Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku

Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku
Dinginnya udara puncak


__ADS_3

Area berbahaya. hanya untuk dibaca orang dewasa. Bocil di larang mampir.


Bijaklah dalam memilih bacaan


Udara dingin puncak di Bogor, menjadikan tempat ternyaman untuk kedua pasangan mesum yang sekarang masih terbaring di ranjang. Selimut tebal tak cukup menghangat tubuh mereka yang sudah sama-sama polos.


Begitu sampai di tempat itu. Citra langsung mengajak bercinta berondong kesayangannya. Mereka melakukannya beberapa ronde.


"Kamu memang luar biasa sayang. Aku sampai kualahan ngimbangin kamu," puji Citra, mengecup sekilas bibir Raka.


"Iya, dong sayang. Kalau aku nggak hebat. Mana mungkin kamu tergila-gila padaku." Raka menggoda Citra. pria itu menekuk tubuh Citra dengan sangat erat.


"Aku nggak mau, kalau kamu sampai berpaling dariku." Citra memainkan tangannya di bidang dada pria itu. "Aku nggak akan bisa memaafkan kamu. Dan akan aku pastikan, kamu menyesal telah mengenalku." Citra bicara dengan nada mengancam.


"Mana mungkin, aku menyia-nyiakan tambang emas yang ada di depan mata." Raka bergumam dalam hati. Pria itu sama liciknya dengan lelaki yang lebih dulu mengenal Citra.


"Aku mencintaimu," ucap Citra mengecup sekilas bibir Raka.

__ADS_1


"Jangan memancingku, sayang." Tak tinggal diam, Raka langsung menyambar bibir Citra dengan rakusnya mel**at, me***sap bibir itu hingga, ke dalam rongga mulutnya. Menciptakan rengkuhan nikmat dari wanita itu.


"Stop, sayang." Aira mendorong tubuh Raka. "Simpan tenagamu untuk nanti, malam."Citra menolaknya kali ini. Dia sudah tak punya tenaga, untuk melayani berondonya. Entah sudah berapa kali, mereka sampai ke pelepasan.


"Kamu yakin, sayang?" Raka masih menggodanya. Dengan tangan yang masih gentayangan di gunung kembar milik wanita itu. Berharap, Citra berubah pikiran.


"Plis, sayang. Aku lelah. Lebih baik, kamu mandi duluan. Setelah itu, kita cari makan."


Menurut, apa yang diinginkan oleh Citra. Raka beranjak dari ranjang. Menuju ke kamar mandi. Tak lama, ia mendengar gemercik air dari luar, menandakan hujan turun dari langit.


Tak ingin membuang kesempatan, Citra pun beranjak. Menyusul Raka di kamar mandi. Meminta pria itu untuk secepatnya menyelesaikan urusannya di sana.


"Mau kemana?" Raka bertanya.


"Aku pesen sama penjaga villa ini untuk membuatkan wedang jahe. Nanti sekalian kita, menemui temen mami yang kebetulan ada di tempat ini."


Citra menyambar piyama mandinya. Wanita itu hanya membersihkan di beberapa bagian tubuhnya. Setelah itu memakai pakaian itu, menunggu Raka di luar.

__ADS_1


"Apa kamu sudah siap, sayang?" tanya Raka memperhatikan tubuh Citra dari atas hingga ke bawah.


"ya," jawabnya singkat. "Ayo! Kita sudah di tunggu sama teman mami."


Raka menggandeng tangan Citra, layaknya sepasang kekasih menuju ke teras belakang. Tepat, di sana sudah ada beberapa orang wanita yang seumuran dengan Citra nampak bersenda gurau.


"Hai, apa kabar?" sapa Citra pada semuanya.


"Hai, Cit. Wah, tambah seger aja nih. Doyannya yang berondong sih!!" balas salah satu dari mereka, sambil mengejek Citra.


"Iya, dong. Emangnya kalian, doyan sama aki-aki." Citra mencibir wanita itu. Mengundang gelak dari semua. "Kenalin, ini Raka. Dia adalah berondong kesayangan aku." Citra mengenalkan Raka pada keempat temannya.


"Hai," sapa mereka genit. Mengedipkan matanya nakal.


"Ersa, Jangan macam-macam ya? Dia hanya milikku. Milikku." Citra menekankan kalimatnya. Mengklaim, bahwa Raka hanya miliknya seorang.


Hahaha.

__ADS_1


Tanpa sepengetahuan Citra, salah satu dari temannya menyisipkan kartu nama di saku kemeja Raka. Setelah itu memberi kode, untuk segera menghubunginya.


__ADS_2