Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku

Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku
Tak sepadan


__ADS_3

Tak berapa lama, ponsel Kali berdering. Ternyata uang menelpon adalah Aira. Segera pria itu menjawabnya. "Iya, Non. Non Aira dimana?" tanya pria itu bingung. Mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu.


Dengan menahan tangis, Aira pun bersuara. "Mang, Sora udah pulang. Mang Jali nyusul aja ya? Aira diantar sama taksi online. Jangan lupa antar Rena sama Ayu duku," jawab wanita itu dengan terbata. Sambil mengidap sisa-sisa air mata yang masih membasahi pipinya.


Bukan pilihan yang mudah, pada akhirnya Aira memilih pergi dari tempat itu tanpa memberi kabar pada Suraj. Mengingat, ucapan Nadine tadi. Membuatnya harus mengambil keputusan itu.


*********


Aira masih ada di ruang tengah, dimana ruangan itu tempat untuk menyimpan barang-barang dari cafe. Saat ia sedang berbenah, seorang wanita dengan wajah sembab datang mendekat.


"Aira," lirih wanita itu, dengan suara serak.


"Mbak Nadine," balas Aira menoleh. Ia terkejut melihat penampilan wanita itu yang terlihat kusut.


"Aku mohon sama kamu. Tinggalkan Suraj," lirih Nadine mengiba. "Aku tahu, itu berat untukmu." Nadine mendekat. Meraih tangan Aira dengan mengiba. "Aku mohon tinggalkan dia. Aku sangat mencintainya. Dan Suraj, berubah setelah dia kenal sama kamu. Dia gak peduli lagi sama aku." Dengan liciknya, Nadine merasuki pikiran Aira yang tidak tahu apapun tentang mereka berdua.


"Maksud Mbak Nadine apa? Apa kalian pernah ada hubungan?" tanya Aira polos.


"Suraj adalah mantan kekasihku, Aira. Dia meninggalkan aku, karena dia kagum sama kamu. Tanpa ada masalah sedikitpun dengan kami berdua," kilahnya, mulai berkata bohong. Untuk menyakinkan Aira.


"Padahal kami sudah berencana akan menikah," sambung Nadine pasang wajah sendu.

__ADS_1


"Apa kamu gak kasihan sama Suraj?" tandas Nadine, tersenyum getir. "Kalian beda. Tidak sepadan." Nadine menunjuk tubuh Aira. "Status kalian tak sebanding."


Ucapan Nadine menohok hati Aira. Ia merasa kecil, dan tidak pantas untuk Suraj. Beda sekali dengan Nadine yang statusnya jauh lebih baik dibanding dia.


"Kalau kamu mencintai Suraj, kamu harus jauhi dia. Kasihan, dia akan malu. Jika berdampingan dengan kamu."


***************


Percakapannya dengan Nadine, membuat Aira sadar. Benar, mereka berbeda kasta. Suraj adalah seorang putra bangsawan dan pengusaha ternama di kota itu. Di tambah, profesinya sebagai seorang dosen. Sangatlah tidak pantas jika bersanding dengannya yang hanya seorang biasa. Tidak memiliki gelar ataupun pangkat. Karena itu, Aira memutuskan untuk pergi tanpa pamit lebih dulu dengan Suraj.


Aira memutuskan untuk pulang, meninggalkan kebingungan Suraj yang terus mencari keberadaannya. "Ya Tuhan, dia tidak ada dimana pun. Aku harus nyari kemana?" Suraj, mulai putus asa. Berkeliling mencari keberadaan sang kekasih.


"Gak ketemu, sayang?" Yuni yang juga nyari, bertanya pada anaknya.


Disela obrolan mereka berdua, Jali mendekat. Tak tega melihat Suraj yang terlihat sibuk mencari majikannya.


"Mas Suraj, sebenarnya Non Aira sudah pulang. Baru aja nelpon Jali," ucapnya tak enak hati.


"Hah! Pulang?" Siraj justru terkejut mendengarnya. Menangkap sinyal aneh pada wanita itu. "Kok gak pamit sama saya, Mang?"


"Iya, buru-buru katanya?" ucap Jali lagi.

__ADS_1


"Ya sudah Mang, terimakasih ya infonya." Siraj terlihat lemas, bingung, dengan apa yang menimpa kekasihnya. Padahal, mereka tidak sedang ribut. Tetapi Aira terlihat menghindar darinya.


"Apa kalian berantem?" Yuni ikut bersuara. Tidak ingin terjadi apapun dengan hubungan mereka.


"Gak, Mi. Suraj baik-baik saja." Dijawab jujur oleh Suraj.


"Apa mungkin kejadian tadi, yang menjadi alasan Aira pergi." Yuni menduga-duga, mengaitkan kejadian Nadine tadi dengan kepergian Aira.


"Gak mungkin, Mi. Aira bukan tipe orang yang mudah cemburu. Apalagi, jelas-jelas Suraj menolak Nadine, tadi." Dipatahkan oleh pendapat Suraj, yang mengatakan sifat Aira yang sesungguhnya.


"Lebih baik kita susul aja, sayang. Mami takut terjadi sesuatu sama Aira," usul Yuni yang merasa khawatir.


"Iya, Mi. Kita pergi sekarang."


Setelah berpamitan pada Alea, mereka segera pergi meninggalkan rumah itu. Jalanan sudah sedikit senggang. Sehingga perjalanan mereka tak terhambat. Akan tetapi, saat masih setengah jalan menuju ke rumah Aira. Ponsel Suraj berbunyi. Wajah Suraj langsung berubah serius mendapati nama tukang servis itu yang menghubunginya.


"Iya, Wol. Ada apa?" Suraj menjawabnya. "Gue di jalan. Apa ada masalah?" Wajahnya mulai tegang. "Hah, serius kamu." Seketika rasa tegang itu mencair, saat orang itu mengatakan kalau kameranya sudah bisa di ambil. "Gue ke sana sekarang!" Suraj bisa bernapas lega. Kamera yang menyimpan bukti itu sudah berhasil dibetulkan.


"Mi, Suraj bawa berita gembira Mi," ujarnya girang.


"Iya, mami udah denger. Alhamdulillah, akhirnya semua kebenaran itu bisa terungkap. Mami seneng dengernya." Yuni ikut larut dalam kebahagiaan itu.

__ADS_1


"Iya, Mi. Suraj udah gak sabar, ingin memberi tahu ke Aira."


__ADS_2