
Suraj masih diam termangu, memperhatikan wajahnya. Tak mendengar apa yang ia tanyakan. "Aku harus bagaimana, Suraj?" ulang Aira, menepuk pelan tangan Suraj.
Setelah sadar, pria itu mengerjakan mata. Sambil menyeringai, malu gagal fokus di depannya. "Maaf, sayang. Aku gak fokus. Habis, kamu sih! Menggemaskan."
Aira pun tertunduk malu, ia bisa kembali tersenyum di depan pria itu. Setelah beberapa hari ini, senyum merekah dari bibirnya nyaris sirna.
"Nah, gitu dong senyum. Kamu gak usah sedih lagi, ada aku yang akan mendampingi kamu." Suraj mencubit kecil dagu Aira. Semakin membuat wanita itu tersipu malu.
"Malu, di liatin orang. Udah ah, buruan ngomong. Aku harus bagaimana, sekarang?"
"Kamu harus terlihat kuat di depan mereka. Meskipun, aku tahu. Itu berat, tapi ingat tujuan kita. Kamu harus tegas, dan jangan mau ditindas oleh mereka," jelas Suraj, Aira pun mengangguk. "Dan ini." Suraj mengambil benda dari dalam saku celananya. "Benda ini kamu simpan di kamar mami Citra. Ingat, jangan sampai ketahuan mereka. Kamu harus simpan ke tempat tersembunyi. Di arahkan ke depan." Setelah itu memberikan benda seperti lensa, pada Aira.
"Ini apa?" Aira mengamati benda itu.
"Itu kamera, nanti akan terhubung ke labtob aku, sayang?" jelas Suraj lagi. Aira kembali mengangguk. "Jangan sampai ketahuan ya? Karena itu satu-satunya cara untuk membuat bukti itu."
"Iya, aku ngerti kok. Kamu gak ngajar?" balas Aira, balik bertanya.
"Iya, aku ngajar siang kok, sayang. Kamu udah selesai belanjaannya?"
"Udah, tinggal pulang aja. Tapi, kayaknya langsung ke cafe, males pulang ke rumah."
"Ya udah, aku antar, ya?"
**************
Sesampainya di cafe, mereka mulai beberes. Belliian dan Winda belum datang. Jadi, Suraj memutuskan untuk membantu kekasihnya.
__ADS_1
"Kamu udah sarapan apa belum?" tanya Aira pada Suraj, uang saat itu sedang mengelap meja.
"Belum, sayang. Belum sempat, tadi cuma ngopi aja di warung makan. Hehehe, kamu mau buatin?" jawab Suraj terkekeh.
"Boleh, aku siapin sandwich aja ya? Kamu belum pernah kan, nyobain sandwich buatan aku," tawar Aira mengambil bahan-bahannya.
"Boleh." Suraj mengacungkan jempol. "Yang enak, ya?" Setelah itu menggoda Aira.
"Beres."
Dengan cekatan, Aira membuatkan makanan itu. Sedangkan Suraj, sibuk merapikan kursi, dan beberes di depan. Tak berapa lama, Winda dan Bellian datang. Mereka berdua terkejut melihat keberadaan Suraj di tempat itu.
"Mas Suraj, kok ada di sini?" Bellian yang membuka suara.
"Eh, kalian. Iya, aku bantuin Aira." Siraj tersenyum ramah pada dua pegawai kekasihnya itu.
"Ada, lagi buatin sarapan untuk aku."
Bellian dan Winda melempar pandang. Sedikit aneh menurut mereka, melihat kedekatan Aira dan Suraj. Untuk menjawab rasa penasaran itu, Bellian langsung menyusul Aira di belakang.
"Mbak Air!" seru gadis itu, menghentikan sejenak aktivitas Aira. Wanita itu menoleh, setelah itu matanya berbinar-binar melihat kedatangan Bellian.
"Bellian," lirih Aira langsung memeluk tubuh wanita itu. "Maafin Mbak, ya? Mbak gak percaya sama kamu. Mbak terlalu bodoh, mempercayai mereka." Aira menumpahkan rasa penyesalannya di bahu wanita itu.
"Jadi, Mbak Aira udah tahu semuanya?" tanya Bellian terkejut. Setelah mereka saling menguraikan pelukan. Aira pun mengangguk. "Alhamdulillah, akhirnya kebenaran itu terungkap juga. Tapi, Mbak belum sempat di apa-apain kan sama si brengsek itu?"
Aira menunduk malu, saat mengingat kejadian malam itu. Nyaris saja, mahkotanya terenggut oleh pria bajingan seperti Raka. Dia baru sadar sekarang, sikap maminya makan itu. Dan mulai menghubungkan kejadian setelah itu.
__ADS_1
"Mbak, jangan bilang Mbak udah ...." Ucapan Bellian terpotong saat Aira membungkam mulut wanita itu.
"Kamu ini kenceng-kenceng ngomongnya. Nanti ada yang denger," balas Aira. "Mbak masih perawan," sambungnya lagi.
"Syukurlah kalau begitu. Lega aku dengernya," ucap Bellian menghela napas lega.
"Lagi pada bahas apa, ini?" Suraj dan Winda masuk ke dalam.
"Oh, aku tau sekarang. Berarti kalian berdua." Bellian menunjuk Aira dan Suraj secara bergantian. "Udah." Setelah itu menyatukan tangannya, dan tersenyum geli.
"Apaan sih!!" seloroh Aira, memukul lengan Bellian.
Winda yang tak tahu apapun hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Menatap sayu persatu mereka bertiga. "Pada bahas apa, sih!"
Mereka bertiga tergelak.
Ada perasaan haru, bahagia yang diperlihatkan oleh Suraj. Bisa melihat Aira kembali ceria. Rasanya tidak tega, jika kesedihan kembali membayangi wanita itu. Dan secepatnya, dia akan menyingkirkan Raka, juga Citra.
Tinggallah mereka berdua, Suraj dan Aira duduk di bangku tamu. Aira menemani Suraj untuk menyantap makanan yang sudah ia buat.
"Sayang, boleh aku tanya sesuatu? ujar Suraj sedikit hati-hati.
"Boleh, mau tanya apa?"
"Selama ini, hasil dari penjualan cafe. Siapa yang pegang?" Walau sedikit pribadi, Suraj harus tahu. Agar dia bisa membantu Aira yang sangat polos.
"Mami."
__ADS_1
Sudah di tebak oleh Suraj, sebelumnya. "Kamu harus punya tabungan, sayang. Berjaga-jaga kalau Citra, bertindak buruk terhadap kamu. Jangan kasih semua pendapatan cafe pada mami. Sisihkan untuk kamu. Kamu yang kerja, kamu harus mengenyam hasilnya."