Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku

Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku
Siapa, Mawar?


__ADS_3

Rasa tak percaya mendera dalam diri Mawar, kalau Aira sudah mati. Tetapi, tidak ada yang bisa ia lakukan selain menangisi nasibnya yang malang. Di saat ia sudah siap untuk membawa putrinya. Kabar buruk harus ia dengar. Kalaupun Citra berbohong, pada siapa ia akan bertanya. Tidak akan ada satupun orang yang akan menganggap dirinya ada.


Mawar hanya bisa menelan kekecewaan yang pahit. Tujuannya datang ke tempat itu tak membuahkan hasil. Terpaksa ia meninggalkan tempat itu dengan penuh rasa bersalah.


"Bu, Ibu gak apa-apa?" tanya dua orang bodyguard yang baru saja datang.


"Bawa saya pergi dari sini!" sahut Mawar dengan lemas.


"Baik, Bu." Di balas dengan salah satu dari mereka. "Jo, kamu bawa mobil Ibu. Ibu biar saya yang bawa." Kemudian beralih pada temannya.


Mobil sedan keluaran terbaru, berwarna merah melenggang pergi dari kediaman Abdullah di susul dengan mobil sedan berwarna putih. Di saat yang bersamaan mobil yang membawa Aira dan Suraj memasuki pintu pagar rumah itu.


"Keknya habis ada tamu," tebak Suraj, sekilas melihat dua mobil itu baru saja masuk ke dalam.


"Temen-temen mami, mungkin." Di jawab oleh Aira, tidak yakin. "Kamu mau ikut masuk?" tanyanya pada Suraj, saat mobil sudah berhenti.


"Kalau kamu mengizinkan, aku ikut masuk ke dalam," balas Suraj, meminta izin.


"Jangan deh, sayang. Lebih baik, kamu cek aja kameranya. Kasih kabar aku, ya?" usul Aira, tersenyum manis pada pria itu.

__ADS_1


"Ya udah, kalau ini yang terbaik. Aku akan secepatnya kasih kabar. Kamu hati-hati ya, sayang? Muachhhhh." Satu kecupan ia hadiahkan di kening Aira. Wanita yang sangat ia cintai. Wanita itu tersipu malu, menyembunyikan wajahnya ke samping. "I love you," sambung Suraj, masih membuat Aira berbunga-bunga.


"I love you more," balas Aira, langsung turun dari mobil.


Baginya, Suraj bukan saja memberi warna dalam hidupnya. Tetapi, sumber kebahagiaan untuk dirinya. Beruntung, di saat nasib buruk menimpa asmaranya. Tuhan mendatangkan obatnya begitu cepat. Rasa cinta yang dulu banyak untuk Raka. Perlahan terkikis, di gantikan oleh cinta baru.


Bersama Suraj, dia bisa melawan apapun yang menyakitinya. Termasuk dua manusia laknat yang sedang duduk resah di ruang tengah.


"Brengsek, sial!!! Aku gak nyangka kalau Mawar akan datang ke rumah ini!" ujar Citra geram, ia merutuki kedatangan Mawar yang menurutnya sangat membahayakan dirinya.


"Jadi, Mawar itu adalah ibu kandung Aira?" tanya Raka, mengulang kalimat Citra.


"Iya, sayang. Dan yang bikin kesel, si brengsek itu sudah menjadi kaya raya." Di sambung oleh Citra. "Ingat, jangan sampai Aira tahu, tentang Mawar," ancam Citra pada berondongnya.


Mereka berdua sedikit gelagapan menjawab pertanyaan Aira. Tidak menyangka, kalau Aira akan pulang secepat itu.


"Kamu gak perlu tahu, siapa Mawar? Itu bukan urusan kamu!" tandas Citra, tak hilang akal. "Kok udah pulang, emang cafe siapa yang jaga?" sambung wanita itu dengan tatapan menyelidik.


"Itu juga bukan urusan Mami. Taunya Mami kan yang penting dapet duit," balas Aira tak mau kalah. Ia tidak mau tertindas lagi. Sudah cukup penderita yang ia alami selama ini. Untuk cafe, dia tidak akan menyerahkan begitu saja semua hasilnya.

__ADS_1


"Kamu makin hari makin berani sama mami. Apa udah hilang rasa hormat kamu pada orang tua, hah!!" sarkas Citra geram. Tak terima jika Aira melawannya.


Citra beranjak tempat duduknya. Mendekati Aira yang masih menatap kesal ke arahnya. "Apa kamu lupa, Aira? Aku ini mami kamu?" tunjuk Citra tepat di depan wajah Aira.


"Aira gak akan pernah lupa untuk hal itu." Aira menurunkan telunjuk Citra. "Yang lupa itu mami. Lupa dengan perannya sebagai orang tua. Yang seharusnya melindungi anaknya. Bukan malah menyakiti anaknya!" Dengan tegas ia membalikkan ucapan Citra.


"Tutup mulut kamu, Aira!" bentak Citra, tak terima. "Pergi kamu dari sini!" Kemudian mengusir Aira dari hadapannya.


Lagi-lagi Aira bisa tersenyum puas, dia terlihat tegar di depan Citra. Bukan, bukan tujuannya untuk melawan wanita itu. Dia hanya ingin menunjukkan pada Citra, apa yabg dilakukan itu salah. Dan berharap, akan segera berubah.


************


Sesampainya di rumah, waktu sudah magrib. Suraj memilih membersikan diri terlebih dulu, setelah itu menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim. Dalam doanya, dia hanya meminta. Semoga Tuhan memberikan jodoh terbaik untuknya. Dan di permudah jalannya untuk bersatu dengan Aira.


Usai sholat, Suraj memutuskan untuk ke ruang kerjanya. Untuk mengecek rekaman kamera yang ia letakkan di kamar Citra. Setelah labtob ia buka, tombol power sudah di aktifkan. Layarnya tidak mau nyala.


"Ini kenapa, kok gak nyala?" ucapnya sedikit panik. "Apa mungkin ngedrop?" gumam pria itu mencari masalah pada benda itu. "Coba aku cek dulu, deh."


Ia menghubungkan dengan charger, berharap benda itu masih bisa di pergunakan. Sedetik, dua detik, layar benda menyala.

__ADS_1


"Alhamdulillah, akhirnya nyala juga."


Segera ia mainkan jemarinya untuk mencari file penghubung ke kamera itu. Setelah menemukannya. Ia mengklik tombol ok. Dan betapa terkejutnya Suraj melihatnya.


__ADS_2