Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku

Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku
Kakak akan bantu


__ADS_3

Kepanikan menyerang Winda yabg saat itu melintas di sana. Bergegas a matikan kompornya, dan sedikit menjauh dari tempat itu. Dadanya sudah berdegup kencang, nyaris saja api melebar ke atas. Beruntung masih bisa di padamkan olehnya.


"Astaga, kok bisa gini!" Citra berkacak pinggang di depan Winda. "Ada apa Win, kok bau gosong?" Kemudian mendekat, melihat donat yang ia goreng tadi hitam legam. Beserta wajannya juga.


"Mami ninggalin kompor dalam keadaan hidup. Bahaya, Mi." Di sambar oleh Bellian yang baru saja datang. "Tadi kan, aku udah pamit sama mami. Untuk melayani pembeli, Mami yang jagain disini. Malah ditinggal pergi."


Mendengar ocehan Bellian, Citra meradang. Wajahnya merah, tak terima disalahkan oleh wanita itu. "Berani ya kamu salahin mami. Kamu pikir, kamu siapa?"


Mulut Bellian terkatup, tak berniat membalasnya. Akan percuma juga, jika meladeni orang gila seperti Citra. Yang ada ikut gila.


Pekerjaan Cafe kacau, banyak pelanggan mengeluh membuat Citra semakin pusing menghadapinya. "Eh, kalian berdua bisa gak masak?" Citra menunjuk Bellian dan Winda secara bergantian. "Banyak pelanggan yang protes, rasanya gak sama kayak biasa. Kalian ini gimana, sih!"


Winda dan Bellian hanya saling pandang. Mereka memang tidak pernah ikut campur dalam menu-menu yang di jual di cafe itu. Mereka hanya melayani, dan membantu Aira. Semua resepnya cuma Aira yang tahu.


"Kalian ngerti gak, kalau mami lagingomong! Dasar bodoh!!!"


"Maaf, Mi. Selama ini, kami gak pernah ikut memasaknya. Semua menu di sini, kak Aira yang buat. Kami cuma bantu-bantu aja," sahut Winda jujur.


Citra membulatkan matanya sempurna. Sambil memegangi pelipisnya yang terasa nyeri. Mendengar pengakuan Winda yang mencengangkan. Tidak pernah menyangka, kalau itu yang sebenarnya terjadi. Sekarang, Aira sudah pergi. Bagaimana bisa cafe akan tetap berjalan, jika chef-nya tidak ada.


Citra mendesis kesal, menyesal buru-buru mengusir Aira dari rumah. Padahal, ia masih sangat membutuhkan wanita itu.


************

__ADS_1


Seharian sudah dipusingkan dengan kerjaan cafe yang selama ini tidak pernah ia sentuh. Taunya beres oleh Aira. Hari ini, Citra bisa merasakan penatnya mengurus cafe sendiri. Ditambah keluhan pelanggan yang tidak sesuai harapan mereka. Sedikit menyita waktu dan tenaganya untuk memanjakan diri.


Hingga malam sudah semakin larut, di berondong kesayangannya belum juga menampakkan batang hidungnya. Resah, kian melanda hati Citra yang kini duduk rileks di halaman belakang ditemani makam bertabur bintang.


"Sial kamu Raka. Sampe jam segini belum juga dateng!" Citra mengumpat kesal. Tak berapa lama, bel pintu terdengar ditelinganya. "Bodo amat!!!" Wanita itu tak kunjung beranjak untuk membukakan pintu. Ia justru semakin menikmati jus mangga yang ia minum tadi.


Raka yang merasa kesal, pintu tak kunjung di buka. Menendangnya sampai terbuka sempurna. Kepalanya yang sakit, akibat banyak minum membuat pria itu sedikit sempoyongan saat berjalan.


"Sayang!!! Dimana kamu?" teriaknya, sambil terus berjalan. Sesampainya di ruang tengah, pandangan ria itu tertuju ke arah kolam renang. Di mana, Citra sedang bersantai di sana. "Dasar ******, ada di rumah dia. Tapi gak denger aku manggil!!!"


Segera Raka menghampiri Citra yang terlihat acuh padanya. Dengan sorot mata menuntut wanita itu pun beranjak, mendekat.


"Hebat ya kamu!!" Dengan bertepuk tangan, Citra mengelilingi tubuh Raka yang terlihat kusut. "Seneng-seneng sendirian. Sementara aku, sibuk ngurusin cafe!" sambung wanita itu, mengeratkan rahangnya di telinga Raka.


"Besok kita harus menikah. Aku gak mau tetangga di sini nyinyir. Udah aku urus semuanya."


"Iya, sayang. Apapun itu, aku akan terima." Raka tersenyum licik, seperti sedang merencanakan sesuatu.


*****"*********


Di sebuah kamar yang cukup luas, Aira nampak bersemangat. Mengulang pelajaran yang di berikan Kinos padanya. Dengan wajahnya, ia mempraktekkan cara memakai alis yang benar, dan blash on.


"Kak Ki!!" panggilnya pada pria berperawakan cewek yang sibuk menghiasi kuku.

__ADS_1


"Apaan sih, Ra. Rempong deh Lo. Gue lagi sibuk, nih!!!" sahut pria itu, tak melirik sedikitpun dirinya.


Aira berjalan mendekati pria itu. Tepat dihadapannya, ia menepuk pundak Kinos.


"Kak Ki, coba tengok dulu. Aku nyoba make alis, dah bener belum kek gini!!!" seru Aira, merengut.


"Ya ampun Ra, meni rempong amat sih Elo. Malam-malam gi...ni." Kinos terperangah atas keberhasilan Aira yang melukis alisnya dengan benar. Di tambah polesan blash on di pipi wanita itu, membuat auranya terlihat. "Ya ampun, Ra!!!" teriaknya panik. Aira pun ikut panik.


"Kenapa, Kak. Jelek, ya?" Dengan wajah merengut, Aira terlihat sedih.


Kinos beranjak, setelah itu mencengkam pundak wanita itu. Dengan wajah girang. "Sumpah, elo beda banget, Ra. Padahal cuma pake alis sama blash on aja. Tapi ini tuh keren, gak kayak Aira yang kumel. Keren, Ra. Keren."


"Beneran, Kak!"


"Hooh, beneran deh. Sumpah!!!"


"Makasih ya, Kak." Aira memeluk pria itu, dengan nada sendu.


"Kamu kenapa, sedih?" Kinos mengajak Aira untuk duduk. "Cerita sama kakak. Apa yang bikin kamu sedih?"


Aira menceritakan semuanya. Saat diusir Citra, dikhianati oleh Raka, dan meninggalkan orang yang ia sayang. Hanya karena mereka tak sepadan.


"Kamu tenang aja, Ra. Aku akan bantu kamu untuk membalas perlakuan mereka!"

__ADS_1


__ADS_2