Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku

Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku
Rencana terselubung


__ADS_3

Usai berbincang dengan mereka. Raka mulai jenuh. Ingin secepatnya pergi dari sana.


"Kita mau kemana, sayang?" Citra bertanya pada Raka.


"Cari makanan lah, aku lapar sayang. Habis bertempur sama kamu," goda Raka mengedipkan sebelah matanya.


"Emmm, apa gak sebaiknya kita pulang sekalian?" Citra memberi saran. Dia hanya tak mau, hubungannya dengan Raka harus berakhir hanya karena kecurigaan Aira. Yang terlalu sering mereka bodohi. .


"Apa kamu yakin, akan mengakhiri liburan kita hari ini?" tegas Raka melirik wanitanya.


"Mami mana pernah mau jauh dari kamu," sahut wanita itu menyiratkan kesedihan. "Tapi, mau bagaimana lagi. Gak mungkin 'kan kita tinggal serumah. Kecuali ..." Citra menatap intens pria yang ada di sebelahnya.


"Kecuali apa?" Raka menoleh sebentar, setelah itu fokus dengan pengemudinya.


"Kamu mau menikahi aku," celetuk Citra, dengan wajah putus asa. Itu tidak akan mungkin terjadi. Citra sadar, selama ini hubungannya dengan Raka hanya sebatas penyalur *****. Sama-sama saling membutuhkan. Raka membutuhkan uang dari Citra. Pun sebaliknya, wanita itu butuh orang yang bisa menyalurkan hasratnya. Dan itu ia dapatkan dari Raka.


Raka terdiam sejenak. Berpikir keras, dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Citra. Menikahi wanita itu? Mungkin tidak pernah terlintas sebelumnya, di benak pria itu. Akan tetapi, selain uang. Raka memang nyaman berada di samping Citra. Mungkin, wanita itu bisa memanjakan dirinya. Menuruti kemauan yang selama ini tidak ia dapatkan dari orangtuanya.


Rak sebatang kara di ibukota. Awalnya ia merantau dari kampung halamannya untuk merubah nasibnya. Siapa yang mengira, kalau dia akan sukses dengan jalur cepat. Dengan jalur, menjadi pemuas hasrat Citra yang ia kenal beberapa bulan lalu. Pertemuan yang tidak sengaja, berakhir dengan hubungan gelap yang terjadi pada mereka saat ini.


"Kenapa kamu diam?" Citra kembali bersuara, setelah hening tercipta beberapa saat di sana. "Aku tahu, kamu nggak bakal mungkin mau melakukan itu," sambungnya mulai kesal. "Siapa juga yang mau sama emak-emak kayak mami."


Bukan itu yang menjadi pertimbangan Raka saat ini. Tetapi, Aira. Bukankah semua orang tahu, kalau mereka pacaran. Apa kata orang, jika menikahnya dengan Citra.


"Terus, gimana sama perasaan Aira?" tanya Raka balik.

__ADS_1


"Hah! Kenapa kamu tanya seperti itu? Kamu cinta sama anak itu?" Citra melempar balik pertanyaan Raka.


"Hahaha, cinta?" Ulang Raka tertawa lepas. "Sama sekali nggak. Siapa sih yabg mau sama cewek dekil kayak dia?" tandasnya, jijik membayangkan Aira. Citra pun tergelak, menggeleng.


Tak ada sedikitpun ada perasaan untuk Aira. Raka terpaksa mempacari gadis itu semata-mata hanya untuk menjadi tameng. Agar hubungannya dengan Citra tidak disadari oleh orang lain. Dengan begitu, ia bebas jika bertemu dengan Citra. Meski, Aira tidak ada di rumah.


"Terus, gimana dong?" Citra bertanya lagi. "Mami gak mau jauh dari kamu, Raka. Mami gak bisa," ucapnya manja.


"Emm, mami punya ide."


"Apa, sayang?"


**************


Seorang gadis tampak sibuk dengan daftar menu yang ia pegang. Sejak cafe buka, ia bahkan belum sempat untuk makan siang. Banyak pelanggan silih berganti, masuk dan pergi. Sehingga tak punya waktu untuk istirahat.


"Iya, Mbak."


Ditengah kesibukannya yang hilir mudik melayani pembeli. Tiba-tiba saja, ada seseorang yang mengulurkan sebungkus roti untuknya.


"Ambil, kamu harus makan!"


Suara orang itu mengingatkan Aira pada seseorang. Ia pun mengangkat wajahnya, dan benar. Gadis itu tersipu malu, mendapati Suraj yang memberikan roti itu padanya.


"Makasih," sambutnya mengambil sebungkus roti itu. "Em, silahkan duduk." Aira melihat sekeliling, ada bangku kosong di sebelahnya. Kemudian mempersilahkan Suraj untuk duduk.

__ADS_1


"Kok kamu tahu, kalau aku ada di sini?" Aira melempar pertanyaan pada pria itu.


"Bukankah aku sudah pernah katakan padamu. Kalau kita ini jodoh. Sejauh apapun tuhan memisahkan kita, suatu saat akan mempertemukannya juga," goda Suraj, membuat wajah Aira tersipu malu. "Emmm, ngomong-ngomong. Kayaknya kamu sedikit sibuk, ya?" tanyanya, dengan iris mata yang mengelilingi ruangan itu.


"Lumayan, Alhamdulillah. Akhir-akhir ini cafe rame banget. Keknya butuh nambah karyawan lagi deh," keluh Aira terlihat capek.


"Wah, kebetulan dong kalau begitu!" sahut Suraj, tersenyum menyeringai.


Aira mempertajam pendengarannya. "Maksudnya apa, nih?"


"Ya, bolehlah aku melamar kerja di sini." Suraj memintanya dengan wajah mengharap.


"Apaan sih! Aku gak akan sanggup bayar kamu."


"Aku gak minta bayaran kok!"


Aira terkejut mendengarnya. Dia menyiapkan diri agar tidak baper dengan gombalan Suraj selanjutnya.


"Kok bisa?"


"Cukup melihatmu tersenyum. Itu sudah menjadi bayaran yang pas buat aku."


Blushhh


Lagi, Suraj selalu bisa membuat dia tersipu malu. Dengan gombalan recehnya, nyatanya mampu mengisi sedikit kekosongan dalam hati Aira yang mulai dibebani dengan kebimbangan.

__ADS_1


"Aku gak berlebihan 'kan?"


__ADS_2