Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku

Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku
Akhirnya, aku menemukannya


__ADS_3

"Astaga, mereka datang. Aku harus gimana ini." Aira mencari tempat yang nyaman untuk sembunyi. Namun, sebelumnya ia mengambil kamera yang jatuh itu. Untuk diamankan. Berharap, masih bisa berfungsi dan akan memberikan hasil yang maksimal.


..... "Dimana anak itu?" Citra nampak kebingungan mencari Aira yang tak berhasil ia temukan di kamarnya.


"Udahlah gak, gak penting sayang. Untuk apa juga nyariin tuh anak, yang ada bikin capek aja," sahut Raka yang mulai kesal. "Kita ke kamar aja, yuk!" serunya mengajak wanita itu masuk ke kamar.


Citra membuka pintunya, namun tidak sampai menempel ke tembok. Dan di balik situ, Aira bersembunyi dengan perasaan harap-harap cemas, ia berharap bisa selamat dari dua orang itu.


"Sayang, kita main di kamar mandi, yuk!" Raka menarik tangan Citra, menuju ke kamar mandi.


"Tunggu, sayang. Kita belum tutup pintunya, loh." Citra memalingkan wajahnya ke belakang. Ia merasa ada seseorang yang baru saja keluar dari sana.


"Biar aku aja yang menutupnya. Kamu siap-siap gih!!! Udara di luar begitu panas. Asyik kalau sambil berendam di bathtub."


"Ok, sayang."


Raka berjalan kembali ke arah pintu. Menutupnya rapat-rapat, tak lupa menguncinya dari dalam. Meski masih sangat penasaran dengan Aira. Ingin menikmati tubuh wanita itu. Sesegera mungkin, pikiran itu ia buang jauh-jauh. Kesempatan itu, sudah semakin sulit ia dapatkan. Kecuali dengan cara, memaksanya.


Usai menutup pintunya, Raka menyusul Citra. Yang sudah berdiri di bawah derasnya air shower dengan tubuh polosnya. Sontak, membuat jiwa kelakiannya meronta. Tak ingin membiarkan terlalu lama. Mangsa yang sudah ada di depan. Raka pun mendekat. Memeluk wanita itu dari belakang.


"Kamu selalu menawan di mataku, sayang," bisik Raka menyentuh lembut jenjang leher Citra dengan bibirnya.


"Puaskan aku, malam ini sayang?" balas Citra dengan suara meremang. "Kita harus rayakan ide brilian kita," sambung wanita itu tersenyum puas.


"Harus, sayang."

__ADS_1


Raka menyusuri putihnya lengan Citra dengan bibirnya. Dari ujung jemarinya, sampai ke pundak wanita itu. Seketika bulu kuduknya meremang. Sentuhan kecil dari pria itu, tak dapat lagi ia tahan. Meminta lebih hanya dari sekedar itu.


"Are you ready, sayang?"


************


Aira bisa bernapas lega, berhasil keluar dari kamar itu. Yang lebih membuatnya senang adalah, ia berhasil membawa kamera itu dari sana. Tinggal ia serahkan pada Suraj, jika mereka bertemu.


Malam yang penat, berlalu begitu saja. Di gantikan cerahnya hari yang dihiasi sinar mentari yang menghangatkan kulit. Dan itu yang menjadikan Aira lebih bersemangat lagi. Ia berkutik di dapur untuk membuat sarapan. Selain untuk dirinya, juga untuk diberikan kepada Suraj.


"Aku yakin, dia pasti suka sama masakan ini." Senyum menyeringai, kembali merekah di bibir wanita itu.


Dari arah ruang tengah, Citra memanggilnya. "Ra, suami kamu demam tuh! Urusin gih! Mami mau keluar dulu," pinta wanita itu dengan entengnya.


"Kamu memang sudah gak bisa diatur, Ra. Terserah kamu! Kalau Raka sakit, semua orang akan menyalahkan kamu. Bukan mami," sahut Citra tak hilang akal. "Mau kamu urus apa gak, itu terserah kamu!" Dengan entengnya Citra mengatakan itu. Kemudian berlalu pergi meninggalkan Aira dalam kebimbangan.


"Apa-apaan sih, mami ini. Selalu aja menang sendiri." Aira menggerutu kesal. Meski tak peduli lagi dengan Raka sebagai seorang suami. Aira tetap saja menengok pria itu di kamarnya. Tak lupa membawakan wedang jahe hangat, untuk mengembalikan imun tubuh Raka yang kedinginan akibat mandi basah tadi malam.


"Ini pasti gara-gara tadi malam. Kapok, dasar buaya darat. Untung aja gak mati. Allah masih kasih kesempatan untuk tobat." Sambil menggerutu, Aira sampai di kamar Citra. Melihat tubuh kekar Raka meringkuk tak berdaya di kasur. Sama sekali tak membuatnya iba.


"Kamu kenapa, Mas? Sakit?" Aira menegur Raka, yang mulai membuka matanya.


"Ra, kok kamu ke sini!" Raka berusaha untuk duduk.


"Mami yang nyuruh. Katanya kamu sakit. Sakit apa?" Kecapekan, ya? Habis tempur sama mami?" cecar Aira mengejek.

__ADS_1


Raka tertunduk malu. Ia tidak menyangka, Aira akan datang menengoknya. Setelah apa yang ia lakukan pada wanita itu.


"Ra, maafin aku ya?"


"Basi, aku gak butuh kata maaf dari kamu." Di jawab ketus oleh Aira. "Lebih baik, kamu minum ini. Biar badanmu gak kedinginan lagi." Aira menyerahkan segelas minuman itu untuk Raka.


"Maaf, aku gak bisa lama-lama ada di sini. Aku masih banyak urusan," ujar Aira mulai beranjak.


"Makasih, atas perhatiannya."


Tidak tahan berlama-lama memandang sosok Raka. Aira memilih buru-buru keluar dari kamar itu. Selain sudah malas, Aira harus secepatnya menemui Suraj. Memberikan benda itu pada Suraj.


"Sayang, kamu ada jam pagi gak?" tanya Aira melalui panggilan telpon.


Suraj yang sudah ada di depan rumah Aira hanya bisa tersenyum getir, sambil menggaruk tengkuknya. "Sayang, coba cek deh di hp kamu. Aku udah nungguin dari tadi di luar," balasnya, manyun.


"Hehehe, maaf sayang. Ya udah, aku keluar ya?"


Bergegas, Aira menemui Suraj yang sudah menunggunya di depan. Tak lupa membawa kamera itu dan juga makanan yang sudah ia buat tadi.


"Sayang, udah lama ya?" celetuk Aira, tersenyum kuda. Ia masuk ke dalam. Menyusul Suraj yabg sudah duduk di kursi pengemudi.


"Ini, sayang. Aku berhasil menemukannya." Aira memberikan benda yang ia pegang itu pada Suraj.


"Alhamdulillah. Aku cek bentar, ya?"

__ADS_1


__ADS_2