
Aira mengambil ponsel Suraj. Setelah ia mempertimbangkan matang-matang, entah alasan apa yang membuat wanita itu akhirnya memilih untuk memberikan nomor ponselnya pada orang yang baru saja ia kenal.
"Ini!" serunya datar, tanpa ekspresi.
"Makasih, Ra." Suraj mengambil ponsel itu, dengan senyum kemenangan. Dia berhasil mengantongi nomor wanita itu. Wanita yang mengisi hatinya, selama beberapa hari ini.
"Aku pamit, ya? Udah siang," ujar Aira pada Suraj.
"Kamu pulang naik apa? Sopir kamu belum jemput? Ra, izinkan aku ngantar kamu ya? Plis!" rayu Suraj, berharap hari Aira luluh.
Aira mengedarkan pandangannya ke sekeliling pasar. Jam segini akan sulit mencari kendaraan kosong. Mereka sibuk mengantarkan penumpang lain. Sementara mang Jali, udah daritadi di SMS, kok belum muncul juga.
Aira mengembuskan napasnya panjang. Tak punya pilihan lain, selain menerima tawaran Suraj. Dia juga tidak mungkin, membawa beberapa kantong belanjaan itu dengan berjalan kaki.
"Ya sudah," ucap Aira pasrah.
Senyum mengembang langsung terpancar dibibir Suraj. Sekali dayung, satu dua pulau terlampaui. Hahaha, selain mendapatkan nomor ponsel gadis itu. Dia juga berhasil mengantar Aira sampai ke rumah.
"Nanti, dipertigaan itu, kita belok ya?" tunjuk Aira mengarahkan tempat tinggalnya.
Suraj kembali menyunggingkan senyum. Padahal, dia sudah tahu dimana tempat tinggal Aira selama ini. Tanpa sepengetahuan gadis itu. Suraj sengaja mencari tahu semuanya. Termasuk hubungan gelap antara Raka dan maminya Aira.
"Ok, terimakasih ya? Udah mau nganter."
"Siap. Sampai ketemu besok?" sambut Suraj dengan bersemangat.
Dibantu oleh satpam dan Jali membawakan belanjaannya. Aira masuk ke dalam.
__ADS_1
"Maaf ya, Non. Mobilnya ngadat. Tadi udah panggil orang bengkel kok," kata Jali menyesal, tidak bisa menjemput Aira.
"Nggak apa kok, Mang."
****************
Suasana riuh terjadi di salah satu ruang kelas kampus ternama di ibukota. Apalagi kalau bukan seruan untuk dosen mereka yang telat masuk.
Ini kali keduanya Suraj telat mengajar di kelas itu. Semenjak bertemu dengan Aira. Gadis unik yang mengisi hati dan pikirannya.
Aira memang tidak cantik. Dan itu disadari oleh Suraj. Akan tetapi, Aira punya daya tarik sendiri yang langsung menggetarkan hatinya. Padahal, banyak wanita yang menggilai dirinya. Berlomba-lomba mendapatkan cintanya. Tak ada satupun yang menarik perhatian Suraj. Selain Aira.
"Bapak lagi jatuh cinta, ya?" seloroh salah satu mahasiswanya.
"Eh, sembarangan aja kalau ngomong," sahut salah satu mahasiswi yang menggilai Suraj. "Pak Suraj itu lagi nungguin aku, iya nggak pak?" sambungnya menggoda dosen muda itu.
Mendapat sahutan dari yang lain. Seperti itulah suasana belajar mengajar di mata pelajaran Suraj. Santai tapi berbobot. Dia bisa berbaur dengan mahasiswanya. Tanpa mengurangi statusnya sebagai pengajar.
"Ok, untuk tugas hari ini adalah diskusikan dengan rekan kalian. Pokok halaman 114, yang pertemuan minggu lalu sudah kita bahas," perintah Suraj mulai serius.
Dua jam berlalu, semua tugas dari Suraj diselesaikan baik oleh para mahasiswanya. Itu yang menjadi kepuasan tersendiri untuk Suraj. Materi yang ia berikan masuk ke otak mereka.
"Eh, Sarah. Jadi nggak nongki di tempat biasa!" ujar salah satu mahasiswi di kelas itu.
"Jadi dong! Gue tuh malas banget kalau di rumah. Liat ibu tiri gue yang makin menjadi." gerutu Sarah memutar bola matanya.
"Iya udah deh, nanti biar cowok gue jemput kita ke sana."
__ADS_1
Mereka berdua beranjak dari tempat duduknya. Pun dengan Suraj yang selesai dengan kerjaannya di kelas itu.
"Mari, Pak!" sapa dua orang mahasiswi itu pada Suraj, saat melintas di depannya.
"Iya," balas Suraj singkat.
"Eh, Rah. Gue tuh kasihan banget ama Aira," kata Veronica, yang di dengar oleh Suraj. Sontak, ia ingin tahu lebih banyak lagi tentang apa yang sedang dibicarakan oleh dua orang gadis itu.
"Iya, ya. Gue juga kasihan. Diusianya yang masih muda, harusnya 'kan dia menikmati masa mudanya. Eh, malah dijadikan sapi perah sama ibunya. Jahat banget gak sih!" celetuk Veronika lagi.
"Banget."
Setelah memastikan orang yang sedang mereka bicarakan adalah Airanya. Suraj tak tinggal diam. Dia langsung memanggil dua gadis itu.
"Vero, Sarah tunggu!" serunya mendekat.
"Eh, Pak Suraj." Mereka menoleh. "Ada apa, Pak?" Kemudian bertanya.
"Saya cuma mau tahu, dimana cafe yang kalian maksud? Sepertinya seru." Suraj mulai menyelidiki, dimana cafe milik Aira. Berarti, selama ini dia melewatkan informasi itu.
"Yealah Pak. Itu loh, Cafe Mami Citra, depan kampus kita ini," jawab Sarah menggebu.
"Hah!!! Serius?" Suraj terperangah kaget. Ternyata jodohnya begitu dekat dengannya. Pria itu tersenyum tipis, siap dengan rencananya.
"Yealah Pak, Bapak kemana aja selama ini. Asyik tau, Pak. Nongki di sana," sambung Veronica tak kalah bersemangatnya. "Apalagi, kalau ada Bapak di sana. Pasti tambah seru," godanya, tersenyum getir.
"Makasih, infonya." Suraj menepuk pundak Veronika, bergegas pergi dari tempat itu. Satu lagi yang ia ketahui dari Aira.
__ADS_1