
Mereka bertiga memutuskan untuk makan di restoran yang letaknya tidak jauh dari hotel tempat audisi. Mata Mawar tak lepas memperhatikan wajah Aira, yang mengingatkan wanita itu pada anaknya.
"Say, kamu kenapa kok melamun gitu? Makanan cuma di aduk-aduk aja," ujar Vale memperhatikan kegundahan sahabatnya itu.
"Eh, gak ada kok Say. Maaf ya jadi gak fokus gini," sahut Mawar tak enak hati pada Vale dan Aira. "Lebih baik kita bahas aja kerja samanya," sambungnya kembali memandang wajah Aira.
"Iya, Say. Kamu beneran tertarik memakai anak saya untuk meng-endorse produk-produk kamu?" tanya Mawar lagi tidak sabar mendengar berita baik itu.
"Iya, aku sangat tertarik sekali memakai Ketty menjadi salah satu brand ambassador produk aku. Nanti, biar anak buah aku yang akan ngirim barang-barangnya. Kalau soal royalti. Aku akan kasih tiga puluh juta untuk sekali tayang," sahut Mawar antusias.
"Tiga puluh juta?" Aira mengulangnya tak percaya.
"Iya, sayang. Tiga puluh juta. Apa itu kurang?" Mawar menanggapinya dengan terkejut, melihat ekspresi wajah Aira yang sulit untuk di tebak. Antara senang atau kurang puas.
"Ya Allah, itu udah lebih dari cukup. Bahkan kebanyakan untuk ukuran selebgram baru kayak saya," jawab Aira gugup. Jantungnya berdegup kencang, mendengar bayaran yang fantastis yang ditawarkan oleh Mawar.
"Gak sayang. Itu sudah bayaran yang pas menurut aku. Kaku juga bisa aplod di akun tok tok kamu yang followersnya udah lebih satu juta orang," jawab Mawar lagi. Menjelaskan masalah royalti pada Aira.
"Iya, Sayang. Kamu pantas mendapatkan itu. Dan mami yakin, produk yang kamu endors akan laku keras, nantinya. Mengingat ini kan berkaitan dengan konten yang kamu buat," sambung Vale menengahi. Ia paham betul dengan keluguan Aira.
__ADS_1
Sungguh anugerah yang luar biasa yang dirasakan oleh Aira. Untuk pertama kalinya ia mendapat pencapaian yang luar biasa. Bekerja dengan bayaran yang fantastis. Dengan kemampuan baru yang ia miliki.
Saking gugupnya, ia tak tahan untuk pergi ke kamar mandi. Meninggalkan Mawar dan Vale berdua. Dua wanita dewasa itu berbincang banyak tentang bisnis-bisnis mereka. Tentunya, menyempil sedikit masalah pribadi keduanya.
"Jadi, suami kamu belum pulang juga dari Australia?" tanya Mawar pada sahabatnya itu, yang ditinggal merantau oleh suaminya.
"Belum," jawab Mawar menghembuskan napasnya panjang. "Kamu tahu sendiri, kan. Disana seperti apa? Kadang aku merasa kesepian. Gak ada temen ngobrol di rumah."
"Sendiri?" Mawar mengrenyit bingung. Bukankah ada Ketty anaknya yang menemani. Tapi kenapa Vale bilang sendiri.
"Iya, aku sendirian di rumah. Kamu mah enak, banyak yang nemenin kamu. Termasuk assisten kamu itu. Oh iya, dimana dia. Kok gak kelihatan?"
"Di Hongkong, aku akan buka cabang di sana. Dan semuanya aku serahkan sama dia." Mawar menatap kosong gelas berisi cairan biru muda di hadapannya. Merasakan kerinduan yang tak berujung dan tak bertuan. Di mana akan ia alamatkan rindu itu. Saat ia sendiri tidak tahu keberadaannya.
Mawar menceritakan semuanya. Dari awal ia diusir dari Abdullah dengan kesalahan yang tidak ia perbuat. Hingga dirinya sukses dan ingin menjemput putri kecilnya dulu. Kenyataan berkata lain. Ia kehilangan jejak Aira. Sayang, satu hal yang tidak ia sebutkan pada sahabatnya. Nama orang yang sedang ia cari.
"Jadi itu yang mengganjal pikiran kamu? Kenapa kamu gak sebar aja foto anak kamu itu di media massa dan elektronik. Aku yakin, kamu bakal menemukan dia," usul Vale, menemukan ide.
"Gak, aku takut Vale."
__ADS_1
"Takut?" tanya Vale lagi bingung.
"Aku gak pernah tahu, apa yang diceritakan oleh Citra pada anakku. Bisa jadi, dia menceritakan keburukan aku. Yang tidak pernah aku lakukan. Kalau sampai itu terjadi, aku yakin dia akan membenciku. Di tambah, aku datang di waktu yang tidak tepat. Sudah terlambat semuanya. Aku kehilangan semuanya."
"Kamu yang sabar, ya? Aku yakin, secepatnya kamu akan menemukan anak kamu."
*******
Di toilet, Aira nampak buru-buru untuk keluar dari sana. Hingga ia menjatuhkan benda yang tidak pernah lepas dari lehernya. Sampai seorang wanita berhasil menemukannya.
"Ini pasti punya mbak yang tadi." Tanpa membuang waktu lagi, wanita itu bergegas mengejar Aira. "Mbak!" teriaknya memanggil. Namun, Aira tidak mendengarnya dan terus berjalan keluar. Hingga di sebuah persimpangan, wanita itu menabrak seseorang. Benda yang ia pegang jatuh ke lantai.
"Aduh!!" keluh wanita itu, jatuh.
"Maaf-maaf, Mbak saya gak sengaja." Perlahan pria yang menabraknya membantu wanita itu untuk berdiri.
"Gak apa, Mas. Saya buru-buru tadi. Mau ngejar mbak-mbak itu. Mau ngembaliin." Wanita itu menjeda kalimatnya. Mencari benda yang ia pegang tadi ke lantai. Setelah berhasil menemukannya. Ia ambil, dan ditunjukkan pada pria itu. "Ini!"
Begitu melihat kalung liontin yang dipegang wanita itu, pria tadi terkejut dan langsung merebutnya. "Mbak dapat dari mana benda ini?" tanyanya antusias, membuat wanita itu sedikit ketakutan.
__ADS_1
"Saya nemu. Punya mbak-mbak tadi," jawabnya setengah terbata.
"Aira! Kamu ada disini, sayang?"