
Setelah perjuangan yang cukup panjang. Perang batin terjadi dalam dirinya. Aira mengambil keputusan itu. Yang mungkin, akan membuat hati orang yang ia cintai sedikit terluka. Dan harus menunggu saat itu tiba. Saat ia benar-benar mengakui, siapa dirinya di depan pria itu.
Aira hanya ingin tahu, sejauh apa Suraj setia menunggu. Dan sebesar apa cinta pria itu untuknya. Naif, memang. Yang ada, itu akan membuat hatinya semakin terluka. Tetapi, ia percaya, entah kapan itu terjadi. Hidupnya akan indah pada waktunya. Di kelilingi oleh orang-orang terkasih.
"Terimakasih atas kerja samanya. Saya akan datang lagi besok, sekalian urus kontrak kerjanya. Anda tinggal menandatanganinya saja," ujar Suraj, pamit.
"Baik, saya tunggu kedatangan anda lagu!" Aira melempar senyum yang sangat di rindukan oleh sosok yang berdiri di hadapannya.
**********
Mereka berpisah lagi, waktu dan takdir belum menyatukan keduanya. Aira masih harus menyelesaikan banyak hal yang terkait masa lalunya. Termasuk, mantan suaminya yang akan menjadi tujuan selanjutnya.
"Mi, Mami tinggal sama Aira aja, ya?" ucap Aira, memohon. Wanita itu hanya diam, tak berani menatap wajahnya. "Aira gak akan biarin Mami sendiri lagi," sambungnya lagi.
Aira sudah tahu semuanya. Kelicikan Raka yang merebut semuanya dari Citra. Dan berakhir dengan kehidupan wanita itu yang tragis. Selama satu bulan, terlunta-lunta mencari pekerjaan. Tetapi, tak ada orang yang betah dengannya. Karena dia tidak bisa bekerja. Dalam waktu sehari, pemilik atau bosnya sudah memberhentikan dari pekerjaannya.
Dari situlah, ia sadar. Benar-benar sadar. Menyadari kesalahannya pada Aira. Malu, setelah ia hancur. Wanita itulah yang menolong, memungut dari jalanan untuk di bawa pulang ke rumah yang mewah.
"Mami tinggal di sini. Kamar ini untuk istirahat Mami," ujar Aira, membuka gorden di jendela kamar itu.
__ADS_1
Citra menangis tersedu-sedu. Melihat kebaikan Aira, orang yang sudah ia buat hancur.
"Mami gak berhak menerima kebaikan kamu, Ra. Mami mau pergi saja!" sahut wanita itu, beranjak akan keluar.
"Mami, jangan pergi! Cuma Mami yang Aira punya. Aira udah kehilangan Papi. Aira gak mau kehilangan Mami, juga!" Aira masih menganggap kalau Citra adalah ibu kandungnya.
"Gak, Sayang. Mami gak berhak menerima ini." Derai air mata wanita itu kembali membasahi pipinya. "Karena sebenarnya, mami bukanlah...." Citra menggantung kalimatnya. Ia mula menimbang-nimbang antara jujur atau tidak pada Aira. "ibu kandung...."
Ponsel Aira berdering, sontak wanita itu fokus pada benda pipih yang ia pegang. Kinos yang menghubunginya, agar segera datang ke sebuah stasiun televisi untuk acara talk show.
"Iya, aku akan segera ke sana!"
Setelah menutup kembali ponselnya. Aira menghidupkan mesin mobilnya. Membawa Citra pulang ke rumah. "Mi, Mami di rumah Aira aja. Maaf banget, Aira gak bisa temenin Mami. Aira ada syuting. Pokoknya, Mami tinggal sama aku sekarang!" tegas wanita itu tak ingin di bantah.
Nasibnya yang malang, jika ia menceritakan semuanya pada Aira saat itu juga. Mungkin, Aira tidak akan memaafkannya lagi. Dan akan mengusirnya. Lantas, kemana ya harus pergi. Membawa nasib badan yang malang. Bahkan untuk mengisi perutnya saja, ia harus meminta-minta di lampu merah.
Sejenak, ia berpikir. Tak ada salahnya, ia menjadi egois. Tetap merahasiakan semuanya. Hingga waktunya nanti tiba. Yang jelas, ia sangat membutuhkan bantuan Aira untuk bertahan hidup. Citra memilih bungkam. Dan menuruti apa yang dikatakan oleh wanita itu.
**********
__ADS_1
Nama Aira semakin melambung tinggi. Mereka yang mengidolakan dirinya sebagai Kettyera, sangat antusias ingin bertemu. Bahkan rela berdesak-desakan di halaman sebuah stasiun televisi, demi ingin melihat langsung artis idolanya keluar.
Usai mengisi acara di sebuah stasiun televisi, Aira berniat akan kembali ke rumah. Dengan di dampingi assisten dan managernya, wanita itu keluar dari gedung itu.
"Haaaa itu dia Kettyera. Ayo kita samperin!!" Teriakan histeris dari para penggemarnya pecah. Mereka berbondong-bondong mendekatinya. Hingga menimbulkan ketidaknyamanan, yang membuat dia harus menjadi bahan rebutan untuk sekedar berpose di depan kamera handphone.
"Tolong, kalian minggir!" seru Kinos tak di hiraukan oleh mereka. Mereka tetap asyik, melakukan apa yang sudah direncanakan.
Aparat yang berjaga pun kualahan, menertibkan para fansnya. Mereka semakin menjadi, hingga menyakitinya.
"Arghhh, sakit. Tolong beri saya jarak, saya tidak bisa bernapas!" keluhnya dengan terbata, karena sesak.
Tak ada satupun yang perduli. Mereka benar-benar di luar kendali. Perlahan, jarak pandang Aira melemah. Melihat banyaknya orang yang berhimpitan menarik-narik tubuhnya. Hingga ia tak sadarkan diri.
**************
Sayup terdengar seseorang yang sedang bergumam. Mengagumi kecantikannya.
"Kamu mengingatkan aku pada sosok yang aku cari," gumam seorang pria yang terlihat gusar.
__ADS_1
Perlahan, jemarinya menyusuri wajahnya. Aira bisa merasakan sentuhan itu. Sentuhan yang sangat ia rindu. Sentuhan dari orang yang ia puja. Pelan, ia membuka mata. Dan apa yang ia lihat, nyata adanya. Sosok pangeran, yang selalu hadir menemani tidurnya. Sedang tersenyum di hadapannya.
"Suraj," lirih wanita itu, tercengang.