahagiaannya.
"Aku gak boleh tinggal diam. Akan aku buat usaha kamu bangkrut, Mawar!" ucapnya, dengan senyum licik mengembang dari bibirnya.
Handle pintu bergerak, Raka keluar dari dalam. Dengan tubuh yang handuk yang masih melilit di tubuhnya. Menambah kesan seksi di kacamata Citra.
"Sayang, tubuh kamu makin luar biasa!" desahnya halus, memeluk tubuh pria itu dari belakang. Tangannya menelusup di bidang dada pria itu. Seketika bulu kuduknya meremang. Hasrat yang mulai memenuhi tubuhnya.
"Sayang, aku mau bicara banyak sama kamu. Kita tunda duku ya, ena-enanya. Masih banyak waktunya." Raka menyingkirkan tangan Citra dengan lembut. Kemudian, duduk saling berhadapan. Dengan wajah yang sedikit serius.
"Ada temen aku yang lihai memasak. Dia mantan chief dari hotel terkenal di Jakarta. Keknya kita bisa mempercayakan cafe sama dia, deh! Dari pada kamu susah-susah ngurusnya. Yang ada kita gak punya banyak waktu untuk bersenang-senang." Raka mulai menyusun rencananya. Merasuki pikiran Citra, yang gampang dibodohi olehnya.
"Yakin, dia bisa dipercaya?" tanya Citra ragu-ragu.
"Gini-gini." Raka membetulkan posisi duduknya. Agar nyaman saat berbincang dengan Citra. "Kita bisa Padang CCTV untuk mengawasi mereka dari rumah. Dengan begitu, mereka tidak mungkin akan macam-macam. Gimana?"
Citra nampak memikirkan ucapan Raka. Dia memang masih mencari solusi yang tepat untuk masalah Cafe. Dan saran dari Raja, sedikit mempengaruhi pikirannya untuk memakai saran itu. Selain lelah, jika harus turun langsung. Dia juga tidak ada keahlian dalam bidang itu. Terpaksa, ia menyetujuinya.
__ADS_1
"Ok, aku setuju."
Raka tersenyum menyeringai. Lagi-lagi, Citra masuk ke dalam jebakannya.