Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku

Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku
Niat jahat


__ADS_3

Aira nampak semringah berjalan ke dapur. Usaha di cafenya mulai berkembang pesat. Pelanggan mulai banyak memakai jualannya untuk acara. Artinya, dia akan semakin banyak mengumpulkan uang untuk di tabung. Apalagi, Citra tidak mengetahui tentang itu. Dengan mudah, uang yang ia dapatkan masuk ke kantongnya sendiri.


"Kak Aira kelihatan seneng banget, baru nembus togel ya?" seloroh Bellian usai mengantarkan pesanan untuk pelanggan.


"Ishh, sembarangan aja kamu. Cafe kita baru saja dapat orderan makanan untuk 300 porsi. Keren gak tuh!!!" sahut Aira bersemangat.


"Wahh, keren banget. Kapan Kak?"


"Lusa. Nanti kita bagi tugas ya? Kamu sama Winda stay di cafe. Aku nanti nyari kawan untuk datang ke rumah pelanggan yang pesen tadi," ujar Aira lagi.


"Beres!!!"


Di tempat lain, Suraj sudah berhenti di depan cafe Aira. Pandangannya fokus pada seorang wanita yang tak asing baginya. Wanita itu nampak semringah. Seperti sedang mendapatkan sesuatu. Tak mau ambil pusing, dan itu sudah bukan menjadi urusannya lagi. Suraj pun turun, segera menemui Aira. Tak sabar untuk segera menyerahkan benda yang ia bawa tadi.


"Sayang," panggilnya, saat sudah berada di dapur cafe.


"Ciee," sambar Bellian merengut. "Yang udah diapelin sama cogannya," sambung wanita itu menggoda.


"Apa-apaan sih, kamu ini!" sahut Aira malu. "Kok udah pulang?" Setelah itu duduk mendekati pria yang baru saja datang itu. "Jadi ke tukang servisnya?"


Suraj memasang wajah lesu, karena belum berhasil memberikan bukti itu pada kekasihnya. "Udah, sayang. Tapi belum bisa di gunain. Masih harus nunggu lagi," jawab Suraj lemas. "Maaf ya, belum bisa kasih yang terbaik buat kamu."


"Gak apa kok, sayang!" Aira menggenggam jemari Suraj.


"Eh, tapi jangan sedih dulu." Suraj mengambil sesuatu dari balik saku kemejanya. "Tutup matanya dulu," titah pria itu meminta pada Aira.

__ADS_1


"Apaan sih, sayang? Kamu mau ngapain?" cecar Aira dibuat bingung dengan sikap kekasihnya itu.


"Udah, nurut aja ngapa sih!"


Aira mulai memejamkan mata. Perasaannya tidak menentu. Gugup, senang, bercampur aduk menjadi satu. Apalagi saat lehernya terasa berat. Seperti ada sesuatu yang menempel di sana. Saat Suraj berhasil menyematkan liontin itu ke lehernya. Tangannya meraba-raba benda. "Sayang, ini..." Aira menggantungkan kalimatnya, menatap benda itu dengan penuh haru.


"Aku gak pantas menerimanya," lirih Aira, beralih menatap wajah Suraj. "Ini terlalu berharga untukku."


"Sttt, jangan pernah lepaskan benda itu dari lehermu," ucap Suraj, memohon. "Suatu saat nanti, aku akan memberikan lebih dari itu. Kamu bersabar, ya?" sambungnya ikut terbawa suasana.


"Makasih, sayang." Aira memeluk erat tubuh Suraj. Sangat erat. Ada pengharapan yang ia gantungkan pada sosok yang ada dalam dekapannya.


"Kamu pantas menerimanya."


Sudah menjadi kesibukan baru untuk Suraj, selepas pulang mengajar. Waktunya akan ia habiskan di cafe milik Aira. Banyak hal yang ia pelajari dari gadis yang ia pacari beberapa hari ini. Terlebih tentang ilmu berdagang. Nyatanya, Aira menang sangat lihai dalam urusan mempromosikan produk yang ia jual. Makanan yang ia jajakan di cafe itu.


"Kamu belajar ilmu marketing dimana, sih? Pinter banget promonya," puji Suraj, saat mereka sudah berada di jalanan menuju pulang ke rumah.


"Hehehe, kamu bisa aja, sayang? Aku belajar dari papi. Papi yang ngajarin aku, sampai lihai sekarang ini."


"Wah, berarti papi kamu orang yang hebat ya?" sambung Suraj memuji lagi.


"Iya, dia adalah sosok yang kuat. Gak mudah nyerah," balas Aira membayangkan sosok papinya. "Oh iya sayang, aku dapat pesanan acara pesta gitu. Dan Alhamdulillahnya dalam porsi lumayan besar. Aku seneng banget," sambung Aira antusias.


"Wah, Alhamdulillah banget tuh."

__ADS_1


"Iya, bisa nambah tabungan aku."


"Iya, sayang. Oh iya, gimana kabar mami sama Raka? Apa mereka masih menindas kamu?" tanya Raka penuh selidik. Entang mengapa, pikirannya tidak tenang malam itu.


"Udah mendingan sih! Meski mereka masih nekat, sering lupa tempat untuk begituan," jawab Aira, dengan ekspresi wajah yang sulit untuk di tebak. "Raka sakit," sambung wanita itu. Membuat terkejut Suraj yang mendengarnya.


"Sakit?"


Aira mengangguk. "Iya." Wajahnya sayu, menyimpan kesedihan. "Mirisnya lagi, dibiarin sama mami. Malah di tinggal pergi," lanjut Aira, mengingat kejadian tadi pagi.


Setelah mendengar ucapan Aira. Perasaan Suraj semakin tak menentu. Antara takut dan mengkhawatirkan kekasihnya itu.


"Sayang, kamu harus hati-hati. Jangan sampai kesempatan itu dipergunakan oleh Raka untuk melakukan sesuatu yang buruk terhadap kamu," pesan Suraj, yang tidak tega membiarkan Aira pulang ke rumah. "Perasaan aku gak enak, sayang?"


"Kamu tenang aja, ya? Gak usah khawatir. Aku bisa jaga diri baik-baik, kok." Aira berusaha menenangkan Suraj, yang begitu terlihat kegusarannya.


"Kamu jangan pulang ke rumah, ya? Ikut sama aku aja." .


"Itu gak mungkin, sayang! Aku harus pulang. Aku jamin, Raka gak akan berbuat apapun sama aku."


Meski ragu, Suraj berusaha membuang pikiran buruk itu. Sedikit percaya dengan ucapan Aira.


Sampai juga mereka di rumah. Mobil Citra belum terlihat di garasi. Sementara Jali, tidak ada di campenya. Setelah berpamitan pada Suraj, Aira bergegas masuk ke dalam. Wanita itu sedikit bingung, melihat pintu yang tidak tertutup dengan rapat dari dalam. Padahal, Raka sedang sakit. Tidak mungkin ada di ruang tamu. Begitu pintu ia buka, sosok tinggi yang berdiri di depan pintu menatap penuh gairah ke arahnya.


"Raka!"

__ADS_1


__ADS_2