Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku

Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku
Kegundahan hati


__ADS_3

Lelah seharian bekerja hingga dinginnya malam menyeruak ke dalam pori-pori kulitnya. Wanita yang mengenakan t-shirt berwarna merah dan celana jeans hitam tampak was-was menunggu jemputan. Jali, belum kelihatan batang hidungnya. Sudah hampir satu jam gadis itu berdiri di teras cafe.


"Mang Jali kemana, sih?" racaunya, melirik pergelangan tangannya. "Ini udah jam sebelas. Belum juga datang," sambung wanita itu kesal.


Banyak pikiran yang melintas dibenaknya. Terlebih, dua orang yang sama-sama ia sayang. Sampai sekarang belum mengabari. Puluhan kali, ia menghubungi. Tak ada satu pun yang di jawab.


Terakhir, hanya pesan singkat dari Citra. Sedikit mengurangi rasa cemas dalam dirinya.


{Maaf sayang, mami belum bisa angkat telponnya. Mami baik-baik aja}


Aira hanya bisa menghela napas panjang, pasrah dengan keadaan yang memaksa dirinya untuk lebih bersabar lagi.


Di saat pikirannya berkelana, sorot lampu dari sebuah mobil mengganggu pandangannya. Gegas wanita itu mendekat, mengira Jali yang datang.


"Mang Jali, kok la ...." Ucapannya terhenti saat ia melihat orang yang keluar dari mobil, bukanlah Jali, supirnya.


"Kamu!" tunjuk Aira pada pemuda, yang siang tadi datang ke cafe. "Suraj, ngapain kesini? Udah tutup cafenya."


Dengan santainya Suraj menjawab, "Mau jemput kamu." Suraj langsung mendekati dirinya, membukakan pintu agar ia segera masuk ke dalam. Tapi, bukannya cepat masuk. Aira justru sibuk memperhatikan pria itu.

__ADS_1


"Masuk, Aira. Udah malam, besok kesiangan loh ke pasarnya," goda pria dengan gaya rambut model crew cate.


"Iya, ini juga mau pulang," sahut Aira, mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


"Ya udah, ayo!" ajak Suraj dengan gaya santainya.


"Tapi, mang Jali belum datang," keluh wanita itu bersedih. "Tadi katanya udah otw. Aku hampir sejam nunggu, tapi belum nyampe juga."


"Supir kamu gak akan datang. Mobilnya mogok di perempatan gang arah rumah kamu. Dia lupa bawa hp, jadi gak bisa jawab telpon dari kamu," jelas Suraj yang tahu persis apa yang terjadi dengan Jali.


"Kok kamu tahu?" Aira menatap intens wajah pria yang memiliki senyuman manis itu.


*************


Dari cafe menuju ke rumah Aira, memakan waktu cukup lama. Kurang lebih satu jam, mereka harus bersama. Hening, sesaat. Aira mulai punya pikiran buruk pada Raka dan maminya. Ucapan dari tetangganya itu, sedikit banyak merubah nilai pandang berhadapan orang yang ia sayang. Hingga teguran dari Suraj, yang akhirnya memecah keheningan.


"Kamu lagi mikirin apa?" Pria itu sekilas melirik ke arah Aira. Kemudian, fokus dengan kemudinya. "Jangan melamun. Gak baik untuk anak perawan, kalau kebanyakan melamun." Suraj berusaha mencarikan suasana. Melihat raut wajah Aira yang sayu, ia tahu apa yang sedang dipikirkan oleh gadis itu.


"Aku gak ngelamun, kok! Cuma lagi capek aja," kilahnya dengan memijit keningnya.

__ADS_1


"Bohong," sarkas Suraj tak percaya. Aira menatap Suraj, dengan tatapan yang sulit untuk diungkapkan. Mengamati wajah pria itu dari samping. Membuat hatinya sedikit tenang.


"Untuk apa kamu mikirin orang yang gak jelas." Suraj menoleh ke samping. Pandangan mereka bertemu. Secepat mungkin, Aira menghindar. "Belum tentu, dia mikirin kamu. Mending mikirin orang yang jelas-jelas ada di samping kami."


Deg


Mendengar ucapan Suraj, hatinya kian menghangat. Seolah ada sisi lain dari sana, yang menuntut dirinya untuk yakin. Kalau pria yang ada di sampingnya adalah orang yang tepat. Yang bisa membahagiakannya, kelak.


Seberkas bayangan yang baru saja melintas. Segera memudar, saat ia ingat ucapan Raka yang mengatakan. Kalau pria itu sangat mencintainya. Aira menepis keraguan yang kian memenuhi isi kepala dan hatinya. Seakan ia menutupnya rapat-rapat, kejelekan dari pria itu.


"Untuk apa bertahan, kalau hatimu tersiksa," sambung Suraj, yang mulai terbawa suasana m sehingga ia lupa, statusnya apa.


"Dia sangat mencintaiku," ucap Aira berusaha menyakinkan dirinya. "Dia pernah berjanji, akan membawa hubungan kami ke jenjang yang lebih serius." Walau keraguan, lebih banyak memenuhi hati wanita itu.


"Ya sudah, kalau memang kamu bahagia bersama dia." Suraj tersenyum getir. Ia merutuki kebodohannya, yang lancang mengutarakan isi hatinya. "Tapi, jika kamu sudah tidak mampu untuk menahannya. Aku siap, mengganti posisi pria itu di hatimu." Kali ini ucapan Suraj, tulus dari hatinya.


Mungkin, karena suasana yang mendukung. Suraj berani mengutarakan hatinya. Dia tidak butuh waktu yang lama,untuk menyakinkan dirinya. Kalau Aira adalah gadis terbaik, pilihan hatinya.


Lagi, tubuh Aira seolah kelu. Mendengar pernyataan Suraj. Tubuhnya bergetar hebat, tak terasa titik air mata mulai menggenang, membasahi pipinya. Aira sendiri bingung, air mata apa itu. Kenapa harus keluar, di saat ia sudah mengambil keputusan untuk tetap bertahan dengan Raka. Di saat ada pria tulus yang menginginkan dirinya.

__ADS_1


"Kamu berhak bahagia, Ra."


__ADS_2