Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku

Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku
Puncak penderitaan Aira


__ADS_3

Gemuruh dalam dadanya kian sesak. Rasa tak ada lagi celah oksigen di dalamnya. Menyusuri jalanan yang mulai sepi, membuat Aira merasa sendiri. Hidup bagai di ambang kepiluan, yang menyakitinya.


Di saat ia menemukan orang yang ia anggap baik. Ternyata, semua itu harus dipupuskan eh pengakuan Nadine. Tentang hubungannya dengan pria itu.


Yang tak kalah menyakitkan lagi, selama ini Suraj tidak pernah cerita. Kalau ia sempat gagal bertunangan dengan seorang wanita. Aira menganggap, tidak pentingkah dirinya untuk sekedar tahu. Masa lalu pasangannya. Apa mungkin, benar yang dikatakan oleh Nadine. Suraj sengaja menutupi semuanya. Karena belum yakin dengannya. Mengingat status sosial mereka berbeda.


"Mungkin, kita memang gak berjodoh. Aku gak pantas untukmu," gumam Aira, mengusap sisa-sisa air mata. "Kita bagaikan punguk merindukan rembulan. Bagaimana Cinderella yang bermimpi mendapatkan pangeran tampan. Sayangnya, semua itu hanya ada di negeri dongeng. Tidak untuk di dunia nyata." Aira menertawakan dirinya yang hina, yang tak sepadan jika bersanding dengan Suraj. Beda jauh, jika bersama Nadine uang status sosialnya sepadan.


"Aku akan menghindar, maafkan aku. Jika ini jalan yang terbaik. Maaf," ucapnya lagi, masih dalam hati. Mengingat dirinya, berada di dalam taksi online.


"Udah Mbak, gak usah nangis lagi. Kalau lagi putus cinta. Gak usah nangis, kalau jodoh juga bakal balik lagi," seloroh supir taksinya yang melihat Aira terisak.


Di tempat lain, Raka dan Citra sedang berpesta merayakan kemenangan mereka. Berbagai bentuk makanan dan minum-minuman keras sudah berjejer di meja ruang tamu. Tak hanya itu, mereka mengundang beberapa teman-temannya untuk membuat suasana semakin meriah.


"Akhirnya, setelah hampir dua puluh tahun menanti. Hari ini .... Hahahaha hari ini aku berhasil mendapatkannya," racau Citra, yang mulai tak terkontrol akibat pengaruh alkohol.


"Itu semuanya berkat aku," seloroh Raka bangga, menepuk dadanya.

__ADS_1


"Iya, sayang?" Citra, mengulum bibir Raka sekilas. Bangga dengan berondong kesayangannya itu.


"Sebentar lagi. Aku akan menjadi pemilik satu-satunya rumah ini. Hahahaha," tawa Citra merentangkan tangannya, dengan wajah yang mendongak ke atas.


"Dan kelinci kecil itu, akan aku buang dari sini. Buang jauh-jauh dari sini!!!! Hahahaha," sambungnya, girang membayangkan Aira menderita menjadi pengemis di jalanan.


Sampai juga Aira di rumah. Sedikit bingung karena ada beberapa mobil yang terparkir di halaman rumah. Tak ingin ambil pusing, ia tetap berjalan sampai di depan pintu. Ia berhenti, memandang kesal dengan kelakuan mereka yang berpesta minuman keras di sana.


Menyadari kedatangan Aira, Citra beranjak mendekat. Dengan tubuh yang sempoyongan. "Akhirnya pulang juga, kamu!!" tunjuk wanita itu ke arah Aira.


"Ya ampun, Mi. Mami kapan akan berubahnya," lirih Aira pilu, melihat kelakuan maminya yang semakin menjadi.


Aira melonjak keget, mendengar ucapan Citra. "Apa maksud mami?" lirihnya, mulai berkaca-kaca.


"Sayang!" seru Citra tertuju pada Raka, dan pria itu langsung berdiri. "Ambil semua barang-barang wanita ini. Seret dia untuk pergi dari sini!" titahnya, tegas tidak ada rat bercanda di wajahnya.


"Mi, Mami kenapa jadi begini!" ujar Aira mencoba meraih tangan Citra, namun dihempaskan begitu saja oleh wanita itu. "Mami gak beneran kan usir Aira. Aira salah apa, Mi?" Aira menangis pilu. Air matanya tak lagi bisa di bendung.

__ADS_1


"Kamu pengen tahu salah kamu apa?" tandas Citra melotot, dengan tangan yang mencengkram rahang Aira. Wanita itu meringis menahan sakit. "Karena kamu akan menjadi benalu di rumah ini. Kalau gak segera di berantas," sambungnya semakin kuat cengkeramannya.


"Sakit, Mi. Lepasin," rintih Aira, memohon. Setelah itu dihempaskan ke lantai. Bersamaan dengan itu dua koper yang dibawa oleh Raka, dilempar tepat di hadapannya.


"Mi, tolong jangan usir Aira dari sini. Ini rumah kita, rumah Aira juga." Aira merangkak, meraih kaki Citra memohon agar wanita itu tidak mengusirnya.


"Rumah kita? Hahahah!" Citra terbahak mendengar ucapan Aira menggelitik di telinganya. "Sekarang bukan lagi rumah kita. Tapi, rumah saya... Hahahaha." Dengan tertawa lepas, Citra semakin menjadi menyiksa Aira. Yang sudah lama ia tahan karena dia masih dalam naungan wanita itu. Tapi setelah apa yang ia inginkan tercapai. Ia limpahkan kekesalannya selama ini pada Aira.


"Pergi!!!" usirnya, menendang Aira hingga terhempas ke lantai. "Pergi dari sini!" sambungnya kesal, menyeret tubuh Aira hingga menjauh dari pintu. Di susul oleh Raka yang membawakan koper milik Aira.


Jali yang melihatnya, mendekat. Berusaha untuk menolong majikannya.


"Jangan Nya, kasihan Non Aira!" cegah Jali, sama sekali tak dihiraukan.


Aira semakin meronta, meminta ampun agar tidak di usir dari rumah itu. Tapi, semua itu tak mampu meluluhkan hati Citra yang semakin gencar menyiksanya. Hingga terseret jauh dari rumah, dan meninggalkan dirinya sendiri di tempat itu.


"Jali! Masuk!" Kemudian memerintahkan supirnya untuk masuk ke dalam.

__ADS_1


"Mi, jangan usir Aira Mi." Wanita itu terus memohon, dengan derai air mata yang semakin sering.


__ADS_2