
"Sayang, kok kamu diem? Kamu lagi mikirin apa?" Citra membuka percakapan, setelah keheningan tercipta di ruangan itu. "Awas aja kalau kamu mikir yang nggak-nggak," sentilnya, mencubit kecil perut pria itu.
Raka meringis kesakitan. Ia pegangin perutnya yabg terasa sakit. "Aduh, sayang. Sakit loh, nanti kalau itu marah gimana?" sahut Raka menunjuk ke arah juniornya yang hanya tertutup handuk yang melilit di pinggang.
"Hehehe, nggak mungkinlah. Gak mungkin dia marah. Apalagi kalau aku kasih ini," balas Citra mendekatkan dadanya ke arah Raka, pria itu bisa melihat dengan jelas gunung kembar milik tambang emasnya itu. Apalagi, benda itu sudah menempel di kulitnya. Tak bisa dibiarkan begitu saja, Raka langsung menarik tubuh Citra dalam dekapannya.
Dengan rakus, ia ******* bibirnya. Memainkan benda kembar yang sungguh mempesona itu. Lidahnya menari-nari di dalam sana. Menuntun mereka untuk saling memberi kenikmatan.
Raka menghentikan pangutan bibirnya. Mereka saling mencari udara yang mulai habis akibat serangan mendadak itu.
"Sayang, kamu nakal ih!" seloroh Citra memukul kecil dada Raka.
"Kamu yang menggodaku, sayang." Raka membalikkan tubuh Citra menghadap ke cermin. Kemudian tangannya mengalung ke perut. Lidahnya mulai lihai menjilati jenjang leher wanita itu.
Suara desisan kecil dari Citra, mengobarkan gairahnya untuk semakin berani mengeksplorasi tubuh indah wanita itu.
Citra hanya bisa kegelian dengan mata yang terpejam sempurna. Menikmati setiap sentuhan yang di berikan berondongnya. Sesekali, rasa nikmat yang ia rasakan tertahan di pangkal tenggorokan. Menciptakan *******, dan rintihan dari bibirnya.
Tubuh Citra yang terbungkus pakaian handuk, perlahan di lucuti oleh Raka. Hingga terlepas semua. Di buangnya sembarang.
"Sekarang, kita coba gaya baru ya sayang?" bisik Raka, menggigit telinga Citra.
"Ehm, sayang. Kamu mau ngapain lagi. Belum cukup kan dua ronde tadi malam!" ujar Citra, dengan suara terbata akibat sentuhan kecil yang mendarat di area sensitifnya. "Arghhhh. Sakit, sayang?" Wanita itu mengerang kesakitan, saat jari Raka mulai menyusuri mulut goa wanita itu. Kemudian mulai menari-nari di sana.
__ADS_1
"Apa, kau suka?" tanya Raka di sela pangutan bibirnya.
"Aku lebih suka pakai juniormu, sayang," balas Citra dengan suara seksinya.
"Ok, kalau memang itu yang kamu mau. Are you ready, sayang?"
Puas memberi pemanasan untuk Citra. Raka mengajak Citra untuk berdiri. Dengan sedikit menunghingkan punggungnya, dengan posisi membelakangi dirinya.
"Ini akan lebih nikmat, sayang?" ujar Raka bersiap-siap menyatukan tubuh mereka dari belakang.
Jleb... Arhhhhhhh
Saking kuatnya, tangan Citra butuh pegangan untuk menahan rasa sakit di area sana. Ia meraih bibir meja sebagai pegangannya.
Raka semakin menjadi. Tak memberikan ampun pada Citra, walau wanita itu mengiba untuk segera menghentikannya. Tak perduli, ia tidak akan berhenti. Sampai erangan panjang dari bibir mereka berdua keluar.
Arhhhhhhh.
*******************
Tidak seperti kemarin, usai belanja dari pasar. Aira langsung ke cafe. Pagi itu, ia terpaksa pulang ke rumah dulu untuk mengambil barang yang tertinggal.
"Aku langsung berangkat, ya? Ada mata kuliah pagi, soalnya," pamit Suraj yang baru saja mengantar wanita itu.
__ADS_1
"Iya. Kamu hati-hati, ya? Nanti aku ke cafe bareng mang Jali aja," balas Aira melambaikan tangan.
Setelah mobil Suraj melenggang pergi. Aira masuk ke dalam. Untuk mengambil benda itu. Langkahnya tercekat pada dua orang yang duduk di meja makan, sambil menikmati secangkir kopi hangat. Yang menjadi perhatian dari Aira. Keduanya dalam posisi rambut yang masih basah. Sudah dapat dipastikan oleh Aira. Mereka habis melakukannya.
"Pulang juga, kamu!" tegur Citra menunggu kedatangannya.
Aira hanya meliriknya sekilas. Setelah itu melanjutkan mencari barang yang ia butuhkan di cafe. Tanpa mempedulikan dua pendosa itu.
"Aira! Kamu denger gak kalau mami ngomong?" sentak Citra yang mulai emosi, tidak dihiraukan oleh wanita itu.
"Mami ngomong sama Aira?" balas Aira tanpa beban. Ia sudah kebal melihat pemandangan itu. Bahkan lebih dari itu juga sudah pernah ia lihat. Aira memutuskan untuk membuang jauh-jauh sisa-sisa perasaan yang masih ada untuk Raka.
"Tentu aja ngomong sama kamu!" sahut Citra, geram. "Mana uang hasil penjualan semalam?" tanyanya enteng, tanpa dosa.
Aira menghentikan langkahnya menuju ke dapur. Setelah itu beralih memandang wanita yang terlihat menor, uang sedang menatap tajam ke arahnya. "Uang?" ulang Aira, seolah tak mengerti.
Citra sudah hilang kesabaran. Wanita itu langsung berdiri menghampiri Aira. "Nggak usah belagak begok, kamu? Mana uangnya?" Sambil menadahkan sebelah tangannya ke depan Aira.
"Emangnya mami kerja? Kok tanya uang?" tandas Aira, menikam jantung wanita itu.
Seketika wajahnya meredam merah, kesabarannya sudah di ujung kepala. Hingga Citra mulai mengangkat tangannya untuk menampar Aira.
"Jangan pernah menyakiti Aira lagi!" tandas Aira menahan pergelangan tangan wanita itu. "Ini." Setelah itu memberikan amplop yang ia ambil dari dalam tasnya.
__ADS_1