
"Hai, anda udah sadar," ujar Suraj, membantu Aira bangun. "Maaf, jika saya lancang membawa anda ke sini!"
Suraj menyodorkan segelas air hangat untuk Aira. Setelah itu duduk tepat di samping wanita itu.
"Terimakasih," ujar Aira, menoleh ke samping. Menyusuri lebih dekat lagi wajah pria yang ia cintai. Senyum tipis terpancar dari sudut bibirnya, saat mengingat pertama kali mereka bertemu. Pikirannya membawa wanita itu ke masa itu. Hingga tak sadar, Suraj membalas pandangannya.
Suraj bisa melihat dengan jelas, Aira tersenyum padanya. Sedikit bingung, apa yang sedang terjadi dengan wanita itu. Tetapi, semua kebingungannya terhapus sudah. Saat Dewi asmara kembali membidik hatinya dengan panah asmara yang sulit untuk dihindari.
Hatinya berbunga-bunga, melihat makhluk indah, ciptaan-Nya nyata di depan mata. Mungkin, jika ia di beri kesempatan untuk meminta satu permintaan. Ia akan memilih, waktu berhentilah berputar. Ia hanya ingin, berada di posisi itu. Untuk sekedar mengobati rasa rindunya pada seseorang. Yang tergambar jelas, dengan sosok yang ia pandang saat ini.
Tetapi, jauh dari sudut hatinya yang entah dari mana. Perasaan cemas itu datang. Hadir, seolah mengingatkan dia. Bahwa, bukan wanita itu yang ia cari. Bukan, bukan dia.
Dan itu menyadarkannya, untuk segera menarik pandangannya ke arah lain.
"Maaf," lirih Aira yang terkejut melihat pergerakannya.
"Saya yang justru minta maaf pada anda," balas Suraj, sedikit menggeser tubuhnya. Pria itu terlihat gugup, sangat gugup. Sampai-sampai Aira bisa melihat dengan jelas, tubuhnya yang sedikit gemetaran.
"Emm, tadi aku sempat mendengar keluh kesah kamu. Apa yang sedang mengganggu pikiranmu, saat ini?" Aira mencoba mengulik, seperti apa perasaan Suraj yang sebenarnya. Atau mungkin, ia akan menggunakan wajahnya yang sekarang untuk mengetes kesetiaan Suraj.
"Heh." Suraj tersenyum getir. Merutuki kebodohannya, yang tak bisa mengontrol dirinya. "Aku sedang mencari seseorang. Seseorang yang sangat berharga untukku." Pria itu menghembuskan napasnya ke udara. Berusaha, melepaskan sesak di dadanya.
__ADS_1
"Pacar kamu?" tanya Aira lagi, namun dirinya justru terlihat gugup. Takut, salah mengartikan kegelisahan hati Suraj. Ia takut, bukan dirinya. Yang sebenarnya sedang mati-matian di pikirkan oleh pria itu.
Suraj mengangguk. "Iya, dia adalah pacar saya," jawabnya, sekilas memandang Aira. Kemudian kembali memandang ke depan.
"Emangnya, dia kemana? Kok kamu cari!" Aira bertanya lagi.
"Dia pergi, meninggalkan saya tanpa pesan dan kabar." Suraj menatap kosong, ruangan itu. Pikirannya menerawang, saat Aira meninggalkan dirinya.
"Sudah tiga tahun lamanya, aku mencari. Tetapi, dia begitu sulit untuk ditemukan," sambung Suraj, menertawakan dirinya sendiri.
Hati Aira kembali menghangat. Mendengar jawaban Suraj. Ia terharu, ternyata cinta dan hati pria itu masih miliknya. Begitu pun dengan dirinya. Yang masih sangat mencintai pria itu.
"Ha-ha-ha. Untuk apa? Anda tidak akan mungkin kenal dengan gadis itu. Dia hanya gadis biasa. Yang sangat sederhana. Dan itu yang membuat saya jatuh hati padanya."
Deggg
Begitu tersentuhnya hati Aira. Mendengar pernyataan dari Suraj. Salah, ia salah mengartikan sosok itu. Sosok yang langka. Yang hanya ada beberapa saja di muka bumi ini. Yang memandang wanita bukan dari fisik, tetapi dari kepribadiannya.
"Tapi aku ingin tahu. Seperti apa wanita itu. Sampai-sampai kamu menunggu hingga tiga tahun. Kenapa gak nyari wanita lain aja. Yang jauh lebih baik di banding dia?" ulik Aira, sampai ia benar-benar puas dengan hatinya.
Terkadang keraguan itu timbul. Mengingat, keluarga Suraj adalah orang terpandang. Yang jelas, banyak dikelilingi orang-orang hebat. Termasuk, Nadine. Yang menjadi alasan dirinya pergi.
__ADS_1
"Anda ini lucu." Suraj menertawakan Aira, yang antusias ingin tahu tentang kisahnya. "Segitu ingin tahunya anda tentang gadis itu," sambungnya lagi, memandang kembali wajah cantik Aira.
"Ya, aku hanya penasaran aja!" kilah Aira, gugup. Saat mata mereka kembali bertemu. Segera, ia buang lagi pandangan ke arah lain.
"Baik, saya akan tunjukkan pada anda." Suraj mengambil ponsel di saku jasnya. "Saya yakin, anda akan menertawakan saya. Sama kayak teman-teman saya, yang mengatai saya bodoh. Tapi saya gak peduli. Hati tidak bisa di bohongi," sambung pria itu, mulai mencari fotonya bersama Aira. "Ini!" Kemudian, menyerahkan pada wanita di sebelahnya.
"Dia wanita yang istimewa. Saya yakin, dia adalah jodoh saya. Karena hati ini sudah terpaut namanya. Dan, sulit untuk di hilangkan." Suraj, membayangkan dirinya dan Aira bersatu, suatu saat nanti.
Melihat foto itu, hati Aira semakin tersentuh. Gambar itu di ambil, saat mereka sedang jalan-jalan melepas lelah. Saat itu, mereka hampir los kontrol. Tak bisa menahan diri.
Ia tak menyangka, jika momen itu ternyata diabadikan oleh Suraj. Yang menemani kerinduan pria itu padanya. Tak bisa di sembunyikan dari siapapun. Mata Aira berbinar-binar. Nyaris saja, tak tertahan. Untung, Suraj tak sedang melihatnya. Segera ia seka, agar tidak ketahuan oleh Suraj.
"Seandainya, dia sudah berubah. Dan kamu bertemu dengannya. Apa yang akan kamu lakukan?" Satu pertanyaan lolos lagi dasi bibirnya.
"Dia tidak akan pernah berubah, sampai kapanpun tidak akan pernah." Suraj, mematahkan keyakinannya. Yang nyaris membuat Aira mengakui kalau dia adalah orang yang sedang dicari.
"Kenapa? Kamu tidak percaya. Kalau dia bisa berubah?" lirihnya lagi, tak sanggup untuk berkata-kata.
Suraj menggeleng. Semakin, membuat dia ragu. Untuk mengatakan semuanya.
"Seandainya orang yang kamu cari, adalah aku. Gimana?"
__ADS_1