Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku

Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku
Masih harus menunggu


__ADS_3

Benda itu sudah ada di tangan Suraj. Dengan lihainya, pria yang mempunyai tahi lalat di dekat bibirnya itu fokus memainkan beberapa tombol yang ads di kamera tersembunyi. "Harusnya masih bisa," gumamnya dengan wajah serius. "Tapi kok gak nyala, ya?"


"Kameranya jatuh, mungkin udah rusak," sambut Aira menatap serius benda itu.


"Ya udah, kita simpen aja dulu. Nanti habis nganterin kamu, aku bawa ke tukang servisnya deh. Semoga aja masih bisa berfungsi," balas Suraj, menenangkan Aira yang sudah mulai terlihat gelisah. "Kita berangkat ke pasar dulu, ya?"


Menjadi rutinitas baru untuk Suraj, sebelum berangkat ke kampus. Dengan setianya, mengantarkan Aira belanja. Tak jarang, ia juga turut membantu wanita itu untuk berbelanja. Memilih-milih sayuran yang akan mereka beli.


Jam di pergelangan tangan Suraj, sudah menunjukkan pukul sembilan. Usai mengantar Aira ke cafe, pria yang mempunyai hobi fitness itu meluncur ke kampus. Tempat mengais rezeki.


Dari kejauhan, seorang wanita cantik yang memiliki body aduhai menetap tajam ke arah cafe. Dengan tangan yang mengepal, dan rahang yang mengeras. "Jadi, karena cewek itu. Kamu mengabaikan aku, Suraj. Gak mau aku ajak kembali," gumamnya geram. "Aku akan buat perhitungan sama tuh cewek. Kita liat aja nanti."


Setelah beberapa jam berkutik dengan para mahasiswanya. Jam mengajar pun sudah usai. Baru juga akan melangkahkan keluar kelas, seorang wanita datang menghampirinya.


"Bisa minta tolong sebentar?" pinta wanita itu penuh harap.


"Apa? Katakan!" balas Suraj malas.


"Antarkan aku ke rumah sakit, sebentar. Untuk menebus obatnya mami," sambung Nadine, dengan mengiba. "Beberapa hari ini, mami ngedrop. Dia nanyain kamu, kapan kamu mau datang jenguk!"


Suraj tersenyum geli mendengarnya. Sayang sekali, umpan seperti itu sudah tidak mempan untuknya. Menganggap, apa yang dikatakan oleh Nadine itu semua dusta.


"Bilang sama mami, aku gak akan datang jenguk. Aku doakan saja dari sini. Semoga cepat sembuh," sambungnya dengan nada tegas. "Dan untuk ngantar kamu, aku bakal antar," sambung Suraj, membuat Nadine tersenyum lebar.


"Benarkah?" ulang Nadine, menyakinkan dirinya.


Suraj mengangguk. "Biar bagaimanapun, kamu pernah menjadi bagian dari hidupku. Aku gak tega ngebiarin kamu kesusahan. Ayok!" seru Suraj, berjalan lebih dulu. Diikuti oleh Nadine yang tak hentinya menyeringai penuh kemenangan.


Sesampainya di depan, sebuah taksi online berhenti tepat di hadapan mereka. Suraj sengaja memesannya untuk Nadine. "Silahkan, taksinya sudah nunggu!" serunya menyeringai.

__ADS_1


"Loh, bukan kamu yang nganterin aku?" tanya Nadine, masih bingung.


"Maaf, Nadine. Aku ads urusan yang jauh lebih penting daripada mengantar kamu ke rumah sakit!" sarkasnya, kemudian pergi meninggalkan kekesalan untuk mantan pacarnya itu.


"Suraj!!" teriak wanita itu menghentakkan kakinya. "Tega kamu, ya?"


"Ayo, Mbak! Silahkan masuk!" seru supir taksi online itu pada Nadine.


"Gak jadi!" balas Nadine ketus, setelah pergi dari sana.


"Huhh, dasar aneh."


**************


Sesuai yang direncanakan tadi oleh Suraj. Pria itu sekarang sudah berada di tempat servis langganannya. Untuk mengecek kamera itu.


"Gimana, Wol. Masih bisa dibenerin gak tuh kamera?" tanyanya pada pria yang bernama Sandi.


"Kira-kira, masih normal gak ya? Maksudnya data yang udah terekam, masih bisa kan di lihat?" tanya Suraj lagi, bimbang dan ragu.


"Bisa, aman itu mah. Serahin ke gue."


"Ok deh, makasih ya! Kalau udah jadi, secepatnya Lo kasih kabar ke gue." Suraj beranjak, menepuk pundak pria itu.


"Beres," balas Sandi mengacungkan jempol.


Tinggal Sandi, harapan satu-satunya bagi Suraj dan Aira untuk menolongnya. Akan tetapi, mengingat kelihaian temannya itu. Membuatnya sangat yakin. Bisa membantu mengamankan bukti itu.


Baru juga mau masuk ke dalam mobil, pandangan Siraj beralih pada toko yang menjual pernak-pernik di seberang jalan. Tercetuk ide, memberikan sesuatu untuk Aira.

__ADS_1


"Ada baiknya aku mampir ke sana," ujar Suraj, segera merapat ke tempat itu.


Beberapa kalung liontin yang indah di pandang mata berjejer apik di etalase kaca. Selama bersama dengan Aira, ia belum pernah memberikan sesuatu untuk wanita itu. Sebagai bentuk cintanya pada Aira.


"Ini!" Suraj menunjuk kalung liontin dengan insial nama mereka SA. Yang menjadi pilihan terakhir untuknya. "Dua ya kak!" serunya, mengambil dompet di saku celananya.


Setelah membayar dan menerima benda itu. Suraj memutuskan untuk secepatnya menemui Aira di cafe. Yang saat ini masih disibukkan dengan aktivitasnya.


"Mbak, ada tamu yang nyariin Mbak," ujar Bellian pada Aira.


"Siapa, Yan?" Aira mengrenyit heran. Tidak merasa ada janji dengan seseorang.


"Gak tau. Cewek cantik, wajahnya mirip-mirip artis gitu. Temuin gih!"


Dengan rasa penasaran yang membumbung dalam hati. Aira menemui wanita itu. Wanita yang dengan anggunnya duduk di salah satu bangku dari cafe itu.


"Anda mencari saya?" sapa Aira yang berhasil menemukan wanita itu.


"Iya, silahkan duduk." Di balas ramah oleh wanita itu.


"Maaf, ada yang bisa saya bantu?" tanya Aira sedikit gugup berhadapan dengan wanita itu.


"Jadi, gini. Saya mau ngadain acara ulang tahun di rumah. Saya mau menyewa tenaga Mbak, untuk membuatkan sajian di acara tersebut," tawar wanita itu, menjanjikan. "Kira-kira dalam porsi untuk tiga ratusan orang, deh. Gimana?"


"Wah, bisa." Aira nampak semringah mendengarnya. Tanpa berpikir lagi, ia langsung setuju. "Kira-kira kapan, ya?"


"Lusa," jawab wanita itu tersenyum merekah.


"Baik, saya bisa."

__ADS_1


"Ok, deal." Wanita itu mengulurkan tangan, dengan senyum yang sulit untuk diartikan.


"Deal!"


__ADS_2