
Suraj menoleh ke samping. Menatap lekat wajah Aira, menyusuri tiap incinya. Setelah beberapa saat kemudian, ia menggeleng.
"Anda bercanda?" jawab pria itu menertawakan dirinya sendiri. Yang hampir, terpesona dengan kecantikan Aira.
Pedih, itu yang dirasakan Aira. Ternyata, Suraj tetap tidak percaya. Kalau dirinya adalah wanita yang dicari. Apa yang harus ia lakukan sekarang. Mengatakan kejujuran itu? Memohon agar Suraj percaya?
Aira menggeleng, meski saat ini hatinya rapuh. Namun terselip rasa bangga, yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Suraj, adalah pria yang tepat. Pria pilihan yang kelak ditakdirkan untuknya, semoga. Itu yang ada di benak wanita Aira.
*************
"Shitt sial!! Uang dari wanita murahan itu udah habis. Aku harus gimana, sekarang?" gumam Raka, frustrasi. Menjambak rambutnya, bingung harus melakukan apa.
Melisa, tak ada di sampingnya. Pergi dari pagi, belum juga pulang. "Kemana wanita ****** itu?" umpatnya, mengeratkan rahang.
Raka memilih turun dari ranjang. Panggilan alam, memaksa pria itu masuk ke dapur. Ia membuka lemari pendingin, akan tetapi tidak ada stok bahan makanan di sana. "Kosong!" seru pria itu, menutup kembali pintunya.
Ekor matanya menatap galon yang berdiri tegak di samping kulkas. Ia mengambil gelas, kemudian mengambil air dari sana. Di teguknya hingga habis tak tersisa.
Masih dalam kebingungannya, Raka duduk di ruang makan. Merenung, mencari solusi untuk masalahnya. "Maholtra, aku harus hubungi pria itu. Sudah hampir dua bulan tak ada kabar dari pria itu." .
Raka menghubungi nomor yang diberikan oleh Maholtra. Saat nada tersambung, suaranya perempuan.
__ADS_1
"Ini nomor hp pak Maholtra bukan?" Tak ingin membuang waktu, Suraj bertanya.
Ternyata, yang menjawab telpon dari Suraj adalah assisten Maholtra. "Saya ingin membuat janji dengan bos anda," ujar pria itu kesal. Raka bahkan lupa dengan syarat yang diberikan oleh Maholtra. Yang mengatakan, sebelum pria uty sendiri yang menghubungi. Raka tidak boleh lebih dulu menelpon atau datang ke rumah.
"Sial!!?" umpatnya lagi, tak berhasil berbincang dengan Maholtra. "Gak ada pilihan lain. Gue jual aja cafe dan rumah ini."
Raka memposting foto cafe dan rumah itu di akun medsosnya. Agar lebih mendapat banyak jangkauan, ia juga memposting di grup jual beli. Berharap, segera mendapat kabar baik.
********
"Ra, kamu kenapa galau?" Kinos yang melihat Aira nampak sedih, mendekati wanita itu. Duduk di sampingnya, sekedar menghibur hati Aira.
"Lusa. Kenapa, Ra? Aku lihat, kamu lagi deket sama putra pak Maholtra, ya? Ya hati-hati aja, kalau memang untuk serius sih gak apa. Tapi, jangan sampai media punya persepsi lain," saran pria itu yang menyadari kedekatan Aira dengan Suraj.
Aira menghembuskan napasnya ke udara. Ingin sekali ia bercerita pada pria itu. Kalau Suraj adalah cinta sejatinya. Orang yang yang menjadi tujuannya. Tapi, Aira tak cukup berani mengakuinya.
"Iya, Kak. Aku tahu." Aira tersenyum getir. Merasakan perih, yang amat luar biasa.
"Kak, apa aku gak pantas bahagia?" Tiba-tiba saja, ia berkata itu. Hatinya sedang rapuh. Sehingga, jadi melankolis.
"Emang kamu gak bahagia, Ra?" tanya Kinos, dengan wajah bingung. "Kamu punya segalanya, Ra. Popularitas, uang, dan semuanya. Apa lagi?" Pria itu menatap lekat wajah Aira yang berubah sendu.
__ADS_1
Aira menggeleng. "Aku gak bahagia, Kak. Aku justru sakit, dan sedih," aku wanita itu, tertunduk sedih.
"Apa ini ada hubungannya dengan mami kamu?" Kinos bertanya lagi.
Aira menggeleng. "Bukan, Kak. Mami gak ada hubungannya dengan semua ini."
"Lantas?"
Aira diam untuk sejenak. Berpikir dengan sangat hati-hati. Mencerna kejadian tadi siang, saat ia bertemu dengan Suraj. Sudah, ia bahkan sudah mengaku. Kalau dia adalah orang yang dicari. Kenyataannya, Suraj justru menertawakan dirinya. Dan menganggap dia naif.
Sekarang, ia menyesal. Kenapa, ia bungkam selama ini. Menghindar dari Suraj. Bila akhirnya, dia juga yang harus menderita. Yang semakin membuat dirinya sedih adalah. Suraj menyangkal, Aira yang dulu tidak akan pernah berubah. Seburuk itukah pandangan pria itu terhadap dirinya. Atau, dia harus bangga memiliki orang yang mencintai apa adanya.
"Kak, aku pengen jadi Aira yang dulu?" lirih wanita itu, genbrambambyang.
"Kamu ini kenapa, Ra. Omongan kamu itu nglantur. Udah ah, tidur gih! Aku mau cek jadwal kamu buat besok!" saran Kinos mengambil labtobnya.
Sebelum membuka agenda harian Aira. Kinos membuka sebuah halaman yang memuat pembisnis handal. Ketertarikannya pada dunia bisnis, mengantar pria itu menjadi pengusaha sukses. Yang mendampingi kesusksesan Aira.
Sebuah postingan menjadi trending topik di sebuah akun akun halaman. Di mana, seseorang memposting sebuah cafe dan rumah mewah dengan harga yang sangat murah. Matanya terbelalak kaget. Tak percaya dengan apa yang ia lihat. Setelah di zoom, ia sangat mengenali tempat itu.
"Ra, ini bukannya cafe kamu?"
__ADS_1