Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku

Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku
Resmi menjanda


__ADS_3

Tak segera ia ambil, Raka kembali bersuara. Kamu ini, sedikit nada bicaranya mengancam Aira.


"Cepetan ambil map ini, atau aku akan berubah pikiran!" tandas pria itu, dengan rahang mengerat.


Gugup, takut, senang. Sekarang bergelumun jadi satu dibenak wanita yang sebentar lagi akan menyandang status janda muda. Dengan gemetar, Aira mengambil map itu. Masih menatap tak percaya, dengan isinya.


"Sini, aku yang kasih tahu. Dimana saja kamu harus tanda tangan!" Raka kembali mengambil map itu dari tangan Aira. Membukanya, namun tidak sepenuhnya dibuka.


"Disini!" seru Raka, kembali bersuara.


Dengan tangan gemetar, antara takut dan tak percaya. Aira mengambil pena yang ada di meja. Sekilas ia membaca dokumen tersebut. Memang benar, itu adalah dokumen permohonan cerai yang sudah ditandatangani oleh Raka. Tanpa menunggu lama. Dia langsung membubuhkan tanda tangannya di bagian yang tertulis namanya.


Raka tersenyum getir, dan sedikit berharap cemas. Untuk langkah selanjutnya. "Ini lagi," sambung pria itu, membuka lembar berikutnya. Akan tetapi, bagian atas tertutup lembar sebelumnya. Aira hanya bisa melihat bagian bawah yang tertulis namanya.


Tanpa menaruh curiga, karena memang sebelumnya tidak pernah tahu dan melihat seperti apa dokumen pengajuan cerai. Aira begitu saja menuruti kemauan Raka. Tanpa berpikir panjang, dan ingin semua urusannya selesai. Kembali, ia membubuhkan tanda tangan di kertas itu. Raka tersenyum puas, namun belum sepenuhnya bisa bernapas lega. Karena masih ada beberapa lembar lagi, yang harus dilakukan hal yang sama oleh mantan istrinya itu.


Lembar berikutnya, diselesaikan dengan baik oleh Aira. Ia melakukan apapun yang diperintahkan oleh Raka. Tanpa membaca isinya lebih dulu. Yang ia tahu, dokumen itu semua adalah dokumen cerai. Seperti yang ia dengar, dari beberapa temannya proses cerai itu ribet.


Semua dokumen sudah mendapatkan tanda tangan dari Aira. Baik surat cerai, maupun surat kuasa pengalihan harta warisan Abdullah. Aira terlalu bodoh, untuk melakukannya. Tanpa mengecek terlebih dulu isi dari dokumen-dokumen itu. Dan percaya begitu saja dengan Raka.


Semua harta yabg seharusnya menjadi milik Aira, berpindah tangan pada Citra. Termasuk cafe dan Rumah yang mereka tempati. Raka tak menyangka, akan semudah itu mendapatkan apa yang ia inginkan. Tanpa sedikitpun mengalami masalah.

__ADS_1


"Bagus Aira, mulai saat ini kamu bukan siapa-siapaku lagi. Kamu bebas melakukan apa saja yang kamu inginkan," ucap Raka, tersenyum puas. Berhasil mengelabui mantan istrinya itu. "Termasuk rumah ini, dan cafe itu bukan milik kamu lagi," batin Raka. Menyeringai.


Terlalu lama menunggu, Aira tak kunjung keluar. Mengundang rasa khawatir dalam diri Suraj. Tak sabar menunggu, ia berniat menyusul ke atas.


Citra tak tinggal diam. Tidak ingin rencananya gagal. Raka yang ia tugaskan untuk mengelabui Aira, belum memberinya kabar. Citra berusaha mencegah pria itu.


"Mau kemana,kamu?" sentak wanita itu, dengan wajah garang.


"Mau nyusul Aira," jawab Suraj, tak peduli. Dan memilih mengabaikan ucapan Citra, untuk menyusul sang kekasih. Begitu sampai di lantai dua, darahnya kembali mendidih saat mendapati mantan suami kekasihnya itu baru saja keluar dari kamar itu. Tanpa ba bi bu, Suraj menghadiahi Bogeman mentah ke wajah Raka.


Bughhhh


Aira yang mendengar keributan itu, langsung mendekat. Melihat Raka yang meringis kesakitan, dan sorot tajam Dinata Suraj. Ia berusaha melerai.


"Sayang, hentikan!" Aira menarik lengan Suraj, untuk menjauhi Raka.


Perlahan cengkeraman Suraj mengurai. Emosinya masih terkontrol, melihat Aira dalam keadaan baik-baik saja. Tidak ada yang lecet, atau sakit dari wanita itu. "Kamu diapain sama dia?"


Aira menggeleng. "Kita pergi saja dari sini!" seru Aira, menarik pergi sang kekasih dari hadapan mantan suaminya yang menatap marah ke arahnya.


*************

__ADS_1


"Sayang, apa yang dilakukan Raka di kamar tadi?" tanya Suraj, saat mereka sudah berhasil keluar dari rumah.


"Aku sudah resmi bercerai dari Raka," ucap Aira tiba-tiba. Mengagetkan sang kekasih.


"Maksud kamu?" Mereka menghentikan langkahnya. Suraj masih tak percaya mendengar ucapan Aira tadi.


"Aku baru aja menandatangani Suraj cerai itu. Aku gak tau, apa yang menjadi alasan Raka mengabulkan keinginan aku," jawab Aira, terharu. Wajahnya berseri-seri, bisa terlepas dari pria brengsek seperti Raka.


Hal itu, tak begitu saja membuat Suraj merasa lega. Ia justru terlihat semakin khawatir akan nasib kekasihnya itu. Menganggap, ada udang dibalik batu dari rencana dua laknat itu.


"Sayang. Apa kamu yakin, kalau itu adalah dokumen cerai?" tanya Suraj, menangkup bahu sang kekasih.


"Iya, sayang. Aku sempet membacanya kok." Aira tersenyum kecil, untuk menyakinkan Suraj.


Tetap saja, ucapan Aira tak sedikitpun membuat hatinya lega. Dia tidak yakin, dengan mudahnya Raka menceraikan Aira. Secara, mereka masih tinggal bersama. Aira masih sangat dibutuhkan oleh mereka. Kecuali. Suraj mulai berpikiran tentang itu.


"Bener kata temen aku. Proses cerai itu emang ribet. Banyak dokumen yang harus ditandatangani," ucap Aira lagi, semakin menyakinkan dugaan Suraj.


To be continued


Rugi kalau gak baca sampai habis... 🤭

__ADS_1


__ADS_2