Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku

Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku
Rapuh


__ADS_3

Aira berhasil keluar dari gedung itu. Dia terus berlari, dengan sisa tenaganya menuju jalan raya. Tiba-tiba saja mobil berwarna hitam bergerak sangat kencang ke arahnya.


Menyadari ada mobil yang melaju ke arahnya dengan sangat kencang. Aira menoleh, ia sudah pasrah dengan apa yang terjadi selanjutnya. Jika harus mati hati itu juga, dia pun sudah siap. Aira menutup matanya dengan telapak tangan. Sambil berteriak kencang. "Arhhhhhhh...."


Nyawanya sudah di ambang pintu. Sedetik kemudian, tubuh mungilnya di dekap oleh seseorang dengan tangan yang menangkup kepalanya. Hingga suara hantaman keras, semakin membuat tubuh Aira menegang.


Secara bersamaan pengemudi mobil itu membanting stirnya, ia arahkan ke tempat lain. Braklkklllk pyarrrrrrr. Mobil itu menghantam pagar tinggi.


Aira semakin menutup rapat matanya. Ia bahkan sudah siap jika malaikat Izrail mencabut nyawanya. Hidup pun tidak ada gunanya lagi. Dia malu, merasa bodoh di depan Suraj. Sedetik, dua detik, tiga detik, Aira merasa tidak ads yang berubah. Posisinya sama seperti tadi. Hanya tubuhnya sedikit berat, seperti ada seseorang yang merengkuhnya. Pelan, ia membuka mata. Yang pertama ia lihat adalah sesosok tubuh kekar sedang mendekap tubuhnya. Ia masih tak percaya. Kalau masih hidup. Bahkan beberapa kali, ia mengerjap. Menyakini, kalau itu bukan mimpi.


"Syukurlah, kita selamat."


Suara itu semakin meyakinkan Aira, kalau dia benar-benar belum mati. Di rasa tubuh mereka sudah merenggang. Yang pertama Aira lakukan adalah menatap wajah orang yang menyelamatkan dirinya. Takjub, tak percaya, saat melihat Suraj lah yang menjadi pahlawannya. Yang menyelamatkan dirinya dari kecelakaan itu.


Rasa bersalah kian menumpuk di benak dan hati Aira. Orang yang selama ini, ia anggap perusuh. Ternyata orang yang tulus, tak ingin sesuatu buruk terjadi padanya.

__ADS_1


Tubuh Aira terguncang hebat. Menahan sesak dalam dirinya. Mata yang sembab, tubuhnya kelu, membuat wanita itu kembali terisak. "Kenapa mereka jahat sama aku, kenapa? Hiks hiks."


"Kita menepi, ya?"


Tak berapa lama, supir yang hampir menabrak mereka tadi menghampiri. "Kalian tidak terluka, 'kan?" Pria berpostur tinggi, dengan tubuh sixpack itu memperhatikan keduanya. "Maaf, saya tadi sedikit mengantuk. Tidak sadar kalau berada di jalur yang salah," sambungnya menyesal.


"Kami tidak apa-apa. Lain kali, harus berhati-hati ya? Sangat membahayakan orang lain." Suraj memperingati pria itu.


**************


Rasa tidak percaya, masih mengisi hati seorang wanita yang saat ini sedang duduk berteman pilu. Mami kandungnya sendiri berbuat mesum dengan laki-laki yang berstatus suaminya. Apa yang ada dipikiran mereka berdua, sehingga tega membuat dirinya terluka.


Aira tak bergeming, dia masih terlalu sakit membayangkannya. Pernikahan yang baru kemarin ia jalani bersama Raka. Haruskah berakhir pilu? Apa kata orang-orang nanti, kalau tahu mereka pada akhirnya berpisah.


Pria yang memperlakukan dirinya lembut, ternyata serigala yang perlahan menikamnya dari belakang. Seorang ibu, yang harusnya mengayomi anak-anaknya, memberi contoh yang baik. Justru menyemburkan luka yang amat perih di hatinya. Apa dia sanggup untuk bertemu mereka berdua? Setelah tahu pengkhianatan yang dilakukan mereka.

__ADS_1


"Apa setelah ini, kamu akan minta cerai dari Raka?" tanya Suraj, tanpa memandang wajah wanita di sampingnya. Dia tahu, ini bukan waktu yang tepat untuk membahas hal itu. Akan tetapi, dia tidak rela jika Aira masih bertahan dalam pernikahan sandiwara itu. Yang ada, akan semakin membuatnya terluka.


Mendengar hal itu, dadanya bergemuruh hebat. Sorot matanya merah, membulat sempurna. Wanita itu berdiri, memandang Suraj dengan tatapan murka.


"Jadi ini rencana kamu?" tegas Aira menunjuk Raka. "Ini rencana kamu, agar aku berpisah darinya," sambung Aira dengan suara kencang. "Jahat kamu ... Jahat."


Aira membabi buta, memukuli tubuh Suraj beberapa kali. Meluapkan emosinya di sana. Hingga pukulan terakhir, ia ambruk di tubuh pria itu. "Kenapa kamu tunjukkan itu sama aku, Kenapa?" racaunya menangis tersedu-sedu.


Suraj menangkup kepala gadis itu, mengusap bahunya pelan. Siap menjadi sandaran kerapuhan Aira. "Aku ngerti perasaan kamu, Ra. Kamu harus kuat. Masih banyak yang mencinta kamu." Suraj menjeda kalimatnya. Untuk mengumpulkan keberaniannya. "Termasuk aku," lirihnya yakin.


Aira justru tertawa, ia menarik diri dari dekapan Suraj. "Bodoh!!! Kenapa kamu masih mengharapkan orang seperti aku?" cibirnya, untuk dirinya sendiri. "Kamu terlalu sempurna untukku, Suraj. Aku tidak pantas mendapatkan cintamu."


"Nggak, Ra. Aku gak perduli dengan semua itu. Cuma kamu yang pantas, dan terbaik untukku."


"Ini terlalu dini, Suraj. Kamu hanya melihat sisi baik dari diriku. Kamu belum mengenali sisi burukku."

__ADS_1


"Karena itu, izinkan aku mengenalmu lebih dekat lagi?"


Hening, tatapan mereka bertemu.


__ADS_2