
Aira buru-buru kembali ke mejanya, yang sudah di tunggu oleh Vale dan Mawar. Mereka berdua sudah siap untuk pergi, mengingat hari sudah semakin larut.
"Udah, sayang?" tanya Vale tersenyum manis padanya.
"Udah, Mam. Kita pulang sekarang?" jawab Aira, bertanya balik.
"Iya, kita pulang sekarang." Vale beralih memandang Mawar. "Kami duluan ya?" Kemudian berpamitan pada wanita itu.
"Oh iya, aku juga mau pulang. Udah capek banget soalnya."
Mereka melakukan cipika-cipiki. Saat menyentuh tubuh Aira, Mawar merasakan getaran itu semakin kuat. Hingga ia sendiri bertanya dalam hati. "Siapa gadis ini?"
"Kita pamit, ya?"
Daaaa
Vale dan Aira mulai menjauh dari tempat itu. Tinggalkanlah Mawar yang masih menatap kepergian mereka berdua. Rasa sesak, tiba-tiba memenuhi dadanya. Ia ingin menangis, tapi bingung tangisnya untuk siapa. Hingga ia dikejutkan oleh kedatangan Suraj yang terlihat sedang mencari-cari sesuatu.
Bughhh
Tak sadar, tubuhnya menyenggol Mawar. Suraj terkejut, melihat wanita itu berada di sana. "Mami Mawar?" tunjuknya, kemudian ikut mendaratkan tubuhnya di kursi bekas Aira duduki tadi.
"Suraj? Kamu ngapain kayak orang bingung? Lagi nyari siapa?" cecar Mawar membalas sapaan dari Suraj.
"Mi, Suraj mau nyari Aira. Iya Aira," sahutnya antusias. Mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu.
"Aira ada di sini?" sambut Nawar dengan tak sabar. "Dimana dia? Aku ingin bertemu dengan anakku," sambung Mawar terisak.
__ADS_1
"Iya, Mi. Aku yakin Aira ada di sini. Tapi, dimana dia?" Suraj masih mencari-cari. Ekor matanya masih mengelilingi tempat itu. Akan tetapi, tidak menemukan wanita yang ia cari. "Mi, aku coba cari di luar, ya?" Kemudian beranjak, mencari ke tempat lain.
Suraj keluar, tepat di lobi cafe. Bersamaan dengan itu, mobil mewah keluaran terbaru melintas. Mobil berwarna merah, yang ditumpangi oleh Vale dan Aira melenggang pergi meninggalkan cafe. Takdir belum mempertemukan mereka. Sampai letih, Suraj mencari. Aira belum berhasil ia temukan.
"Gimana, Suraj? Apa kamu berhasil menemukan anakku?" tanya Mawar yang menyusulnya.
Suraj menggeleng. "Saya gak berhasil menemukannya," lirihnya pilu.
"Ya Tuhan, dimana sebenarnya Aira?"
***************
Tiga tahun sudah mereka lalui penuh dengan perjuangan dan air mata. Terlebih Ketty, yang namanya semakin melejit di kancah model ternama di Indonesia. Aset kekayaannya sudah di mana-mana, dengan di menegeri oleh Kinos. Wanita itu berhasil menjadi selebgram dengan bayaran yang mahal. Bahkan, sekarang sering diundang di beberapa stasiun televisi.
Selain menjadi model dan selebgram. Aira juga mengembangkan kekayaannya di bidang bisnis kuliner. Sudah beberapa cafe ia buka di ibukota. Untuk mengobati rasa rindunya dengan cefe mami Citra.
"Ra, kamu udah sukses sekarang? Apa yang akan kamu lakukan, sekarang? Untuk membalas sakit hatimu pada mami dan mantan suamimu?" tanya Kinos, saat mereka berada di kamar rumah Aira.
Pria itu mengangguk, dalam diam Kinos menganggumi sosok Aira yang tidak mudah menyerah. Sudah beberapa kali ia jatuh, karena persaingan di dunia pekerjaannya. Tapi, wanita itu cukup ulet untuk terus bertahan.
"Ya, aku tahu. Tapi, udah saatnya kamu tunjukkan jati diri kamu di depan mereka," usul Kinos, yang dibenarkan oleh Aira.
Aira memang punya rencana itu. Akan menemui Raka dan Citra, dengan penampilannya yang sekarang. Tapi, dia belum cukup berani untuk itu. Rasa sakit itu masih sangat memupuk hatinya. Meninggalkan perih yang sampai saat ini belum terobati. Kadang, ia berpikir. Apa mungkin, dia bukan anak kandung Citra. Sehingga diperlukan yang tak layak di depan wanita itu.
"Tapi dia ibu kandung kamu, Ra. Ada baiknya kamu temui mereka sekarang. Tunjukkan pada mereka, kalau kamu bisa sukses. Seperti saat ini," sambung Kinos lagi. Yang mulai mendekat.
"Gampang lah, Kak. Nanti kalau aku udah siap. Aku minta Kakak aturkan jadwal untukku. Hmm, Kakak sendiri gimana?" Aira bertanya balik pada Kinos, yang akhir-akhir ini mengeluh tentang perasaannya.
__ADS_1
"Aku? Ada apa sama aku, Ra?" Kinos tampak gugup, saat ditatap oleh Aira secara intens.
Pria yang dulu gemar memakai pernak-pernik layaknya seorang perempuan. Sekarang, sudah mulai berkurang. Di tambah, gayanya yang lembek. Sekarang sudah terlihat garang. Entah apa yang mendorong pria itu untuk berubah.
"Kakak itu tampan, gak pantes make yang ginian!" seloroh Aira, membuang syial yang melingkar di lehernya. "Kakak itu gagah, gak pantes duduknya kayak gini!" sambungnya membenarkan cara duduk pria itu.
Perhatian kecil itulah, yang mendorong Kinos untuk berubah. Aira, dia adalah penyebab pria itu sembuh. Bahkan, lenggak-lenggok cara berjalannya sudah tidak ia tunjukkan lagi.
"Gaya pakaian Kakak juga harus di rubah," protes wanita itu lagi. "Aku lebih suka liat Kakak yang macho. Yang cool, dari pada yang kek gini!"
Degup jantung Kinos benar-benar sangat kencang. Beberapa tubuhnya di pegang oleh Aira. Tak pernah ia rasakan sebelumnya, wanita itulah satu-satunya yang membuat jiwa kelakiannya kembali.
"Jadi kamu suka aku yang gagah dan cool?" tanya Kini gugup. Aira mengangguk. "Jika aku berubah macho, apa kamu akan menyanyangi aku?"
Visual Aira, saat pertama kali dandan. Hehehe nyari yang buluk gak Nemu....
Saat dia jadi selebgram 😍😍😍😍
Suraj yang lagi nongkrong di pasar 😍😍😍😍
__ADS_1
Raka yang lagi tebar pesona 😂😂😂
Visual Citra belum dapat ada yang punya saran