Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku

Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku
Undangan


__ADS_3

Citra terbahak, mendengar ucapan berondongnya. "Hahaha, gak mungkinlah. Lagian, siapa juga yang mau sama anak itu!" cibirnya enteng.


Raka menghela napas lega, yang sempat sesak entah apa alasannya. "Aku harap begitu. Lagian, dia kan jelek, kumel, kusam. Mana ada sih cowok yang mau sama dia." Raka berusaha menyakinkan dirinya. "Beda banget sama kamu." Setelah itu menatap nakal ke arah Citra. "Cantik, seksi, bahenol lagi. Aku aja sampai tergila-gila sama kamu." Tangannya yang nakal mulai menjamah ke arah dada Citra.


Secara bersamaan, Aira pun datang. Membawa dua cangkir teh hangat. Sontak, Raka menarik tangannya. Mengatur diri, agar tidak panik.


"Ini Mi, minumannya." Aira meletakkan nampan di atas meja. "Diminum, Mas." Kemudian menawarkannya pada Raka.


Selesai menyiapkan minuman untuk mereka berdua. Aira melirik ke arah jam dinding, yang menunjukkan pukul delapan pagi. "Ya ampun, udah siang banget. Mi, aku ke pasar dulu ya?" Setelah itu meminta izin pada Citra.


"Emm, ya udah. Kamu ke pasar sekarang, nanti siang mami yang handle cafe. Ada baiknya, kalian berdua keluar bareng. Jalan kek, entah kemana," ujar Citra, menatap Aira dan Raka secara bergantian. Kemudian, melirik sekilas ke arah pria yang terlihat sayu, akibat kelelahan.


Sungguh, ucapan Citra membuat Aira terperangah. Tubuhnya mematung, mendengarnya. Ada angin apa, sehingga wanita itu membiarkan dirinya untuk jalan bareng dengan Raka. Apa yang sedang mereka rencanakan.


"Iya, sayang. Aku jemput kamu, nanti. Tapi, aku pulang dulu. Capek, ngantuk," keluh Raka tersenyum tipis ke arah Aira.


"Iya, Mas. Aku pergi dulu, ya?"


**************


Sesuai janji Raka tadi pagi, pria yang baru saja turun dari motornya tampak semringah masuk ke dalam cafe. Kedatangannya sudah ditunggu oleh Aira yang masih sibuk melayani pelanggan.


"Ra, itu Raka udah dateng. Kamu tinggal kerjaan kamu, biar mami yang gantiin," ujar Citra yang tak henti memandang wajah manis berondong kesayangannya.

__ADS_1


"Ok, ini aja ya Bu. Saya siapkan dulu," ujar Aira tak sabar ingin menemui Raka.


Setelah memberikan daftar menu yang dipesan pelanggan pada Bellian. Aira bergegas menemui Raka yang sedang ngobrol sama maminya.


"Kamu udah siap, sayang?" tanya Raka menyadari kedatangan Aira di sana.


"Anter pulang dulu ya, Mas. Mau ganti baju," pinta Aira, memperlihatkan penampilannya. "Nggak mungkin kan kita pergi, dengan penampilan aku yang kayak gini." Setelan jean hitam dan kaos lengan pendek berwarna merah, melekat di tubuhnya. Wajahnya yang kusam, seharian berkutik di dapur cafe.


Citra menatapnya dengan tatapan tidak suka. Memandang rendah penampilan Aira yang dekil.


"Nggak usah, sayang. Udah gini aja. Kamu udah kelihatan cantik, kok." Raka menolaknya, setelah itu memuji Aira dengan penampilannya yang sekarang. Padahal, dalam hatinya merasa jijik dengan wanita itu.


Mendapat pujian dari Raka, menguat Aira terbang melayang. Itulah, yang ia suka dari Raka. Tidak pernah memandang dirinya dari penampilan.


"Udahlah sayang. Untuk apa juga dandan. Kalau hasilnya sama."


Jleb, ucapan Citra langsung menohok hatinya. Aira bahkan tidak menyangka, kalau wanita itu akan mempermalukan dirinya di depan Raka. Seketika, wajahnya menunduk lemas.


"Udah yuk, sayang! Kita berangkat."


Raka terpaksa menarik pelan tangan Aira agar secepatnya pergi dari sana. Dengan tatapan tak henti memandang Citra, yang mulai menggerakkan bibirnya. Entah apa yang sedang ia bicarakan.


Selepas kepergian mereka berdua. Citra hanya duduk di meja kasir. Meski dua pelayannya sedikit keteteran. Dengan asal perintah sana, perintah sini.

__ADS_1


Tak lama setelah itu, seorang wanita cantik yang baru saja masuk ke dalam, langsung mendekati Citra.


"Hai jeng Citra, apa kabar?" sapanya lemah lembut.


"Eh, jeng Yuni. Tumben nongol." Citra beranjak, mendekati teman sosialitanya.


"Kita cari tempat ngobrol yang enak," sambungnya mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu. "Kayaknya di sana lebih nyaman deh." Citra menunjuk salah satu bangku yang masih kosong.


"Gimana-gimana, ada kabar apa ini?" tanya Citra, membuka percakapan.


"Jadi gini," balas Yuni mencari-cari. 'Kemana gadis itu, ya? Kok gak kelihatan," gumamnya membatin.


"Jeng Yuni," panggil Citra, melihat temannya itu melamun.


"Eh maaf, jeng." Yuni kembali fokus pada Citra. "Saya mau ngundang jeng Citra buat datang ke Anniversary pernikahan saya dan suami." Yuni mengeluarkan sebuah kertas dari dalam tasnya. "Ajak juga anaknya, si Aira. Saya mau ngenalin sama anak saya. Siapa tahu cocok, mereka," guraunya, namun penuh harap.


"Wah, keren. Saya pasti datang," sambut Citra menatap ke arah benda yang sudah ia terima dari Yuni. 'Tapi nggak sana si gadis kumel itu," ucapnya dalam hati.


"Jangan lupa ajak Aira ya, Jeng," ujar Yuni mengingatkan.


"Ok, saya akan ajak anak saya datang ke sana."


Yuni bisa bernapas lega, dia sudah membuat rencana yang matang untuk mendekatkan Suraj, dengan gadis pujaannya.

__ADS_1


__ADS_2