
"Aira," balas Raka mendekat. Namun sorot matanya tak lepas memandangi tubuh Aira. "Aku cuma mau ngucapin terimakasih, kamu udah buatin aku minuman itu."
Di pandang dengan tatapan aneh, Aira menjadi gugup. Tubuhnya terasa tak nyaman. Bergerak pun tidak bebas. Dengan gugup, ia pun menjawab, "Iya. Aku ke kamar dulu."
Buru-buru Aira melangkahkan kaki meninggalkan tempat itu. Namun, pergerakannya tertahan saat Raka menarik tangannya dari belakang.
"Tunggu, Ra!" serunya, kembali menyeringai. Masih dengan tatapan aneh. "Kenapa kamu takut ketemu sama aku. Aku ini suami kamu, Ra. Berhak atas diri kamu," sambung Raka, setelah berdiri di depan wanita itu.
"Kamu mau ngapain!!" tandas Aira, mundir satu langkah. Saat Raka menyentuh wajahnya. "Jangan macam-macam, kamu!" sambungnya dengan mata yang memerah, karena takut, gugup. Mendera jadi satu.
"Kenapa, Ra?" Dengan santainya, Raka menyusuri wajah Aira dengan telunjuknya. Menyentuh lembut, dengan tatapan penuh hasrat. Ekor mata Aira tak lepas memandangi kemana jari Raka bergerak.
"Lepas!!!" sentaknya, menghentakkan tangan Raka ke belakang. "Kamu gak berhak sedikitpun atas aku!" tunjuk Aira, emosi. "Jangan berani menyentuh tubuhku, batang secuil pun!" tandas Aira, memberanikan diri.
__ADS_1
"Hahaha, kamu bisa apa? Setelah aku berbuat ini." Raka memilin tangan Aira ke belakang, dengan bebas memeluk tubuh Aira dari belakang. Wajahnya, mendarat di pundak Aira. Mulai mengendus-ngendus jenjang leher wanita itu. Napasnya yang memburu, menghangat di kulit Aira. Meninggalkan rasa jijik terhadap pria itu. Sekuat tenaga, Aira memberontak. Mencoba melepaskan diri dari cengkraman pria bajingan itu. Akan tetapi tenaganya tak cukup kuat melawan Raka.
"Asal kaku tahu, Ra. Sudah lama aku menginginkanmu. Jadi, aku harap. Menurutlah! Izinkan aku memberikan nikmat yang luar biasa untukmu," sambang Raka dengan nada serak. "Aku yakin, setelah ini. Kamu akan ketagihan. Akan memintanya lebih dulu." Raka tertawa lepas, membayangkan kelinci kecil yang ada dalam dekapannya. Mengiba, menginginkan kehangatan darinya. "Argggh, aku sudah gak sabar untuk segera merasakannya," desis Raka, dengan napas memburu.
Di tempat lain, perasaan cemas masih sangat kental mengisi hati Suraj. Mengendara pun tak fokus. Entah mengapa, ia kepikiran Aira. Dan merasa wanita itu sedang dalam bahaya.
"Ya Tuhan, kenapa aku gak tenang. Semoga tidak terjadi apapun sana dia."
Walau perasaannya diliputi rasa khawatir dan cemas. Tak serta-merta membawa Suraj kembali ke rumah itu. Mobilnya justru berhenti di halaman rumahnya. "Semoga Raka tidak berbuat macam-macam sama Aira." Suraj turun dari mobil, dengan menggenggam ponsel ditangannya. Ia berniat akan menghubungi Aira. Nadanya tersambung, sayup ia mendengar ada suara dering ponsel dari arah lain. Memaksa ia untuk menghentikan langkahnya.
Suraj kembali masuk ke dalam. Melenggang pergi menuju ke rumah Aira. Wanita itu masih terisak dalam cengkeraman Raka. Yang lebih parahnya lagi, Aira sudah terbaring di sofa dengan tangan yang terkunci. Tubuh Raka berada di atasnya. Sudah siap untuk mencicipi ranum bibir wanita itu.
"Percayalah sayang, sakitnya hanya sebentar kok. Setelah itu, kamu akan merasakan nikmat yang luar biasa," bisik Raka di telinga Aira.
__ADS_1
"Lepasin aku, Raka. Aku mohon!!" Aira meronta-ronta, mengiba untuk dibebaskan dari pria itu. "Aku akan menukarnya dengan uang. Berapa pun akan aku kasih. Yang penting, lepasin aku," sambung Aira, masih mengiba.
Dengan wajah tanpa dosa, Raka tersenyum lebar. "Sayangnya, aku tidak butuh uang kamu. Aku sudah mendapatkan dari mamimu. Yang aku butuhkan adalah mahkotamu, sayang." Sembari mengendus wajah Aira, Raka tersenyum puas. "Aku ingin menikmati bercinta dengan perawan, seperti kamu." Bibirnya menyentuh dagu Aira. Dengan lembutnya, naik ke atas. Hingga berhenti di ranum bibir wanita itu.
"Kata orang, sensasinya luar biasa. Beda banget sama yang udah oblong-oblong kayak Citra," ucapnya dengan nada menggoda.
Suraj melajukan mobilnya dengan sangat cepat. Ia sudah tak tahan, menahan gemuruh dalam dadanya. Perasaan itu semakin kuat, membayangi setiap detik matanya berkedip. Tujuannya hanya satu, Aira.
Sementara Suraj berjuang untuk menyelamatkan dirinya. Raka sudah berhasil membuka kemeja yang dikenakan oleh Aira. Menampakkan pemandangan yang indah, yang sedap dipandang mata bajingan seperti dirinya. Walau masih terbungkus bra, tak dapat dipungkiri. Gunung kembar perawan dan wanita yang sudah sering terjamah itu beda. Setelah berhasil, membuka pengait branya. Pitung kecil yang berwarna merah jambu, melambai ingin segera di jamah.
Rintihan dari Aira, justru semakin memacu adrenalinnya untuk melakukan yang lebih dari itu. Tubuh Raka langsung menegang. Apalagi pedang yang sudah ia buka, menjulang sempurna siap berpetualang di area kenikmatan milik Aira.
"Lepasin aku, Raka!!!!!" teriak Aira, kenceng.
__ADS_1
Raka hanya tertawa geli, melihat ketakutan yang terdapat di wajah polos itu.
"Sabar, sayang. Aku akan melakukan pemanasan!!!"