Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku

Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku
Kemana Aira


__ADS_3

Puncaknya acara akan segera dimulai. Pesta ulang tahun Nadine, yang dihadiri oleh rekan, kerabat, dan orang terdekatnya sangat meriah. Tinggal menunggu acara potong kue, dan tiup lilin.


Terkesan seperti kekanak-kanakan memang, rencana yang dibuat eh wanita itu. Untuk memisahkan Suraj dengan Aira. Tak punya pilihan, selain membuat acara itu.


Setelah acara tiup lilin usai, saatnya Nadine memotong kuenya. Dan disaat itulah, wanita itu mulai beraksi.


"Potongan pertama akan diberikan pada siapa ya?" ucap MC pada wanita itu. Untuk membuat meriah acara. "Wah, jangan-jangan orangnya ada di sini!!" sambung pria itu menatap satu persatu tamu undangan. Hingga fokus pada seorang pria yang berdiri tak jauh dari kolam renang. Begitu Nadine membisikkan sesuatu ditelinganya.


MC itu tersenyum geli, membayangkan dua orang insan itu akan terlihat bahagia. Tanpa mengerti dengan keadaan yang sebenarnya.


"Ok, saya sudah tau orangnya?"


Sorak surai tepuk tangan kembali menggema. Meminta pria itu untuk segera menyebutkan namanya. Terlebih rekan-rekan di kampus Nadine. Yang masih sangat berharap, wanita itu kembali dengan Suraj.


"Untuk saudara Suraj maholtra, bisa naik ke podium!" seru pria itu, menjaga pusat perhatian mereka semua. Termasuk yang punya nama itu sendiri.


"Apa-apaan Nadine, jangan harap aku akan ke sana."


Di tempat lain, Aira begitu terkejut mendengar nama sang kekasih di sebut sebagai orang terpenting dalam acara itu. Apalagi, potongan kue pertama dari Nadine akan diberikan pada pria itu. Hatinya mulai bertanya-tanya, ada hubungan apa mereka berdua?


Tak dapat dipungkiri oleh Aira, dadanya gemuruh panas. Seakan tidak rela, jika Suraj naik ke atas podium. Hingga panggilan kesekian kali, ternyata tidak dilakukan oleh Suraj.


"Ya Tuhan, ada apa ini? Siapa sebenarnya mbak Nadine itu? Kenapa aku merasa dipermainkan oleh dia?"

__ADS_1


Aira hanya bisa berdiri di balik panggung. Menyaksikan apa yang selanjutnya akan terjadi. Tak seperti Nadine, yang terlihat kusut karena Suraj tak kunjung memenuhi panggilannya. Malu, merasa dipermalukan di depan umum. Wanita itu turun dari panggung dengan terisak. Membuat para tamu undangan menatap aneh ke arah Suraj. Wajar, karena sebagian dari mereka tidak asing dengan pria itu. Tahu, jika Suraj adalah orang yang sempat dekat dengan Nadine.


"Nadine!!!" panggil Alea pada putrinya, yang sempat melintas di depannya. "Nadine, tunggu sayang?" Wanita itu berusaha mengejar, namun tidak dihiraukan oleh Nadine. Dan tetap berlalu begitu saja. Memilih masuk ke kamar, dan dikunci dari dalam.


"Brengsek!!? Suraj, kamu udah mempermalukan aku!!!" teriaknya histeris. Apapun yang nampak mata, ia hancurkan. "Aku benci kamu! Benci!!!"


"Nadine, buka pintunya sayang? Ini mami! Kamu kenapa, sayang? Please, buka pintunya beb!!!" Alea berusaha membujuk putri kesayangannya agar mau membuka pintu. Sepertinya, Nadine tak menggubrisnya dan masih asyik dengan kemarahannya di dalam.


"Ya Tuhan, kacau semuanya. Aku gak boleh tinggal diam. Aku harus bicara sama Suraj, untuk membujuk Nadine."


Alea mencari Yuni, yang sempat ia tinggalkan. Meminta wanita itu untuk membantunya membujuk Suraj, agar mau bicara dengan Angel.


"Aku mohon, Yun. Aku takut terjadi sesuatu pada Nadine," pinta Alea, dengan wajah mengharap.


"Tapi, aku gak mungkin memaksa Suraj. Apalagi untuk persoalan pribadinya. Aku gak mau terlalu iku campur. Lagian, Nadine udah bukan siapa-siapanya Suraj lagi. Wajar kalau anakku, mengabaikan panggilannya tadi," sahut Yuni bijak. Dia tidak mau membuat perasaan Aira terluka. Apalagi, dia tahu. Kalau wanita itu ada di tempat itu.


"Tante tidak perlu melakukan itu pada mami. Karena saya tidak akan pernah mengabulkan permintaan Tante," tegas Suraj tiba-tiba datang dari belakang.


"Tante mohon, Suraj. Tante mohon," pinta Alea beralih pada Suraj, hampir bersimpuh di depan pria itu.


"Maaf, Tante. Keputusan saya tetap sama."


Apapun yang sudah terjadi pada Nadine dan keluarganya. Sama sekali bukan urusannya lagi. Dia tidak peduli dengan itu.

__ADS_1


Semua tamu undangan sudah mulai jenuh menunggu kedatangan Nadine yang tak kunjung muncul. Sehingga satu persatu dari mereka tampak pergi meninggalkan pesta, meski acaranya belum selesai.


Pun dengan Suraj, yang sudah jenuh berada di tempat itu. Memilih mencari Aira, yang sejak tadi menghilang. Tidak terlihat oleh matanya.


"Mi, Mami liat Aira gak?" tanya Suraj pada Yuni, yang juga sedang mencari wanita itu.


"Mami juga lagi nyari. Kamu tanya gih, sama pegawainya. Gak mungkin kan, dia pulang duluan."


"Iya, Mi."


Suraj mengikuti saran Yuni. Pria itu berjalan ke arah meja prasmanan. Yang mana di tempat itu ada pegawai Aira yang sedang berberes.


"Kamu liat Aira, gak?" Kemudian bertanya pada gadis seusia kekasihnya.


"Tadi ke dalam, ngambil barang-barang yang udah kosong. Mau dibawa ke mobil." Wanita itu menunjuk ke tempat yang tertutup tirai.


"Ya sudah. Terimakasih."


Sesuai petunjuk dari wanita itu, Suraj pun ke tempat itu. Dia tidak melihat ada orang di sana. "Gak ada. Apa mungkin udah keluar?" gumamnya, sambil berjalan keluar.


"Itu mobil mang Jali masih ada di sana." Suraj mendekati Jali, yang mulai memasukkan barang-barang dari dalam.


"Mang, Aira mana?" tangannya lagi pada pria berjenggot itu.

__ADS_1


"Loh, bukannya belum keluar ya? Ini tadi yang nganter, Rena sama Ayu. Yang bantu-bantu di sini,' jawab pria itu bingung.


"Ya Tuhan, Aira!"


__ADS_2