
Teriknya matahari siang itu, tak menyurutkan niat sepasang kekasih yang sedang bersendau gurau dalam penatnya jalanan. Dengan di bonceng oleh Raka, Aira nampak bahagia. Senyum di bibirnya tak pernah lepas. Berasa mimpi untuk gadis itu, bisa jalan berdua dengan pujaan hatinya.
"Kita mau kemana, Mas?" teriak Aira tepat di samping telinga Raka.
"Kamu tenang aja, aku akan bawa kamu ke suatu tempat yang indah," jawab Raka tak kalah kencang. Suara berisik dari knalpot motor Raka, sedikit mengganggu komunikasi mereka. Namun, tak menyurutkan kemesraan mereka berdua.
Satu jam kemudian, sampailah mereka di sebuah taman kedai kecil, di pinggiran kota. Motor Raka tiba-tiba berhenti di sana.
"Mas, ngapain kita di sini?" Aira menatap bingung tempat itu. Dan mulai berpikiran yang tidak-tidak.
Masa iya sih, kencan di ajak ke sini? Gak seru banget. Gak romantis. Gimana sih mas Raka ini. Sekalinya punya kesempatan jalan, di ajak ke kedai kopi. Ya Tuhan.
Aira menggerutu dalam hati. Ia hanya bisa pasrah, mengikuti kemana Raka mengajak pergi. Saat sudah berada di depan kedai itu, Raka tetap berjalan melewati bangunan setengah permanen itu. Dan berhentilah di sebuah taman, yang belum pernah ia kunjungi.
"Wah, keren banget," puji Aira membentangkan tangannya. Angin sepoi-sepoi menyapu rambut, menutupi wajahnya. Di saat itulah, Raka melakukan sesuatu yang mengejutkan.
Hamparan bunga berwarna-warni, menjadi saksi bisu kemesraan dua insan yang tengah di mabuk dalam kenikmatan. Entah sadar atau tidak, Raka membungkam bibir Aira. Menyapu, membasahi rongga mulutnya yang terasa kering. Bak, seorang musafir yang menemukan mata air, Raka begitu rakusnya meneguk kenikmatan yang di berikan oleh Aira.
__ADS_1
"Emmm, emmmm."
Rintihan yang tertahan dari Aira, semakin membuat libido Raka meningkat. Pengalamannya bercinta dengan Citra, membuat dirinya lupa. Apa tujuannya mengajak gadis itu ke tempat ini.
Rasa sesak, kehabisan oksigen yang masuk ke dalam tubuhnya. Memaksa Aira mendorong tubuh Raka. Wanita itu belum terlalu lihai, dengan pengalaman pertama yang baru saja ia alami.
"Maaf," ucap Raka, dengan mata memerah. Menahan hasrat, yang hampir saja tak terkendali. Meski belum pandai, sepandai Citra. Bibir Aira mampu membuat Raka penasaran. Dan ingin lagi, merasakannya.
"Aku gak mau kamu hilang kendali, Mas," lirih Aira dengan napas yang masih tersengal. Di usap bibirnya yang masih basah. Tak berani menatap wajah Raka.
"Apa kamu marah?" tanya Raka mendekat.
Aira menggeleng, sebagai balasan pertanyaan dari Raka. Harusnya ia bahagia, karena ciuman pertamanya di ambil oleh Raka. Orang yang ia cintai. Entah mengapa, dalam lubuk hatinya yang paling dalam. Rasa tak rela itu, sekelebat menjadi bayang-bayang.
"Asal kamu tahu, apapun yang aku lakukan selama ini. Karena aku sangat mencintaimu," ucap Raka, tak berakhir memandang wajah Aira. "Perlakukanku terhadap mami, itu semata untuk kamu. Agar hubungan kita mendapat restu dari beliau," sambungnya menyakinkan Aira.
"Jangan pernah, kamu ragukan cintaku ini." Raka beralih beralih pada tangan wanita itu. Digenggamnya erat, kemudian di kecup. Sebagai tanda cinta tulus darinya.
__ADS_1
Hati siapa yang tak akan luluh. Diperlakukan manis seperti itu. Pun dengan Aira, yang langsung terharu melihat ketulusan dari Raka. Tanpa terasa, titik bening merembes di pipinya.
"Ra, maukah kau jadi istriku?"
Raka menepati janjinya, yang akan membawa hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius. Akan tetapi, apakah semua itu tidak terburu-buru. Mereka baru dua bulan lamanya menjalin hubungan. Aira belum tahu banyak tentang kekasihnya itu.
Walau senang, tak dapat dipungkiri ada seberkas keraguan yang mengganjal di hatinya.
"Aku serius dengan ucapanku, Ra. Aku tidak butuh banyak waktu untuk menyakinkan diriku, kalau kamulah yang terbaik." Raka menjeda kalimatnya. "Mungkin, ini terkesan buru-buru. Tapi, aku harap kamu mau menerimanya."
Genggaman tangan itu, perlahan di lepaskan oleh Raka. Pria itu sibuk mengambil benda dari saku celananya.
Sebuah cincin berlian, sudah berada di tangannya. Siap untuk di sematkan di jari manis milik wanita itu. Tinggal menunggu, jawaban dari Aira.
"Ini, sebagai bukti. Kalau aku serius dengan ucapanku."
Sorot mata Aira fokus pada benda yang ada di hadapannya. Yang dipegang oleh Raka. Senang, bahagia, bingung, memenuhi hatinya. Tiba-tiba, bayang-bayang Suraj. Pria yang akhir-akhir ini memenuhi kepalanya hadir di tengah-tengah kegundahan hatinya.
__ADS_1
Bayangan Suraj seolah menegaskan kalau pria yang ada di hadapannya, bukan pria yang tepat. Agar dirinya tidak begitu percaya begitu saja dengan pria itu.
Akan tetapi, melihat kesungguhan Raka. Sisi lain dari hatinya berkata lain.