
Setelah kepergian Suraj dan Aira, Citra dengan tak sabarnya naik keatas untuk mengetahui hasilnya.
"Sayang!! Sayang, gimana? Berhasil gak?" cecar Citra, setelah di depan Raka. Ia menunggu jawaban dari pria itu dengan penasaran.
Ingin memberi kejutan pada Citra, Raka pun menggeleng. Memasang wajah sedih, agar semakin menyakinkan wanita itu.
"Apa maksud kamu?" tandas Citra, mencengkram erat kerah baju Raka. "Kita gagal?" sambungnya kesal. Semburat kemarahan mulai memenuhi wajahnya. "Bodoh, kamu bodoh!" umpatnya lagi.
Citra melepaskan cengkraman tangannya. Mukai melangkahkan kaki, menjauh dari Raka. Menatap, ke arah jendela dengan penuh kekesalan. "Gak bisa diandalkan. Sudah patah aku membuat surat itu. Dengan mudahnya kamu menghancurkannya!!!!" Hilang sudah harapannya untuk menjadi pemilik satu-satunya harta Abdullah. Menderap dalam dadanya. Kesal, pelik, sedih, menjadi satu.
Raka semakin tersenyum puas, bisa mengerjai wanitanya itu. Kemudian, ia membuka lembaran surat kuasa itu yang sudah dibubuhi tanda tangan Aira, tepat dihadapan Citra.
"Ini?" tunjuknya, tepat di depan wajah Citra. Wanita itu meliriknya sekilas, begitu melihat ada tanda tangan Aira. Ia melonjak gembira.
"Arghhhh, kamu berhasil sayang?" ulang Citra tak percaya. Wanita itu mengamati dengan seksama surat itu, dengan mulut menganga. "Kita berhasil!!!!!" teriaknya girang, setelah benar-benar yakin. Melonjak gembira dengan tubuh yang memeluk berondong kesayangannya.
"Iya, sayang. Kita berhasil mengelabui Aira. Rumah dan cafe, semua harta Aira resmi menjadi milik kamu. Selamat ya, sayang?" Raka semakin mempererat pelukannya, sambil mengecup sekilas bibir wanita itu.
"Kamu memang bisa diandalkan, aku sayang kamu!!!" sahut Citra, membalas kecupan pria itu.
Pangutan sekilas itu menjadi pelumas untuk melancarkan aksinya. Mereka tak melewatkan kesempatan itu untuk bercinta. Ditambah, hasrat yang sejak semalam tertahan. Menjadikan keduanya bringas, bak singa kelaparan yang saling mencengkram.
__ADS_1
Percintaan pagi itu, menjadi perayaan keberhasilan mereka dalam merebut milik Aira. Mereka saling memberi kepuasan, berbagai gaya dipakai dalam pergumulan panas itu. Hingga mencapai klimaksnya.
Puas saling menyalurkan hasratnya, Citra terkulai lemas di dekapan Raka. Dengan tubuh yang sama-sama polos.
"Sayang, setelah ini apa yang akan kau lakukan? Membiarkan kelinci kecil itu disini atau membuangnya jauh-jauh dari kehidupan kita?" tanya Raka, menyusuri leher Citra dengan jarinya. Menciptakan geleyar aneh di dalam tubuh wanita itu.
"Arghhh, geli sayang? Kau menggodaku lagi," umpat Citra, tak mau kalah. Ia remas batang ******** pria itu sekencang mungkin. Si empu mengerang kesakitan.
"Ughhhhh, kau menyakitinya sayang?"
"Biarin aja, kau yang memulainya." Citra tersenyum puas, melihat lawannya tak berdaya.
"Hmm, kau belum menjawab pertanyaanku tadi. Apa yang akan kau lakukan, selanjutnya?" ulang Raka, penasaran.
"Sependapat. Aku punya pemikiran yang sama, sayang? Biarkan rahasia itu tetap menjadi rahasia. Aira tidak usah tahu, siapa kamu sebenarnya. Biarkan dia mencari tahu sendiri. Kalau sampai Aira menyadari, kamu bukan ibu kandungnya. Aku yakin, kemungkinan besar dia akan kembali mengambil haknya lagi."
"Karena itu, aku gak mau sampai itu terjadi. Bantu aku membereskan semua barang-barangnya, sepulang dari cafe. Kita usir dia dari sini." Citra menyeringai lebar, dengan mata yang menatap tajam ke depan.
*****************
Selepas mengantar sang kekasih ke pasar. Suraj langsung pergi ke kampus. Dia ada kelas pagi, yang tidak bisa ditinggal. Meski begitu, pikirannya tak lepas dari Aira. Banyak yang memenuhi isi kepalanya. Terlebih tanda tangan, yang baru saja dilakukan oleh wanita itu.
__ADS_1
Tidak mungkin orang selicik Citra, melepaskan Aira begitu saja. Tanpa embel-embel apapun. Sulit memang, untuk membuat Aira sedikit paham. Bahwa hidup harus hati-hati. Meski dengan orang terdekat sekalipun. Jangan mudah percaya. Apalagi, jelas-jelas orangnya seperti Citra yang tak punya hati. Akan melakukan apapun, agar bisa tercapai tujuannya. Termasuk mengelabui Aira.
Aktivitas Suraj mengundang tanya rekan-rekan dosen, saat mereka berkumpul di kantor.
"Pak Suraj, akhir-akhir ini terlihat kusut. Kadang seneng, lagi kasmaran ya, Pak!" goda dosen muda seumuran dengannya.
"Ah, Pak Ali bisa aja. Gak kok, cuma sedang ada projek aja," kilah Raka, tersenyum getir.
"Hehehehe, tau gak gosip terbaru pak Suraj?" Seorang dosen perempuan ikut menimpali.
"Apa, emang?" sahut mereka.
"Dia kan lagi deket sama salah satu cewek di cafe depan itu," jawab wanita itu, mengejek Suraj. "Iya kan, Pak?"
"Hahaha, gak masalah dong Bu. Selagi bisa membuat kita nyaman, dan yang paling penting orangnya setia. Iya, gak Pak Suraj?" bela pria yang bernama Ali melirik ke arah Nadine. Perempuan itu langsung menunduk lesu.
"Hahahaha, Pak Ali emang top bgt deh!!!" sahut Suraj, mengacungkan jempol.
Suara riuh kembali terdengar di ruangan itu. Mengisi waktu istirahat, sebelum pelajaran dimulai kembali.
"Nanti malam, datang ya ke acara aku?" Nadine bersuara, setelah keheningan tercipta sesaat. "Ini undangannya." Setelah itu membagikan kertas tebal berwarna merah jambu pada semua orang yang ada di tempat itu. Termasuk Suraj.
__ADS_1
Begitu mendapat undangan itu. Perasaannya tidak enak. Gelisah, memenuhi dadanya.