Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku

Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku
Kemarahan Citra


__ADS_3

Rasa tak percaya melihat sosok itu berdiri di atas panggung. Orang yang dulu ia fitnah, di usir oleh suaminya. Sekarang menjadi orang sukses. Bahkan kekayaannya jauh lebih banyak di banding dirinya.


"Bagaimana mungkin dia ada di sini. Menjadikan pemilik perusahaan Sam Glow. Citra menganga, hingga matanya tak berkedip sedetik pun. Masih belum yakin, kalau sosok itu memang Mawar yang ia kenal.


"Sebelumnya saya ucapkan terimakasih banyak untuk rekan, kerabat, owner Sam Glow, Reseller yang sudah menyempatkan hadir di sini," sapa Mawar membuka sambutannya.


Setelah mendengar suaranya. Citra semakin yakin, kalau sosok yang berdiri di depan sana adalah orang yang sama. Yang dulu pernah ia dzolimi. Gemuruh dalam dadanya seolah tak cukup untuk menampungnya. Malu, marah, terhina, itu yang ia rasakan, sekarang. Banyak pertanyaan terlintas di kepalanya. Bagaimana mungkin, dia bisa sesukses itu?


Dari ratusan orang yang duduk di depannya. Mawar tidak bisa memperhatikan satu persatu wajah mereka. Entah apa yang menarik dirinya untuk memandang ke arah Citra. Sosok yang terlihat glamor diantara yang lain, sepertinya menarik perhatian wanita berusia empat puluh lima tahun itu.


Tap


Jantungnya berdegup kencang saat melihat sosok yabg berdiri di bagian pojok depan sana. Gemuruh dalam dadanya tak dapat lagi di sembunyikan. Tubuhnya tiba-tiba bergetar melihat sosok wanita itu. Mereka sempat saling berpandangan. Hingga akhirnya, Citra dulu yang membuang mukanya.


Merasa sudah tidak bisa mengelak lagi, Citra pun beranjak. Menarik tangan Raka, untuk segera pergi dari tempat itu. "Ayo kita pergi sekarang!" serunya meninggalkan tanya untuk pria itu.


"Tapi acaranya belum selesai, sayang." Raka berusaha menolaknya.


"Aku bilang pergi, ya pergi!" tegas Citra menutup wajahnya dengan menggunakan tas.


Mereka berjalan mengendap-endap, diantara para tamu undangan. Berharap, Mawar sudah tidak memperhatikan dirinya lagi.

__ADS_1


"Kesuksesan saya bukan semata hal yang mudah dalam meraihnya. Banyak tetes keringat, dan air mata di dalamnya." Mawar masih memaparkan pengalamannya di depan mereka. Meski konsentrasinya sudah terpecah.


"Dan kesuksesan saya, tak luput dari bantuan kalian semua. Termasuk owner dan reseller yang menjadikan produk kami di kenal masyarakat. Tak lupa juga, untuk para brand ambassador yang sudah membantu mempromosikan produk kami ini."


Senyum yang terpancar di wajahnya seakan sirna. Saat melihat sosok yang sangat ia kenal tadi, sudah menghilang dari pandangan. "Citra, aku yakin itu tadi Citra." Mawar bergumam dalam hati.


"Sekian sambutan dari saya. Kurang dan lebihnya mohon maaf. Terimakasih. Assalamualaikum, dan selamat petang."


Riuhnya tepukan tangan kembali menggema di aula tersebut. Mengiringi kepergian Nawar dari atas panggung. Para audiens ataupun tamu undangan di buat kagum pada sosok pemilik perusahaan kecantikan yang saat ini sedang terkenal di tanah air, dan beberapa negara tetangga juga.


"Aku harus mencarinya," ucapnya dalam hati.


Mawar meninggalkan tempat itu, sebelum acara peresmian di mulai. Keinginannya untuk mencari Citra jauh lebih penting dari semua itu. Harapannya cuma satu, ingin bertemu putri kecilnya yang dulu ia tinggalkan karena ulah wanita licik itu.


"Saya ada urusan yang jauh lebih penting daripada ini!" sahut Mawar, nampak buru-buru. Setelah itu pergi meninggalkan assistenya.


"Ada apa dengan bu Mawar," gumam wanita itu, yang langsung bergerak cepat. "Halo, ikuti kemana ibu pergi. Saya tidak mau terjadi apa-apa sama beliau," perintah wanita itu melalui sambungan telepon.


**************


"Ini ada apa, Sayang? Kenapa kita buru-buru pulang? Katanya kamu pengen kenalan sama pemilik perusahaan itu?" cecar Raka bingung, melihat perubahan Citra yang signifikan. Wanita itu tampak lebih banyak diam. Melamun, dengan tatapan kosong.

__ADS_1


"Brengsek! Ternyata dia lebih sukses daripada aku." Tak menghiraukan ucapan Raka, Citra mengeratkan rahangnya. Meluapkan kekesalannya pada Mawar.


"Sayang, apa kau tidak mendengarku?" ulang Raka, semakin bingung.


"Gak usah banyak nanya, cepat lajukan mobil ini lebih kencang lagi. Kita harus secepatnya sampai rumah!" tandas Citra, tak ingin di ganggu.


Raka hanya menggeleng, tidak mengerti dengan yang terjadi pada Citra. Dia hanya bisa menuruti perintah dari wanita itu.


Tak butuh waktu yang lama untuk mereka sampai rumah. Citra membuka pintunya dengan kasar, setelah itu di bantingnya kuat. Dan berlalu begitu saja, meninggalkan Raka.


"Ada apa sih tuh nenek-nenek, gak jelas banget! Kalau gak demi uang, udah gue tinggalin tuh nenek sihir!!!" umpat Raka semakin geram.


"Arhhhhhhh, brengsek! Brengsek kamu Mawar!!!" Citra teriak Histeris di kamar. Mengacak-acak semua benda yang ada di sana. "Bagaimana mungkin, dia bisa lebih sukses dari pada aku," racaunya frustrasi. Dengan sorot mata merah, wajah garang, Citra meremas tasnya. "Aku harus cari tahu, bagaimana dia bisa menjadi sukses seperti itu!!!"


"Arhhhhhhh."


Mendengar teriakkan dari Citra, Raka langsung menyusulnya ke kamar. Melihat semua barang-barang sudah berserakan, Raka memeluk wanita itu dari belakang.


"Kamu kenapa, sayang?" Pria itu berusaha menenangkan.


"Apa aku salah sama kamu?" sambungnya lagi tak mendapat balasan.

__ADS_1


Gemuruh dalam dadanya tak bisa lagi terkontrol. Hingga punggungnya naik turun, meredam amarahnya sendiri. Citra bisa menggila, melihat kesuksesan Mawar. Dia tidak terima.


Tak berapa lama, suara bel pintu nyaring memekakkan telinga mereka.


__ADS_2