
Kesibukan Aira sebagai model sekaligus selebgram, memaksa wanita itu untuk mencuri-curi waktu istirahat. Seperti sore itu, seharian bekerja ia ingin menghabiskan waktu sebentar untuk sekedar menikmati senja di ufuk barat. Jauh dari hiruk pikuk keramaian kota Jakarta.
Wanita itu sengaja lari ke puncak dan ingin bermalam di sana. Menikmati libur weekend yang jarang ia ambil. "Ra, kamu tumben pengen liburan. Biasanya, ogah di suruh libur?" tanya Kinos heran. Pria itu sibuk membuatkan minuman dingin untuk artis kesayangannya.
"Aku capek, Kak. Pengen sesekali, menikmati hasil kerja aku. Dengan cara bersantai-santai kek gini. Jauh dari deadline pekerjaan yang menyita waktu dan tenaga. Belum lagi, Omelan dari Tante Seroja yang bikin kesel." Aira mengeluh dengan salah satu teamnya, yang sangat berisik menurutnya.
"Hmmm, iya juga sih. Oh iya, Ra. Aku hampir lupa ini. Kemarin, aku dapat email dari perusahaan elektronik. Yang mau Makai kamu jadi model iklan untuk produk barunya. Gimana menurut kamu? Em, dia tawarkan harga yang fantastis. Di tambah kontrak yang lumayan lama," ujar Kinos memberi tahu Aira tawaran pekerjaan dari perusahaan baru.
"Coba aku lihat email-nya, Kak." Aira menggeser layar labtob Kinos, agar bisa melihat dengan jelas isi dari email tersebut.
"Kalau kamu mau, dua hari lagi orang utasan dari perusahaan itu ingin bertemu dengan kita. Gimana menurut kamu?" ulang Kinos antusias. Jarang sekali artis di kontrak dalam jangka waktu tiga tahun. Dan itu kali pertamanya, mereka mendapat tawaran itu.
"Aku pikir-pikir dulu deh, Kak. Aku takut gak ke kejar aja waktunya. Kakak tau sendiri kan, kontrak dari Bu Vale aja kita belum kelar loh. Gak lama lagi, mereka akan mengadakan workshop ke berbagai kota. Dan kita termasuk salah satu teamnya, loh!" ujar Aira mengingatkan jadwal kerjanya yang masih padat.
"Tapi sayang, Ra. Kalau gak diambil. Kalau masalah waktu, kita bisa rundingan dengan mereka," timpal Kinos, yang sedikit kecewa jika tawaran itu tidak diambil oleh Aira.
"Aku pikirkan dulu, Kak."
__ADS_1
"Ya udah, kakak tunggu kabar baiknya, ya?"
**************
Entah berapa purnama, Suraj menanti kehadiran Aira di balik pekatnya rindu. Sudah berapa hati ia patahkan, hanya demi sebuah pengharapan yang tak pasti.
Suraj bahkan tidak tahu, apakah cinta Aira dan perasaan wanita itu masih ada untuknya. Semua itu hanya waktu yang akan menjawabnya.
Melihat kesedihan anaknya. Maholtra menghampiri. Dengan membawa segudang harapan, satu titik lagi. Mungkin, kesedihan itu akan sirna. Jika, pihak Aira mau menerima kerja sama yang sudah ia tawarkan.
"Kamu kenapa, mikirin Aira lagi?" tegur pria yang nampak bersahaja dengan pakaian khas India. Pria itu ikut duduk di samping anaknya.
Tak berapa lama, Yuni juga datang. Membawa kabar yang cukup mencengangkan untuk keduanya.
"Sayang, kamu tahu gak? Kalau cafe Citra sedang ada masalah?" ujar wanita itu yang tiba-tiba terlihat panik.
Manik keduanya fokus pada Yuni yang memperlihatkan video viral dari ponsel yang ia bawa.
__ADS_1
"Suraj baru denger, Mi. Kok bisa, ya?" Suraj dan Maholtra sedikit terkejut dengan berita itu. "Kemarin memang sempat ramai sih, tapi beberapa hari ini sepi lagi. Suraj juga udah jarang banget ke sana. Semenjak gak ada Aira," sambung pria yang memiliki hidung mancung itu.
"Dan parahnya lagi, Pi. Dia DM mami, tadi. Mau minjem duit untuk membuka lagi cafenya, emang hasil penjualan cafe selama ini buat apa. Kok dia sampai bingung gitu pinjem sana-sini." Yuni mengomentari kehidupan Citra.
"Ya buat berondongnya, Mi. Buat siapa lagi? Uang yang di dapatkan dengan cara gak halal. Ya gak akan bertahan lama. Percaya sama papi," timpal Maholtra biasa saja, tak ada rasa empati untuk Citra. Karena memang, wanita itu pantas mendapatkannya.
"Bener, Mi." Suraj mengimbuhi.
"Oh iya, Sayang. Kami gimana, hasil pencarian Aira? Udah ada titik terangnya belum?" Yuni bertanya pada anaknya. Yang terlihat murung itu.
"Belum, Mi. Suraj belum berhasil menemukan dia." Dijawab lemas oleh Siraj. Maholtra hanya bisa menyunggingkan senyumnya, seraya menatap sekilas keduanya.
"Gak lama lagi, kalian akan bertemu dengan Aira. Aira yang sekarang, lebih cantik dari yang dulu. Bahkan, mami sangat menggilai gadis itu." Maholtra membatin, dengan senyuman tidak memudar dari bibirnya.
Perbincangan mereka terhenti, saat bel pintu berbunyi. Dati depan, bik Jumi terpogoh-pogoh memanggil majikannya. "Bu, ada tamu!" ucapnya dengan napas tersengal-sengal.
"Siapa, Bik. Kok sampe segitunya bibik panik." Maholtra dan Yuni menanggapi berempak.
__ADS_1
"Non Nadine, dia membawa ibunya dan seorang pria yang bibi gak kenal," ucap wanita itu menunduk.
"Mau apa lagi sih mereka?"