Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku

Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku
Kegundahan hati Aira


__ADS_3

Rasa sesak kembali menyelinap dalam hati Aira. Gadis yang memiliki kekurangan di matanya itu duduk menyangga dagu di dapur cafe. Bekerja pun tidak fokus. Beberapa kali, salah menghantarkan pesanan.


Apa yang sedang ia pikirkan? Harusnya ia bahagia? Bukankah, itu yang diharapkan selama ini. Raka melamarnya. Mereka akan menikah, dan hidup bahagia.


Tapi kenapa, Aira tampak sedih dan ragu. Tak ada senyum kebahagiaan terpancar dari wajahnya. Layaknya, seorang wanita yang baru saja di lamar. Tepukan halus dari Bellian menyadarkannya.


"Mbak Aira, kok sedih?" Wanita ikut gabung, duduk di samping Aira.


"Nggak ada apa, kok." Aira berkilah, menatap sembarang agar tidak terlihat kegundahannya.


"Hmmm, bohong. Cerita sama aku. Siapa tahu, aku bisa bantu."


Aira hanya tersenyum getir. Setelah itu beranjak dari kursi. "Aku baik-baik aja, kok." Dan mulai melangkahkan kakinya.


"Pasti tentang mas Raka," tebak Bellian, menghentikan langkahnya. "Udahlah, Mbak. Kalau gak sanggup, ya lepaskan. Masih banyak kok cowok lain yang lebih kece dari dia," sambungnya menatap sebal, jika membayangkan wajah pria itu.


"Lagian, cowok kalau gak jelas kek gitu. Buat apa coba, dipertahankan!" seloroh Bellian, menggambarkan sosok Raka di matanya.


Aira mendengkus kesal. Mendengar keburukan Raka di jabarkan oleh Bellian. Padahal, di matanya, Raka adalah sosok pria yang sempurna. Jarang, seorang pria bisa sedekat itu dengan calon ibu mertuanya. Sedangkan Raka, dia mampu mengambil hati maminya.


"Kok kamu ngomongnya gitu. Seburuk itukah, mas Raka di mata kamu, Yan?" Aira mengurungkan niatnya untuk pergi. Gadis itu kembali duduk di tempat semula.

__ADS_1


"Ya, emang itu kenyataannya. Kak Aira gak sadar, ya? Selama ini, aku gak pernah melihat kak Aira tersenyum. Jika bersama mas Raka. Beda banget auranya, pas sama mas Suraj. Hehehehe," ujar gadis itu menjabarkan perasaan Aira. "Mas Suraj bisa bikin wajah kak Aira tersipu malu," sambung Bellian terkekeh.


Aira berpikir sejenak, mengingat-ingat kejadian yang ia alami. Saat bersama Raka, maupun bersama Suraj. Benar, ia mengenal kekasihnya itu jauh lebih la di bandingkan dengan pria yang akhir-akhir ini selalu ada untuknya. Akan tetapi, Suraj lah yang sering bersamanya di banding dengan Raka.


"Apalagi, Kak Aira cuma jadi pacar bayangan aja 'kan? Gak jelas statusnya. Heheh, maaf ya Kak. Jangan tersinggung," cibir Bellian, sekuat hati menjauhkan Raka dari Aira. Karena dia juga tahu, kebusukan pria itu seperti apa.


"Kamu salah, Yan," sarkas Aira lemas. "Mas Raka bahkan sudah membuktikan kesungguhannya padaku." Wajahnya semakin masam. "Tadi, mas Raka melamar ku."


Bellian melongo mendengar ucapan Aira. Terkejut, dan tidak menyangka. Kalau Raka akan secepat ini melamar Aira. Ada apa sebenarnya ini? Wanita itu mulai menebak-nebak. Padahal, sangat jelas ia mendengarnya sendiri. Kalau Citra tidak akan pernah melepaskan berondong kesayangannya itu.


"Kakak, serius?" tandas Bellian tak percaya.


"Terus, kakak jawab apa?" tanya Bellian penasaran. Dia hanya kasihan dengan nasib Air. Kalau sampai menikah dengan Raka. Apalagi, kalau sampai tahu pengkhianatan Citra dan Raka. Tidak bisa dibayangkan oleh gadis itu. Sehancur apa hati Aira.


Aira menggeleng lemas.


"Bagus, Kak. Jangan mau sama si breng ..." Bellian menutup mulutnya. Dia hampir keceplosan mengatai Raka.


"Maksud aku, jangan mau sama mas Raka. Lagian, kerjaannya aja gak jelas? Masa tiap hari sibuk nganter mami, gak kerja lontang-lantung. Iya 'kan, Kak?" sambung Bellian, menggaruk tengkuknya. Dia belum siap, jika mengatakan hal yang sebenarnya. Apalagi kalau bukan, ancaman dari Citra. Wanita licik itu. Yang bisa membungkam mulut siapa saja, untuk menutupi kebusukannya.


Bener juga, apa yang dikatakan oleh Bellian. Selama ini, Aira tidak tahu pekerjaan Raka. Tiap kali, maminya minta dianter kemana. Pria itu pasti ada waktu.

__ADS_1


Aira menghirup napasnya panjang. Mengeluarkannya pun kasat. Bimbang, bingung, yang sekarang sedang ia rasakan.


"Udah, Kak. Tolak aja, orang gak punya masa depan aja dipertahankan. Mendingan juga mas Suraj. Udah ganteng, tajir lagi."


"Kamu ini kalau ngomong. Udah ah, pusing aku. Mau minum dulu."


"Hehehehe. Ngapain juga pusing. Tinggal buang aja ke laut, beres. Ckckck."


***************


Sepulang dari cafe, raut wajah Citra memerah. Dia sangat kesal dengan perlakuan Raka tadi. Yang begitu perhatian dengan Aira.


"Sayang, tolong jangan kek gini dong!!!" Raka membujuknya. "Jangan marah. Tadi itu aku refleks aja," kilahnya panik melihat tambang emasnya sedang murka.


"Aku gak suka ya, sama orang yang gak konsisten. Kayak kamu!" tunjuk Citra, tepat di depan wajah Raka. "Udah sana, kamu pergi! Aku mau sendiri dulu." Kemudian mengusir Raka dari rumahnya.


"Sayang, jangan gini dong!" Raka memasang wajah memelas. "Dia tidak bisa membiarkan Citra marah berlarut-larut. Bisa mempengaruhi kantongnya.


"Pulang dulu, sana!!" Citra kembali mengusirnya. Mendorong tubuh Raka sampai ke luar. Mengundang perhatian pak Surya yang kebetulan melintas.


"Ada apa, ini?"

__ADS_1


__ADS_2