
Setelah yakin, kalau apa yang ia lihat di postingan itu benar rumah dan cafenya. Aira meminta Kinos untuk mengatur pertemuan dengan orang itu, yang diduga adalah Raka. Akan tetapi, mantan suaminya menolak. Pria itu justru berniat akan membuat acara pelelangan.
"Gimana, Ra?" tanya Kinos bingung. Ia tak mau, apa yang harusnya menjadi milik Aira, jatuh ke tangan orang lain.
"Cari tahu, di mana tempat pelelangan itu!" ujar Aira, membuat rencana. "Aku akan minta tolong pada rekan-rekan untuk membantu kita. Semakin banyak orang kita yang datang, kesempatan mendapatkan rumah dan cafe akan lebih besar."
"Good idea. Kamu cerdas, Ra. Ok, aku bakal hubungi kolega kita untuk minta bantuan ke mereka."
*********
Iklan itu tak hanya sampai pada Aira. Ibu kandungnya juga sudah tahu tentang pelelangan yang akan direncanakan oleh Raka. Wanita berdarah Sunda-Jawa itu langsung gerak cepat. Ia pun membuat rencana yang sama seperti anaknya.
"Kita harus dapatkan rumah dan cafe itu," ucapnya pada anak buahnya.
"Baik, Bu."
Dengan mendapatkan kembali cafe dan rumah itu. Mawar berharap, suatu saat nanti akan bertemu dengan putri kandungnya. Dan memberikan itu sebagai wujud permintaan maaf dirinya pada Aira.
Kerap kali mengingat kejadian itu, Mawar bersedih. Ia menyesal, tak membawa anak itu pergi. Nasi sudah menjadi bubur. Penyesalan memang datang di akhir. Dan sekarang, ia harus menebusnya dengan cara menemukan Aira.
"Bu Mawar, ada yang ingin bertemu dengan anda," ucap salah satu pegawainya, saat mereka ada di kantor.
"Suruh masuk!" sahut wanita itu, masih sibuk dengan labtobnya.
"Baik, Bu."
__ADS_1
Tak lama, pegawai itu membawa seorang wanita yang sangat dikenali oleh Mawar. Raut wajah tak bersahabat, langsung terpasang. Mawar langsung berdiri, dan menyambut kedatangan wanita itu.
"Mau apa kamu datang ke sini?" tanyanya, remeh. "Mau ngemis, karena kekayaan kamu sudah habis?" geram wanita itu, dengan tatapan tajam.
Sementara wanita itu hanya diam menunduk penuh penyesalan. Kedatangannya di tempat itu, bukan mencari keributan atau mencari keuntungan. Tetapi, ia akan menebus semua kesalahannya di masa lalu. Dengan cara, mengatakan keberadaan Aira. Dengan begitu, mereka berdua bisa segera bertemu.
"Mawar, aku mohon. Jangan usir aku dari sini!" lirih wanita itu, dengan tatapan memelas. "Aku akan menebus kesalahan aku ke kamu!" ujarnya, mengatupkan tangan.
Mawar menyunggingkan sebelah bibirnya. Rasa sakit, dipisahkan oleh orang yang ia cintai masih sangat terasa. Dan sekarang, dengan mudahnya wanita itu meminta maaf. Bahkan tanpa dosa mendatanginya. Yang masih menyimpan perih itu.
"Enak banget kamu ngomong gitu!!" teriaknya, sakit. Menunjuk wajah Citra. "Kamu gak pernah tahu, sakitnya aku seperti apa? Menahan rindu dengan anakku." Matanya mulai berkaca-kaca. Jika mengingat wajah mungil bayinya, saat terakhir ia tinggalkan. "Kamu gak tahu!!" tandasnya, menebah dada.
"Dan sekarang, kamu datang seperti seseorang tanpa dosa. Ingin menebus kesalahan kamu." Mawar melirik sinis Citra. Mengelilingi tubuh wanita itu, yang sekarang tubuhnya gemetar. Matanya mengembun, sorot penyesalan tergambar jelas di sana. "Apa yang bisa kamu lakukan untuk menebus kesalahan kamu itu!!!" tanyanya menunjuk wajah Citra.
"Gimana caranya?" sentak Mawar, yang kembali emosi. Melihat Citra hanya diam.
"Dengan cara mempertemukan kamu sama Aira," jawabnya, terbata. Mawar membelalak kaget. Bahkan, wanita itu mendekati Mawar. Sangat dekat.
"Apa?"
"Iya, Mawar. Aku sudah menemukan di mana Aira. Karena itu, aku datang ke sini. Aku akan mempertemukan kalian," jawab Citra, tersenyum getir.
"Katakan, di mana anukku?" ujar Mawar, menggoyang-goyang tubuh Citra. Wajahnya penuh dengan harapan yang menggebu.
"Iya, Mawar. Aku akan bawa kamu ke Aira."
__ADS_1
***************
Mereka berdua sudah lebih tenang. Mawar mempersilahkan Citra untuk duduk. Bahkan, ia memperlakukan wanita itu seperti tamunya sendiri. Berbagai makanan tersaji di meja.
"Dimakan, Cit?" ucap wanita itu mempersilahkan.
"Terima kasih, Mawar." Mawar membalasnya dengan senyuman. Bersyukur, Tuhan masih memberikan ia kesempatan untuk berubah. Dia tidak mau membuang waktu lagi. Sebelum semua terlambat.
"Sekarang, katakan! Di mana anakku?" ujar Citra, sedikit tegas.
"Kamu sangat dekat dengannya, Mawar. Bahkan, ia ada dalam bagian diri kamu. Dia sangat dekat," jawab Citra, mengundang tanya Mawar.
"Maksud kamu?"
Citra tersenyum. Seraya menatap sebuah poster berukuran besar yang ada di dinding ruangan itu. "Namanya besar berkat kamu, Mawar," lirih Citra bangga melihat Aira yang sekarang.
"Maksud kamu apa, Cit?" Mawar belum mengerti arah pembicaraan wanita itu.
"Kettyera, apa kau mengenalnya?" tanya Citra, membuang pandangannya ke arah Mawar.
"Tentu saja aku kenal. Dia adalah brand ambassador produk-produk aku. Ada apa dengan dia?" jawab Mawar, balik bertanya.
Citra kembali tersenyum. Dan kali ini, Mawar bisa mengartikan senyuman wanita itu. "Kettyera, apa dia---"
"Aira," pangkas Citra, dengan sangat yakin.
__ADS_1