Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku

Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku
Ketegasan Aira


__ADS_3

Suraj bisa memandang wajah Aira dengan jarak dekat. Ternyata, wanita itu memiliki bentuk bibir yang seksi. Yang tidak terlihat jika dalam jarak jauh. Itu yang menjadi perhatian Suraj, pandangannya tak luput dari benda ranum Aira.


Timbul rasa bergejolak dalam gari, saat ia merasakan hangatnya hembusan napas Aira. Jiwa kelakiannya meronta. Sesaat kemudian, dia harus membuangnya jauh-jauh. Sadar, saat ini status Aira masih istri orang.


Pun dengan Aira, yang menganggumi sosok di depannya itu. Bulu alis yang tebal, bibirnya tebal, tapi seksi, di tambah matanya yang cokelat khas orang bule membuat jantung Aira berdegup kencang. Seolah tak percaya makhluk sesempurna itu bisa jatuh cinta padanya. Wanita yang memiliki wajah pas-pasan. Tidak ada yang di banggakan dari dirinya. Tanpa sadar, pikirannya berkelana. Kemudian terusik saat Suraj mulai membersihkan bibirnya.


"Nah, sekarang udah bersih," ujar Suraj, kemudian tersenyum lebar.


"Makasih, ya?" balas Aira sedikit canggung.


"Kita pulang, sekarang?" tawar Suraj melirik pergelangan tangannya. "Udah hampir tengah malam. Nanti, kamu gak bisa istirahat dengan cukup. Besok kan masih harus kerja lagi," sambung pria itu mulai beranjak.


"Iya, aku beresin ini dulu." Aira membereskan martabak yang masih tersisa, kemudian di bungkus kembali di tempatnya. "Yuk!"


***********


Heningnya malam terpecah dengan suara mesin mobil dari luar. Menarik diri Citra untuk bangkit. Dua orang yang berwajah masam, menunggu kedatangan Aira. Bahkan panggilan mereka di abaikan oleh wanita itu.


Begitu mendengar mobil berhenti di halaman depan, Citra dan Raka bergegas membukakan pintu. Siap untuk menyerang Aira. Dan benar saja, wanita yang mereka tunggu dengan santainya berjalan di dampingi seorang laki-laki di sebelahnya. Tak ada raut wajah menyesal ataupun takut. Seolah tanpa beban mereka berdua sampai di depan pintu.


"Begini kelakuan kamu, Hah!!!" sentak Citra menarik kasar tangan Aira, agar menjauh dari Suraj.


"Jangan coba-coba sakiti dia!!" balas Suraj dengan tatapan membunuh.

__ADS_1


"Dari mana saja, kamu?" bentak Citra lagi, semakin mengeratkan cengkeramannya.


"Lepas!!!" tampik Aira, menghentakkan tangannya sampai terlepas dari cengkraman Citra.


"Kamu udah mulai berani sama mami, ya?" tunjuk Citra mengeratkan rahangnya.


"Orang seperti kalian berdua memang harus di lawan!" balas Aira, dengan tatapan penuh kebencian. "Suraj, lebih baik kamu pulang sekarang. Aku bisa jaga diri baik-baik, kok." Setelah itu beralih pada pria yang memakai jaket denim berwarna cream.


"Kamu hati-hati, ya. Kalau ada apa-apa, langsung telepon. Aku pulang dulu." Suraj mengelus lembut pundak Aira, sebelum akhirnya benar-benar pergi dari tempat itu.


Sementara Raka yang melihat kejadian itu sedikit merasakan nyeri dalam hatinya. Entah karena merasa kalah dari Aira, atau mulai ada benih-benih kekaguman terhadap wanita itu.


Begitu mobil Suraj melenggang pergi dari halaman. Aira langsung menarik diri dari hadapan dua manusia laknat itu. Tanpa sedikitpun menghiraukan mereka. Tekadnya sudah bulat, Aira bukan melawan maminya. Tetapi, dia melawan perbuatan mereka.


"Aira tunggu!" seru Citra berusaha mengejar wanita itu. Diikuti oleh Raka, usai mengunci pintu.


"Aira!" gertak Citra yang menahan pergerakan Aira. "Mami laper, kamu buatkan makanan untuk mami," sambungnya sedikit menurunkan nada bicaranya.


Selama ini, Aira-lah yang selalu mengingatkan Citra untuk makan. Dia selalu cerewet, kalau sampai maminya tidak makan dengan benar. Mendengar permintaan Citra, hati Aira berasa tersentuh. Ia nyaris saja akan luluh, apalagi melihat wajah memelas dari maminya. Tapi, jika mengingat pengkhianatan yang dilakukan mereka. Rasa benci kian memupuk di banding rasa kasihan dalam dirinya.


"Aira capek, Mi. Mami buat sendiri aja," balas Aira ketus.


"Ayolah, Ra. Kamu tahu kan, mami gak lihai dalam urusan dapur. Cepetan bikinin mami nasi goreng. Kasihan juga suamimu, sejak tadi sore belum makan."

__ADS_1


Mendengar Citra mengingatkan statusnya. Membuat pertahanan Aira runtuh. Yang tadi masih bisa bersabar untuk berkata baik. Melihat wajah Raka, darahnya seolah mendidih. Pria itu tidak pantas di sebut sebagai seorang suami. Tapi, pecundang yang tidak becus melindungi harga diri istrinya.


"Terus mami bisanya apa?" tanya Aira dengan tatapan tajam. "Berbuat dosa dengan berondong kesayangan mami, ini." Kemudian menunjuk ke arah Raka.


"Aira!!!" bentak Citra kembali terpancing.


"Sudahlah, Mi. Aira gak ada waktu untuk meladeni kalian. Laper, masak sendiri."


Dengan keras, Aira membanting pintu kamarnya. Rasa sesak yang sejak tadi memupuk di dadanya perlahan ia tumpahkan. Punggungnya bergetar, menahan Isak tangis yang mulai tumpah. Ia menganggap dirinya anak durhaka, yang melawan dengan orangtua.


********


Di atas Ranjang, Aira tak bisa memejamkan mata. Ia baru ingat, kalau Suraj menugaskan untuk memasang kamera tersembunyi di kamar Citra. Segera ia beranjak bangun, mencari benda itu di dalam tasnya.


"Ini dia, aku harus memasangnya sekarang. Punung mami sama mas Raka masih terlelap."


Aira pergi keluar kamar, berjalan beberapa langkah dari sana. Kemudian berhenti tepat di depan pintu kamar sebelah. Sebelum masuk ke dalam, ia memastikan terlebih dulu. Kalau dua makhluk terkutuk itu sudah terlelap.


"Mereka udah tidur," gumamnya membuka sedikit pintunya. Melihat Citra dan Raka sudah terkapar tak berdaya dengan tubuh yang masih polos.


Seluruh tubuhnya langsung panas, melihat keadaan kamar itu. Pelan, ia pun masuk ke dalam. Melihat pakaian mereka berdua berceceran di lantai, Aira membayangkan. Betapa bringasnya mereka saat akan melakukannya.


Aira mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan itu. Mencari tempat yang tepat untuk menyimpan kamera tersembunyi itu. Kemudian berhenti pada pot bunga yang berbeda di meja rias maminya.

__ADS_1


"Keknya itu tempat yabg tepat untuk menyimpan benda ini." Aira berjalan menuju ke tempat itu, dengan sangat hati-hati.


Belum juga sampai, langkahnya kembali tersekat saat ada pergerakan dari tubuh Raka.


__ADS_2