
Citra terpaksa mengeluarkan uang tabungannya untuk menutupi ganti rugi yang di minta mereka. Tak ada pilihan lagi, selain membayarnya. Dari pads dia masuk penjara dan cafe akan di tutup pihak kepolisian.
Semua karyawan di kumpulkan oleh wanita itu. Unyuk di sidang, mencari penjelasan pada mereka. Kenapa semua itu bisa terjadi.
"Ada yang bisa jelaskan sama mami. Apa yang sebenarnya terjadi?" sentak Wanita itu murka. "Kenapa makanan nasi, kalian jual? Hah!!" Dadanya naik turun, menahan amarah yang mulai tak terkendali.
"Maaf, Mi. Sebenarnya kami gak tahu masalah itu. Kami hanya memasak bahan yang ada. Yang sudah tersedia di lemari pendingin. Kata Mellisa, pake bahan itu saja," ujar Bellian yang berani berkata jujur. Walau sebenarnya, Mellissa dan Raka sudah memintanya untuk bungkam.
"Brengsek!!" tandas Citra yang mulai tahu titik permasalahannya. "Apa saja kejahatan mereka, yang kalian tahu?" sambung wanita itu, mulai mengulik tentang hubungan Raka dan Mellissa lewat kedua karyawannya.
Seketika mulut mereka bungkam. Tak ada yang berani menatap wajah Citra. Takut salah bicara. Yang ada akan membahayakan diri mereka.
"Kalian gak usah takut, mami udah tahu semuanya," ujar Citra yang tahu posisi mereka.
Bellian menceritakan semuanya. Kalau selama ini Mellisa tak bekerja dengan baik. Seperti yang dipikirkan oleh Citra. Semua pekerjaan cafe, mereka berdua yang melakukannya. Tak hanya itu, Mellisa dan Raka mengambil sepertiga penghasilan cafe. Uang yang diberikan pada Citra, tidak pernah penuh.
"Brengsek!!?? Arhhhhhhh!" teriak Citra marah. Semua benda yang nampak di depan mata. Ia lempar ke lantai. Membuat kedua karyawannya menunduk takut. "Pergi!!! Kalian boleh pergi!!" Kemudian mengusir Bellian dan Winda. Diikuti tangis pecah yang menghantam tubuhnya.
Nasi sudah menjadi bubur. Ia tak bisa lagi berbuat apa-apa. Selain menerima kenyataan pahit itu. Uang tabungan mulai menipis. Selama ini ia terlalu ceroboh, terlalu percaya pada mereka berdua. Yang ada, sebuah penyesalan yang ia dapat.
__ADS_1
Beda jauh dengan Aira yang makin bersinar. Di mana-mana terpampang wajah wanita itu. Bisnisnya sukses memberikan penghasilan yang luar biasa. Aira memanfaatkan kekayaannya untuk investasi. Beberapa ruko sudah menjadi miliknya. Tujuannya satu, merebut kembali cafe peninggalan papinya dari Citra. Yang sekarang, ia tak tahu seperti apa keadaannya.
"Kak, Ki. Boleh minta tolong gak?" ujar wanita itu pada managernya.
"Apa, Ra. Apa sih yang gak buat kamu. Apapun itu, aku siap bantu.", Mulai lagi rayuan maut Kinos untuk meluluhkan hati Aira.
"Bisa antar aku ke cafe mami Citra?" pinta Aira, setengah memohon. Saat mereka sedang melakukan perjalanan pulang ke apartemen.
"Hah!" Kinos terkejut. Jarak yang harus di tempuh ke cafe itu cukup jauh. Mengingat hari sudah malam.
"Kamu yakin?" tanya Kinos memastikan. "Harus malam ini juga?"
"Apa kamu akan menemui mami kamu?" ulik Kinos ingin tahu.
Aira menggeleng. Belum siap jika berhadapan langsung dengan maminya. "Gak, Kak. Aku akan datang di waktu mami benar-benar membutuhkan aku. Di saat itu, aku akan tunjukkan padanya. Inilah Aira yang ia hina dulu. Yang membantunya dalam kesusahan."
Penjelasan Aira membuat Kinos mengerti. Rasa sakit yang tumbuh dalam hati wanita itu sangatlah besar. Hingga segitunya, tidak ingin bertemu dengan orang yang melahirkan wanita itu.
Jarak yang harus di tempuh dari tempat mereka sekarang, ke cafe lumayan jauh. Kinos menyarankan Aira untuk tidur lebih dulu. Setelah sampai, nanti akan dibangunkan oleh pria itu.
__ADS_1
Lewat aplikasi WPS map, mereka sampai di kawasan cafe. Kinos memelankan laju kendaraannya, sambil mengedarkan pandangannya ke arah jalan. Mencari plakat nama cafe yang di beritahu Aira.
"Nah, itu dia cafenya!" tunjuk Kinos pada bangunan pinggir kiri jalan yang sudah terlihat sepi. "Aku bangunin Aira deh," sambungnya melirik wanita yang tertidur pulas di samping.
"Ra, bangun! Kita udah sampai, loh!" ucap pria itu menepuk pundak Aira.
Wanita itu mengerjap, ekor matanya melihat ke arah depan. "Kita udah nyampe, ya?" ucap wanita itu dengan mata berbinar. Tidak ada yang beda dari bangunan itu. Masih sama, seperti tiga tahun lalu. Hanya saja, ada lampu-lampu kecil menuju ke pintu utama.
"Pi, Aira datang, Pi. Hiks hiks," tangisnya pecah. Teringat perjuangannya bersama sang papi, saat cafe mengalami penurunan pendapatan. Ia harus berjuang mencari cara agar cafe tetap bertahan.
"Apa kamu mau turun, Ra? Mungkin, kamu ingin melihat lebih dekat lagi," tawar Kinos siap menemaninya.
"Gak, Kak. Aku belum sanggup untuk melangkahkan kaki ke sana," tolak Aira, hampa.
Mereka memperhatikan dari dalam mobil keadaan cafe itu. Hingga, sebuah bayangan seseorang yang mencurigakan berada di depan cafe.
"Ra, kayaknya orang itu mau berbuat jahat, deh!" Kinos menunjuk pada bayangan hitam, yang sepertinya menggunakan masker di wajahnya. Tidak terlihat jelas di mata Aira.
"Iya, Kak," jawab Aira panik.
__ADS_1