
Aira membawa Citra ikut bersamanya. Tinggal di rumahnya. Walau bagaimanapun, ia belum tahu. Siapa sebenarnya Citra. Mereka tidak memiliki hubungan darah.
Tak memakan waktu lama, mereka sampai di depan kantornya. "Mi, ikut Alea yuk!" ajaknya pada wanita yang duduk menunduk di sebelahnya.
Citra malu, untuk sekedar menatap wajah wanita itu. Perasaan bersalah, menyiksa batinnya. "Gak, Sayang. Mami gak pantas ikut kamu, mami nunggu di sini aja," tolaknya, mengeluarkan air mata.
Perjalanan hidup yang ia alami, sedikit banyak membuatnya berubah. Belajar dari sebuah kesalahan. Dari sebuah keegoisan dan ambisi. Yang pada akhirnya menghancurkan semua. Sekarang, ia tinggal menuai apa yang ia tanam. Beruntung, nasib baik masih berpihak padanya. Di pertemukan dengan orang sebaik Aira. Orang yang dengan tangannya sendiri, ia hancurkan. Sekarang, semua berbalik padanya.
"Kenapa, Mi? Ikut Aira masuk ke dalam. Gak apa-apa. Aira gak lama kok." Aira meraih tangan kusut wanita itu. Membujuknya agar ikut ke dalam. Tak tega membiarkan sendiri di sana.
"Gak, Sayang. Mami tunggu di sini aja, ya?" Citra kekeh, menolaknya. Membiarkan Aira pergi sendiri, masuk ke bangunan itu.
Saat sudah berada di lobi, assisten Kinos menghampiri wanita cantik itu. "Mbak, udah di tunggu sama klien di ruang meeting," ujar wanita itu mempersilahkan masuk ke dalam. Mengantar Aira ke ruangan itu. "Kliennya masih muda, ganteng lagi," tanggap Ayumi memuji Suraj.
Aira terkekeh, menggeleng. Sudah biasa, ya mendengar celotehan wanita itu. Tiap kali bertemu dengan pria yang wajahnya kinclong dikit. Maklum, mereka ikatan jomblo akut yang belum mendapat pasangan yang tepat.
"Hmmm, kamu ini. Kalau urusan gituan, gercep. Pepet woiiii, pepet," godanya menyenggol lengan Ayumi.
"Hehehe, usaha boleh dong Mbak. Lagian, udah bosen jomblo terus. Hehehe," kekeh wanita itu menggaruk tengkuknya.
__ADS_1
Sampailah mereka di depan pintu ruangan tersebut. Ayumi membukakan pintunya. Sementara Aira, sibuk mencari benda pipih yang sejak tadi berbunyi. Sambil masuk ke dalam, ia masih fokus menunduk. Hingga belum menyadari dengan siapa ia bertemu.
Seorang pria yang sejak tadi berdecak kesal, karena keterlambatannya. Sedikit lega, saat ia berjalan mendekat. Anehnya, Suraj merasakan sesuatu yang aneh. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Tubuhnya menggigil, tulangnya seolah runtuh. Saat melihat dengan dekat sosok yang ia tunggu.
"Maaf atas keterlambatan sa...." Kalimat Aira menggantung. Saat wajahnya berhadapan langsung dengan orang yang selama ini ia rindu. Bumi seakan berhenti berputar. Iris miliknya tak lepas mengamati inci demi inci wajah yang selalu ia rindukan. Tiga tahun sudah, ia menunggu pertemuan ini. Pertemuan yang tidak di sengaja. Yang ia sendiri belum siap, menerimanya.
Gugup, sudah pasti dirasakan keduanya. Pandangan mereka bertemu cukup lama. Anehnya, Suraj hanya diam terpaku. Tanpa melakukan apa pun. Apa yang terjadi dengannya.
Bibir Aira kelu, terpanah dengan sosok itu. Mengundang tanya Ayumi yang menyaksikan adegan romantis itu. Hingga suaranya memecah keheningan itu.
"Ehemmm... Jangan lama-lama dong, berpandangannya," celetuknya merengut.
Aira langsung melempar pandangannya ke sembarang arah. Menetralkan sesuatu yang hampir keluar di sana. Sungguh pertemuan yang tak terduga. Yang membuat wanita itu dilema. Tetapi, ada sedikit kelegaan. Saat Suraj tidak mengenali dirinya.
"I--ya," jawabnya terbata, membalas uluran tangan dari pria itu.
"Cantik, lebih cantik aslinya," puji Suraj, kembali menggetarkan hatinya.
"Silahkan duduk," katanya, mempersilahkan pria itu duduk di tempatnya tadi.
__ADS_1
Aira benar-benar di buat salah tingkah. Hingga duduk pun terasa tak nyaman. Apa lagi, sorot mata Suraj tak lepas memandangi wajahnya. Takut, gugup, bertemu jadi satu. Yang membuat Aira sesekali menghembuskan napas kasar.
"Bisa kita mulai membahas pekerjaannya?" tanya Suraj, menyeringai. Pria itu menganggumi sosok wanita yang duduk tepat di sebelahnya. Ada yang bergetar dalam dirinya. Yang mampu membunuh rasa kesalnya karena menunggu terlalu lama.
"Iya." Hanya dijawab singkat oleh Aira. "Kok dia gak mengenaliku. Apa yang terjadi dengannya? Apa dia lupa?" Seribu pertanyaan melintas di benaknya. Hingga ia tak begitu jelas mendengar penjelasan Suraj, tentang kerjasama itu.
"Gimana menurut anda? Apa anda yakin menerima tawaran kami?" Suara Suraj kembali terdengar. Namun, tak segera ditanggapi oleh Aira. Wanita itu masih larut dalam pikirannya yang kalut. Benar-benar kalut.
Tak segera mendapat jawaban. Suraj kembali bertanya. "Apa anda yakin, menerima kerja sama ini?"
Kali keduanya, Aira terhenyak. Tidak fokus pada apa yang disampaikan oleh pria itu. Ia tidak boleh lengah. Harus tetap tenang. Toh, Suraj tidak mengenalnya. Dia masih tetap bisa menjalankan perannya.
"Saya yakin," jawabnya tegas.
Senyum merekah tertanam di bibir Suraj. Bukan karena, proyek kerja sama mereka yang mencapai kesepakatan. Tetapi, bisa melihat dengan jelas wajah cantik wanita itu. Yang sejak tadi, mengganggu pikirannya.
"Ok, deal." Suraj kembali mengulurkan tangannya.
Dengan gugup, iris miliknya tak lepas memandangi telapak tangan Suraj. Perlahan, ia menyambutnya. "Deal!"
__ADS_1
Pandangan mereka kembali bertemu. Seperti ada aliran listrik yang menyengat tubuh mereka. Saat kulitnya saking bersentuhan. Tak sadar, mereka saling melepaskan rindu yang memupuk dalam diri. Dan itu, disadari oleh Suraj sendiri. Rasa sesak yang beberapa hari ini memupuk dalam dada. Perlahan lepas, hanya dengan memandang wajah yang ia kenal sebagai Kettyera itu.
"Saya seperti sudah lama kenal dengan anda?"