Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku

Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku
Rencana Maholtra


__ADS_3

Aira tersenyum hangat, sembari menyentuh pipi Kinos. "Tentu aja Aira akan sayang sama Kakak."


Wajah Kinos bersemu merah, mendengarnya. Namun hanya sesaat, senyuman itu melengkung di bibirnya. Manakala, Aira mengatakan hal yang membuat pria itu tertunduk lemas.


"Tapi sebagai Kakak. Kak Kinos akan selalu ada di hati Aira. Sekarang, besok, sampai nanti."


Hilanglah sudah harapan Kinos untuk menggapai hati Hanum. Yang seharusnya dari awal ia sadar diri. Apalagi, saat ini Aira bukan gadis sembarangan yang baru saja ia kenal. Dia adalah model terkenal, yang kiranya tak sepadan dengannya.


Mungkin, Kinos akan membuang jauh-jauh perasaan itu. Sampai ia bisa menemukan cinta baru. Wanita yang benar-benar bisa menggetarkan hatinya. Seperti Aira.


***************


Wajah Aira yang baru tak hanya terpampang di media cetak, atau Instagram saja. Juga sering muncul di layar kaca sebagai bintang iklan ataupun tamu di berbagai acara reality show.


Seperti pagi itu, Aira di undang di salah satu acara sebuah stasiun televisi. Reality show pagi yang di pandu oleh presenter kondang ibu kota. Sebagai narasumber perjuangan seorang biasa menggapai kesuksesan seperti sekarang ini.


Tampak jelas wajahnya yang ayu mengundang perhatian banyak orang yang menonton. Salah satunya Yuni, yang akhir-akhir ini menggilai sosok itu. Menjadikan Aira sebagai idolanya.


"Keren banget deh tuh cewek. Udah cantik, tajir, sopan lagi. Hmmm, aku semakin kagum sama dia," gumamnya antusias, fokus melihat ke layar televisi. Hingga panggilan dari Maholtra tak lagi ia hiraukan.


"Sayang, kemeja yang warna putih di mana?"

__ADS_1


Entah berapa kali, pria itu bertanya pada istrinya. Namun, lagi-lagi tak mendapat jawaban dari Yuni. Penasaran, dengan apa yang dilakukan oleh istrinya. Maholtra mendekat. Setelah tahu apa yang terjadi, pria itu hanya bisa menggeleng pelan.


"Astaghfirullah, Sayang. Dari tadi aku nanya gak di sahut, cuma karena liat itu?" Maholtra menunjuk ke arah TV.


"Eh Papi, sini deh Pi. Mami itu lagi seneng banget liat model ini. Udah cantik, baik, sopan juga. Attitudenya di layar TV itu mencerminkan wanita yang memiliki kepribadian luar biasa." Yuni menceritakan tentang idolanya pada Maholtra yang hanya bisa kembali menggeleng.


"Kalau dilihat-lihat, wajah cewek ini tuh gak asing. Mami kayak pernah ketemu, gitu. Tapi di mana ya. Ah hahaha. Kebanyakan menghalu jadi gini, kan?" sambung Yuni, menepuk kepalanya sendiri.


"Ya tentu aja pernah liat. Di tok-tok, IG, majalah elektronik, semua gambar dia yang Mami pantengin," celetuk pria India itu sedikit kesal.


"Ah, Papi bisa aja nyindirnya?"


Entah apa yang membuat Maholtra tertarik untuk memperhatikan lebih dalam lagi wanita itu. Keningnya mengkerut, saat melihat dengan jelas wajahnya.


"Tuh, kan! Bengong. Terpesona, kan?" goda Yuni terkekeh.


"Mami sadar gak sih, kalau cewek itu mirip banget sama Aira?" ujar Maholtra, masih terus memperhatikan lebih seksama lagi.


"Arghj, Papi ngada-ngada deh. Jauh, Pi. Ya memang mami kangen sama Aira. Tapi gak gitu juga kali. Nyama-nyamain sama Ketty. Dia itu Kettyera, Pi. Bukan Aira." Yuni tidak setuju dengan pendapat suaminya.


"Ya sudah, papi mau ganti baju dulu. Papi mau kerja, udah telat ini!"

__ADS_1


Maholtra sangat yakin, kalau Kettyera itu adalah Aira. Keyakinan itu tumbuh begitu saja dalam benak dan hatinya. Dan untuk membuktikan itu, ia menghubungi seseorang.


"Cari tahu model terkenal yang nama panggungnya Kettyera! Secepatnya beri kabar!" titah Maholtra pada seseorang, di balik telepon yang ia genggam.


Tak berapa lama, sebuah notif pesan muncul dari ponsel Maholtra. Yang isinya data-data Aira.


"Benar dugaan aku," gumam Maholtra uang tersenyum bangga. Melihat kesuksesan wanita itu. "Dia memang pantas mendapatkannya."


Maholtra memilih bungkam untuk sementara. Aira yang sekarang sudah berbeda. Gerak-geriknya akan di sorot media. Tak ingin gegabah, memilih mengikuti alur yang sedang di mainkan gadis itu. Maholtra yakin, Aira punya alasan di balik menutupi jati dirinya.


Maholtra sudah berada di garasi, pun dengan Suraj yang juga sedang bersiap memanaskan mobil. "Suraj!" seru pria itu pada anaknya.


"Iya, Pi." Suraj mengurungkan diri membuka handle pintu mobil.


"Kamu udah menemukan di mana Aira?" tanya pria paruh baya itu lagi. Penasaran sampai mana perjuangan putranya dalam mencari wanita yang dicinta.


Suraj menggeleng lemas. "Belum, Pi. Sudah banyak tempat yang Suraj kunjungi, tapi gak berhasil menumbangkan dia," sambung Suraj, mulai putus asa.


"Kamu nyarinya gak fokus. Jadi, susah untuk ketemunya!" seru Maholtra lagi. "Ya sudah, kamu hati-hati. Papi berangkat dulu."


Sudah bisa ditebak oleh Maholtra. Suraj masih kesulitan untuk menemukan Aira. Karena itu, ia akan melakukan sesuatu. Agar mempercepat pertemuan mereka. Tanpa mengundang pertanyaan media.

__ADS_1


"Buatkan janji dengan manager Kettyera, saya akan melakukan kerja sama pada artisnya!" Maholtra menguhubungi seseorang dari balik telepon.


Pria itu menyeringai lebar, membayangkan pertemuan Suraj dengan Aira, yang nantinya akan menjadi kejutan.


__ADS_2