
Cukup lama, Siraj memandang bangunan itu. Hingga mengundang satpam yang ada di sana, mendekat.
"Maaf, ada yang bisa saya bantu? Anda mencari siapa?" tanya pria yang memakai seragam mirip polisi itu polos.
"Ehmm, iya Pak. Saya ada janji dengan seseorang yang ada di dalam sana," jawabnya tegas.
"Oh, silahkan masuk. Sama pak Kinos, ya?" Pria itu mempersilahkan dirinya masuk ke dalam. Kemudian bertanya lagi padanya.
"Iya, saya permisi dulu!"
Menurut yang ia baca dari dokumen itu. Seharusnya, ia menemui Kinos. Suraj tidak tahu, jika orang yang akan bertemu dengannya adalah Aira. Akan tetapi, perasaan mereka tidak bisa di bohongi. Begitu masuk ke dalam. Yang pertama ia lihat adalah foto seorang wanita cantik.
Foto itu mengingatkan dirinya pada seseorang. Yang dia sendiri bingung, siapa. Lama, Suraj memandangi gambar itu. Hingga ponselnya yang mengembalikan kepada.
"Iya, Pi. Suraj udah sampe, ini tempatnya masih sepi. Belum ada banyak orang," ucapnya pada Maholtra yang ingin tahu reaksinya, saat pertama kali bertemu dengan Aira.
"Jadi, kamu belum ketemu sama orangnya langsung?" tanya Maholtra, menyakinkan dirinya.
Suraj menoleh ke kanan, kiri. Mencari orang yang ia cari. "Belum ada, Pi. Yang datang baru OG nya aja. Keknya atasan mereka belum datang," jawabnya jujur.
"Iya udah, kamu tunggu aja. Jangan lupa kabari papi," sambut Maholtra tak sabar. Kemudian menutup panggilan telponnya.
Suraj berjalan beberapa langkah dari tempat ia berdiri tadi. Kemudian OG cantik menghampirinya. Mempersilahkan dia untuk menunggu di dalam. Di ruang tunggu yang sudah disediakan oleh mereka.
__ADS_1
"Kok aku kayak pernah liat artis itu ya? Tapi, dimana!" gumamnya terus mengingat-ingat. "Wajahnya gak asing. Kek udah kenal lama. Apa mungkin, itu hanya imajinasi aku aja?"
Suraj masih menunggu kedatangan Kinos. Tak lama, seorang wanita cantik yang di duga adalah assisten pria yang ia cari, menghampirinya.
"Tunggu sebentar lagi, mbak Kettyera udah di jalan," ujar wanita itu, memberikan kabar.
"Kettyera?" Suraj mengerenyit bingung. Tak mengerti dengan apa yang disampaikan oleh wanita itu.
"Iya, mas Kinos gak bisa hadir menemui anda. Jadi, mbak Kettyera sendiri yang akan menemui anda," sahut wanita itu lagi.
Setelah diberitahu, Suraj menganggguk paham. Meski sedikit kesal, harus menunggu. Perasaannya lebih tenang, tegang, bercampur aduk jadi satu. Seperti sedang menunggu kekasih yang lama tak jumpa.
**********
Udara dingin, sisa hujan semalam. Semakin mendayu-dayu. Padahal hari sudah sedikit siang. Namun, masih terlihat gelap, akibat mendung hitam yang masih menggantung di langit.
"Ini kenapa sih, mataku gak bisa di ajak kompromi!" keluhnya, sesekali mengelap wajahnya kasar.
Aira mencoba abai. Tetap melanjutkan perjalanan menuju ke kantor. Naas tak dapat di hindar, seorang pejalan kaki yang akan menyeberang, nyaris menjadi korban dari kelalaiannya. Untung, kakinya menginjak pedal rem dengan tepat waktu. Sehingga tidak sampai melukai pejalan kaki itu.
Karena terkejut, seorang wanita terkulai di aspal. Mata terpejam, seolah pasrah. Jika malaikat Izrail mencabut nyawanya saat itu juga. Hidupnya sudah hancur, sehancur-hancurnya. Setelah beberapa kejadian membuat wanita itu sadar akan kesalahannya.
"Ibu, gak apa-apa?" tanya Aira yang sudah ada di hadapannya.
__ADS_1
Perlahan, wanita itu membuka mata. Ekor matanya mengelilingi tempat itu. Ia terkejut, saat arwahnya masih melekat di badan.
"Aku belum mati ya?" ucapnya terhenti. Saat melihat Aira terlihat mengkhawatirkan keadaannya.
Sementara Aira, terperanjat kaget melihat keadaan wanita itu. Yang tak lain tak bukan adalah Citra. Penampilannya kusut, compang-camping. Seperti gelandangan yang mengiba belas kasihan orang lain.
"Mami," lirihnya, namun begitu jelas terdengar di telinga Citra.
"Mami?" ulang Citra, sedikit terkejut. "Kaku kenal saya?"
Sakit hati yang dulu sempat memupuk hatinya. Lebur sudah, melihat keadaan Citra yang sekarang. Beribu pertanyaan, terlintas di benaknya.
"Ini Aira, Mi," sebutnya dengan lirih. Sangat lirih. Ia bahkan malu, mengenalkan dirinya yang sekarang. Ada rasa tak tega, dalam diri wanita itu.
"Aira?" Citra menggeleng. Sangat terkejut dan tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh wanita itu. "Gak mungkin, kamu berbohong, kan?" Citra menggoyang-goyangkan pundak Aira. Tidak percaya, hanya itu yang ada dalam dirinya.
Aira yang dulu ia kenal, tidak secantik itu. Kumuh, lusuh, tidak layak, tak sepadan dengannya. Apa yang ia lihat sangat jauh berbeda. Karena itu, Citra tetap kekeh tidak mempercayai semua ucapan Aira.
"Ini Aira, Mi." Air matanya tumpah. Tak dapat di bendung lagi. Segera, ia rengkuh tubuh lusuh itu dalam dekapan. Menumpahkan rasa rindu yang tiga tahun ini ia coba tahan.
Benar, Citra memang mempermalukan dirinya seperti sampah. Bahkan, lebih guna dari pada itu. Sakit hati? Tentu saja ia rasakan. Namun, tak mengurangi sedikit pun baktinya pada wanita itu. Dan berjanji, suatu saat nanti akan menemui maminya itu. Takdir berkata lain. Mempertemukan mereka dalam keadaan yang sebaliknya.
"Ini benar, kamu?"
__ADS_1