
Banyak pertanyaan yang terlintas di benak wanita yang terlihat mengenaskan, yang saat ini duduk di pinggir jalan. Meratapi nasibnya yang malang.
Apa yang harus ia lakukan sekarang? Setelah di usir dari rumah oleh maminya. Orang selama ini ia hormati. Mengapa tega menyiksa, bahkan mengusirnya? Apa dia bukan ibu kandungnya? Yang melahirkannya?
Menangis dalam sesak, menumpahkan air mata yang tak dapat dibendung lagi. Pada siapa, ia akan minta tolong?
Suraj, nama itu sempat terlintas dibenak Aira. Namun, terhempas sudah, saat ingat ucapan Nadine. Tidak ingin menjadi beban lagi untuk pria itu. Ia memilih untuk pergi dari mereka.
"Aku gak boleh begini, aku harus kuat. Aku gak boleh lemah," ucapnya pada diri sendiri. "Aku harus bangkit, untuk menata masa depanku nanti."
Rasa percaya diri, datang begitu saja. Disaat ia terpuruk, menangisi keadaan yang selalu tidak berpihak padanya. Aira bangkit, beranjak untuk mencari kendaraan yang bisa membawanya jauh pergi meninggalkan tempat itu.
"Akan aku buktikan, aku bisa sukses tanpa kalian. Mi, tunggu aku!! Suatu saat nanti, kamu akan datang padaku. Meminta maaf, karena perlakuanmu itu!!" tandas Aira, tekad ingin merubah takdirnya. "Dan kamu Raka, kamu akan mengemis cintaku lagi. Akan aku buktikan pada kalian berdua.
Tekadnya sudah bulan, dengan uang tabungan yang ia miliki. Aira akan pergi menghilang dari kehidupan mereka. Baik Suraj, maupun dua ****** itu.
"Tunggu aku datang lagi ke tempat ini. Menunjukkan kesuksesan aku pada kalian. Dan kamu, Suraj. Kamu pria baik, aku tidak tega jika harga diri kamu diinjak-injak oleh orang lain. Karena tetap bertahan bersamaku. Jika kita berjodoh, kelak. Aku akan datang sebagai Aira yang baru. Yang layak bersanding dengan kamu."
***************
__ADS_1
Di pinggiran kota Jakarta, tempat Aira yang baru. Di sebuah rumah petak, yang tempatnya strategis untuk mencari pekerjaan. Menjadi pilihan Aira untuk bertahan hidup. Di tempat itu, ia akan memulainya dari nol.
Kegundahan tercipta di hati seorang pria yang terlihat kusut di bangku pengemudi. Bagaimana tidak, hingga saat ini. Ponsel Aira masih tetap tidak bisa di hubungi. Padahal, ia hanya ingin menyampaikan kabar baik pada wanita itu.
Mobil yang ia kendarai, melenggang bebas memecah keheningan malam kota Jakarta. Satu yang menjadi harapannya saat ini. Aira masih terjaga, dan masih bisa bertemu dengannya.
"Sayang, kenapa kamu menjauhiku. Apa yang sebenarnya terjadi?" Pertanyaan itu seakan tak bisa lepas dari hati dan pikirannya. Mengusik setiap langkah yang ambil. Membuat dirinya merasakan sesuatu yang aneh.
Sampai juga di rumah Aira. Ia sedikit bisa tersenyum lega, saat mendapati keadaan rumah itu masih sangat ramai. Dan memaksa ia untuk mempercepat langkahnya.
"Aira!!" teriaknya memecah kebisingan di ruang tamu. "Sayang, kamu dimana? Kamu belum tidur, 'kan?" Saat berada di ruang tamu, Suraj sedikit terkejut melihat banyak orang yang sedang berpesta minuman keras. "Mana Aira?" Satu pertanyaan lolos begitu saja dari bibirnya.
"Ra, dimana kamu!!!" Tanpa seizin mereka, ia nyelonong masuk ke dalam. "Ra, sayang. Ini aku, kamu belum tidur kan?" Langkah kakinya membawa ke kamar wanita itu.
Raka yang geram melihat tingkah Suraj, ingin menyusulnya ke dalam. Namun dicegah oleh Citra.
"Biarkan saja dia mencari si kelinci kecil itu. Kalau sudah lelah, dia akan kembali lagi. Lebih baik kita lanjutkan pestanya saja!" seru Citra, kembali mencairkan suasana yang sempat tegang.
Sampailah Suraj di lantai dua. Pria itu sedikit terkejut melihat pintu kamar Anda sedikit terbuka. Ia mempercepat langkah kakinya, membuka pintu kamar itu. "Sayang," panggilnya mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Kemudian ke kamar mandi. "Sayang," sambungnya mengetuk pintunya.
__ADS_1
Tidak ada sahutan dari dalam, ia juga membuka pintunya. Kosong, Suraj tidak menemukan siapapun ada di tempat itu.
"Ya Tuhan kemana Aira?" tanyanya, dengan tubuh lemas. Ia benar-benar kehilangan jejak. Suraj kehilangan Aira, yang tidak ia temukan disekeliling rumah itu. Akhirnya, ia kembali ke ruang tamu.
"Dimana Aira?" tanyanya tegas pada dua orang yang terlihat tidak berdosa itu. "Dasar licik, kalian berdua adalah manusia licik!" Suraj menunjuk ke wajah Citra dan Raka secara bergantian. "Aku sudah tahu semuanya. Kebusukan kalian yang menjebak mami mawar hingga diceraikan oleh papinya Aira."
Baik Raka maupun Citra tercengang mendengar pengakuan dari Suraj. Bingung, darimana pria itu tahu semuanya.
"Apa maksud kamu?" Dengan polosnya, Citra pura-pura bertanya.
"Gak usah sok polos dan sok suci!!!" Suraj melempar hasil copian rekaman itu pada mereka berdua.
Apa yang dikatakan oleh Suraj, tak sedikitpun membuat Citra takut. Ia justru tertawa lepas, melihat kedatangan pria itu.
"Hahaha, sia-sia. Apa yang kamu lakukan sia-sia. Aira sudah saya usir dari sini!"
Mendengar hal itu, seketika tubuh Suraj melemas. Sedikit kehilangan harapan untuk bisa bertemu lagi dengan Aira.
"Apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa Aira menghindar dariku. Pasti ada yang ga beres ini. Aku harus menyelidikinya," batin Suraj, lemas.
__ADS_1