Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku

Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku
Kebusukan Citra


__ADS_3

Mentari pagi mulai menampakkan diri di singgasananya. Menghangat, melalui celah-celah jendela. Dua manusia yang ada di balik selimut, mengengkap manja dalam limpangan dosa.


"Pagi, sayang?" sapa Citra, memancarkan senyum nakal ke arah Raka yang baru saja membuka mata.


"Emmm, sayang. Tumben udah bangun," balas Raka mengrenyit, pria itu bangkit menyenderkan kepalanya di dinding ranjang. "Sttt, kepalaku sakit banget," sambungnya memegangi pelipisnya.


"Kamu kenapa, sayang?" Citra langsung memegang jidat Raka. "Anget, kamu sakit?"


"Semalaman aku gak bisa tidur, bolak-balik ke kamar mandi. Keknya salah makan, deh!"


"Kok kamu gak ngebangunin aku?" ujar Citra, menampakkan kepeduliannya pada sang berondong.


"Aku gak mau ganggu kamu, sayang?" Raka mencubit kecil hidung Citra. "Sayang, aku mau tanya?" Kali ini wajahnya terlihat serius.


"Mau tanya apaan?" balas Citra, tak sabar mendengarnya.


"Semalem, kamu lupa kunci pintu kamar ya? Malahan gak kamu tutup, iya kan?" tuduh Raka. Mengingat kejadian malam tadi. Selesai dari kamar mandi, ia melihat pintu kamar terbuka lebar.


"Aku tutup, kok. Gak mungkinlah aku membiarkan pintunya terbuka. Yang ada kasihan istri kamu bisa ngeliat kita melakukannya," jawab Citra mengingat-ingat.


"Kamu yakin?" tanya Raka lagi, masih ragu dengan jawaban Citra.

__ADS_1


"Yakin, dong sayang. Udah sana, mandi! Bau tau!!" Citra mendorong tubuh Raka agar segera beranjak. Akan tetapi pria itu bergeming, masih kepikiran dengan kejadian semalam. "Sayang, apa jangan-jangan ada orang yang masuk ke kamar ini?'" terka Raka mengira-ngira. Dia sangat yakin, dengan apa yang ia lihat semalam.


"Maksud kamu, Aira?" sahut Citra, mulai curiga.


"Iya,bisa jadi dia masuk ke kamar. Mungkin, ada yang di ambilnya."


"Surat rumah sama cafe," usul Raka, membuat Citra bergidik ngeri. Membayangkan dua benda itu jatuh ke tangan Aira.


Bergegas mereka bangkit, mencari di tempatnya. Sebuah box berwarna silver dengan gembok yang masih menggantung, mereka ambil. "Masih ada, kok?" seru Citra membawanya ke tempat tidur.


"Coba kamu buka, sayang?" Raka kembali menyarankan agar Citra tak langsung percaya. Kalau di dalamnya masih lengkap.


"Masih utuh, kok sayang. Kamu bikin aku spot jantung aja," sahut Citra, menghela napas lega.


Raka membuka dokumen penting itu. Memang benar apa yang dikatakan oleh Citra. Dua sertifikat itu atas nama Aira. Yang membuatnya bingung, kenapa Abdullah tidak memberikan bagian untuk Citra. Kalau memang benar wanita itu istrinya. Yang ikut berjuang dari nol.


"Sayang, boleh aku tanya sesuatu?" celetuk Raka, untuk menjawab rasa penasarannya.


"Apa, sayang? Jangan bilang kamu menginginkan ini." Citra menunjukkan satu batang emas murni pada Raka.


"Nggak, bukan itu." Raka menolaknya. "Kalau aku boleh tahu, kenapa semua harta warisan almarhum Suami kamu dilimpahkan pada Aira. Kamu kan istrinya, harusnya kamu berhak dong menerimanya juga?"

__ADS_1


Citra tersenyum kecut, sebagai tanggapan atas pertanyaan Raka. Jika mengingat kejadian itu, rasanya ia ingin membunuh Abdullah saat itu juga.


"Hah. Abdullah tahu, kalau aku selingkuh dengan pria lain. Makanya namaku di coret dari daftar waris."


Penjelasan Citra, masih belum membuat Raka puas. Dan menganggap ada hal lain yang masih di rahasiakan oleh wanita itu.


"Aira bukan putri kandungku," sambung Citra menjawab sudah pertanyaan yang ada di benak Raka. "Sementara rumah ini, adalah rumah ibu kandung Aira. Yang saat itu di usir oleh mas Abdullah."


"Kalau cafe?" tanya Raka lagi.


"Cafe, dulunya akan di berikan padaku oleh mas Abdullah. Karena ketahuan selingkuh, si brengsek itu berubah pikiran. Beruntungnya jadi aku, Aira tidak tahu kalau aku hanya ibu sambungnya. Karena aku yang mengurusnya dari masih bayi."


"Terus kemana ibu kandungnya Aira? Kenapa bisa diusir oleh suami kamu?" Raka bertanya lagi. Dia ingin tahu semuanya. Ada rencana terselubung yang membuat pria itu bersemangat mengulik masa lalu Citra.


Citra kembali menyunggingkan senyum getir. Mengingat kejadian puluhan tahun lalu. Yang mana dia berhasil menyakinkan Abdullah kalau istrinya sedang selingkuh. Posisinya yang hanya sekedar pembantu di rumah itu. Menjadikan Citra menginginkan posisi Mawar, ibu kandung Aira.


Segala cara, ia lakukan untuk menyingkirkan Mawar. Termasuk menjebak, wanita itu tidur satu ranjang dengan pria lain. Di saat itu juga Abdullah datang. Murka melihat sang isteri membawa pria lain ke rumah itu. Bahkan tidur sekamar. Itu yang membuat Abdullah langsung mengusir mawar, saat itu juga. Tanpa mau mendengarkan penjelasan dari wanita itu.


Alih-alih kerepotan mengurus Aira yang masih bayi, di tambah dia harus bekerja di sebuah perusahaan. Abdullah meminta Citra menggantikan posisi istrinya. Dan dalam kurun waktu satu minggu, mereka melangsungkan pernikahan. Citra bisa tertawa lepas, karena rencananya berhasil. Menggantikan ratu di rumah itu.


"Jadi, benar dugaan aku. Aira bukan anak kandung dari Citra," batin Raka, menyeringai.

__ADS_1


__ADS_2