Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku

Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku
Jelas, sudah


__ADS_3

Sedikit terbuka di hati Aira, saat Suraj dengan sungguh-sungguh memintanya untuk ikut. Entah mengapa jantungnya berdegup kencang, seolah akan ada sesuatu yang terjadi menimpa dirinya.


"Ra, kita tidak banyak waktu untuk segera sampai di sana," ujar Suraj lagi, mengingatkan Aira yang tiba-tiba terdiam termangu.


"Ada apa, ini?" lirihnya pasrah.


Mereka berdua masuk ke dalam. Baru juga di ambang pintu masuk hotel itu. Seorang petugas menghampiri mereka.


"Ada yang bisa kami bantu?" tanyanya masih terlihat ramah.


"Kami mau bertemu dengan temen saya di hotel ini," jawab Suraj, hanya itu yang keluar begitu saja dari bibirnya.


Petugas itu memperhatikan dengan intens mereka berdua. Sebelah alisnya naik ke atas. Jelas, kalau ada kecurigaan yang mulai membumbung dalam benak pria bertubuh kekar itu.


"Ada urusan apa?" tanyanya, remeh.


"Gak ada, Pak. Hanya ingin bertemu saja, dia sudah menunggu kami di kamar."


"Maaf, kalau seperti itu kami tidak bisa membiarkan Anda masuk. Tidak sembarangan, menerima tamu. Untuk kenyamanan tamu kami." Dengan tegas, pria itu tidak mengizinkan mereka masuk ke dalam.


Suraj hanya bisa menahan napas, sudah dapat di pastikan. Memang sedikit ketat untuk keluar masuk ke hotel itu. Mereka harus punya card ID, sebagai simbol tamu ataupun orang-orang tertentu yang sudah diizinkan.


"Tapi, Pak. Ini sangat penting, ini masalah hidup dan mati Mbak ini." Suraj menarik tangan Aira, agar bisa terlihat dengan jelas oleh pria itu. "Di dalam sana, ada suaminya yang main serong dengan wanita lain. Apa Bapak gak kasihan, membiarkan Mbak ini terus di bohongi sama suaminya?"

__ADS_1


Suraj menjadikan Aira sebagai umpan, agar bisa masuk ke dalam. Tidak ada pilihan lain, selain mengatakannya langsung pada Aira. Tujuannya meminta Wanita itu untuk masuk ke dalam.


Sekarang, pandangan petugas itu beralih pada Aira. Wajahnya yang sayu, membuat pria itu percaya. Di tambah penampilan Aira yang di pandang sebelah mata oleh pria itu. Dan mengwajarkan suaminya selingkuh.


"Ini untuk Bapak." Suraj memberikan beberapa lembar uang untuk petugas itu. Untuk mempercepat semua.


"Baiklah, saya akan antar kalian berdua. Untuk memastikan, apa yang kalian katakan itu benar."


Siraj dapat tersenyum lega, mendengarnya. Tak sadar, ia menggenggam tangan Aira yang terasa dingin. Mungkin, karena gugup akan melihat hal yang selama ini tidak ia percaya.


"Nggak usah gugup, aku akan ada selalu di sampingmu."


Suraj mempererat genggamannya. Menatap wajah Aira dengan penuh cinta. Mereka berjalan beriringan menuju ke kamar 1234.


Sampai juga mereka di lantai delapan. Di mana kamar 1234 berada. Jantung Aira semakin berdebar. Sementara Suraj, sudah tak sabar ingin memergoki dua lacknatt itu sedang berdesah manja dalam limpangan penuh dosa.


Di dalam sebuah kamar hotel, suasananya semakin memanas. Udara dari AC, bahkan tak mampu mendinginkan tubuh dua orang yang sedang bergumul panas. ******* nikmat, memenuhi ruangan itu.


"Arghhhh, lebih kuat lagi sayang!" racau Citra di ujung kenikmatannya.


Raka semakin sering menghantam tubuh Citra. Kecepatannya semakin kencang. Dan saat akan menyemburkan lahar panasnya. Pintu terbuka dari luar. Sontak mengagetkan mereka berdua.


"Mami," ucap Aira dengan tubuh memanas. "Mas Raka," sambungnya tak percaya.

__ADS_1


Tubuhnya lemas seketika, mendapati dua orang yang ia cintai tidur satu ranjang, tanpa busana. Cairan bening yang sudah memupuk di kelopaknya. Jatuh membasahi pipinya.


Dadanya sakit, menyaksikan itu semua. Kepercayaan yang ia bangun selama ini. Lebur sudah, dengan mata kepalanya sendiri melihat pengkhianatan suami dan maminya.


"Apa yang kalian lakukan di sini," isaknya tak mampu lagi menopang tubuhnya. Bersyukur ada Suraj di sampingnya. Dengan sigap, pria itu menangkapnya. Aira terisak dalam dekapan Suraj.


Tak sanggup untuk melihatnya terlalu lama. Aira bergegas pergi, lari Yang jauh dari dua orang pengkhianat itu. Tak tinggal diam, Suraj mengejarnya. Menyisakan petugas itu yang menelan ludah menyaksikan adegan itu.


Raka masih berada di posisi yang sama. Di atas tubuh Citra. Saking terkejutnya, mereka tidak bisa berkata-kata lagi. Junior yang tadi hampir mengeluarkan lahar panasnya, seketika menciut karena kaget.


Tidak ada rasa penyesalan sekalipun dari Citra. Saat Raka hendak turun, wanita itu mencegahnya. "Mau ngapain, kamu?"


"Aira, Mi. Bagaimana ini?" Raka panik, berniat akan menyusul istrinya.


"Biarkan saja!"


************


Hancur sehancur-hancurnya melihat kejadian itu. Bayangan Aira menampar Suraj usai ijab qobul nya, menghantui dirinya. Kata-kata Suraj mengingatkan dirinya memenuhi kepalanya. Menyesal, kenapa dia buta, dia tuli. Tidak mau mendengar pendapat orang lain. Padahal dari awal, kecurigaan itu sudah ada. Buta, karena itulah ia tidak mau mendengar. Bahkan menutup rapat-rapat telinganya, saat orang lain mengatakan kebenaran itu.


Aira berhasil keluar dari gedung itu. Dia terus berlari, dengan sisa tenaganya menuju jalan raya. Tiba-tiba saja mobil berwarna hitam bergerak sangat kencang ke arahnya.


Brakkkkkkkk stttttttttt pyarrrrrrree

__ADS_1


__ADS_2