
Pekatnya malam, sepekat hati seorang wanita yang sedang terbaring di kasur. Entah beberapa kali, ia mengubah posisi tidurnya. Mencari posisi yang nyaman untuk mengistirahatkan diri. Akan tetapi, matanya seolah enggan di ajak kompromi. Padahal, besok ia harus bangun pagi-pagi sekali.
Raganya ada di tempat itu. Tapi, tidak dengan raganya. Dua orang yang sangat ia cintai. Tak kunjung datang. Entah apa yang sedang mereka lakukan.
Pada akhirnya Aira menyerah gadis itu menarik diri agar bisa duduk dengan nyaman menyandar di haeadbord. Ia ambil benda pipih yang tergeletak di samping meja. Melihat pesan terakhir dari maminya.
{Sayang, maafin mami ya? Gak bisa pulang malam ini. Raka kecapekan, bahaya kalau dipaksa untuk nyetir malam-malam begini}
Aira menghembuskan napasnya kasar, pasrah dengan apa yang akan terjadi nanti. Bayang-bayang ucapan Suraj, seklebat hadir di tengah-tengah kegundahannya.
"Kok aku kepikiran sama omongan Suraj tadi, ya?" gumamnya, menggigit' bibir bawah.
Belum juga, lepas bayang-bayang Suraj dalam benaknya. Layar ponselnya kembali nyala, diikuti suara berisik dari sana. Memaksa Aira untuk segera menjawabnya.
"Siapa sih, malam-malam gini nelpon," gerutunya, menghela napas kasar. "Nomor baru." Keningnya mengkerut. "Hallo," sapanya pada seseorang di seberang sana.
Siraj tampak semringah, saat Aira menjawab telpon darinya. "Hallo, juga." Suraj membalasnya. "Kok belum tidur?" Setelah itu ia bertanya.
Mendengar suaranya, Aira menarik kedua bibirnya ke samping. Tiba-tiba saja, tubuhnya gemetar. Keringat dingin mulai bermunculan. "Kamu, ngapain malam-malam begini nelpon. Ganggu orang aja," ucapnya, pura-pura kesal.
Suraj menggeleng. Dia tahu betul apa yang dirasakan oleh gadis itu. "Masa sih ganggu! Bukannya kamu seneng ya? Tuh, kelihatan kok dari sini. Senyum-senyum sendiri," goda Suraj, menahan tawa.
__ADS_1
Sementara Aira nampak kebingungan. 'Kok dia bisa tahu ya, kalau aku lagi senyum-senyum.' "Mana ada? Gak usah ngada-ngada deh." Aira nampak kesal.
Suraj tertawa lepas, mendengar kepanikan dari gadis itu. "Ya karena aku dekat denganmu, Aira. Mangkanya, aku bisa tahu. Kalau kamu lagi senyum-senyum sendiri." Suraj terkikik geli, bisa mengerjai Aira.
"Hah!" Kelopak mata Aira membulat sempurna. Dia beranjak dari ranjang, menunju ke jendela. "Beneran kamu ada di sini?" Sorot matanya mengelilingi keadaan luar. "Kamu di mana, emang?" Akan tetapi, tidak menemukan siapapun di sana.
"Di hatimu," sahut Suraj dengan nada serius.
Blushhh
Wajah Aira kembali memerah. Hatinya sedikit menghangat. Mendengar asupan gizi dari Suraj, lewat gombalannya. Kegundahan yang sempat menyelimuti, perlahan hilang. Digantikan mekarnya bunga-bunga di dalam sana.
"Tidur, Ra. Kamu harus istirahat dengan baik. Aku gak mau, melihat kamu sakit." Suara Suraj kembali terdengar. Namun, kali ini terdengar serius. "Jangan banyak pikiran. Santai. Nikmati hidup kamu, Ra. Masih banyak kok, orang yang sayang sama kamu." Suraj menjeda kalimatnya. "Salah satunya, AKU."
*************
Hangatnya mentari, kembali mengusik tidur singkat Aira. Baru juga terlelap ke alam mimpi. Panggilan alam, memaksa gadis itu untuk segera beranjak dari ranjang.
"Udah pagi aja sih!" gerutunya, gegas menuju ke kamar mandi.
Usai mandi, dan berpakaian sempurna. Aira mengambil ponselnya, setelah itu keluar dari sana. Saat menapaki tangga terakhir menuju ke lantai bawah. Ponselnya berbunyi, kali ini bukan nada panggilan yang terdengar. Sebuah notif pesan dari seseorang yang sejak kemarin membuat hatinya menghangat.
__ADS_1
{Pagi, calon istriku.}
Pesan singkat itu, mampu menambah imun Aira untuk menghadapi kesibukan hari ini. Tanpa sadar, seulas senyum terpancar dari bibirnya. Wajahnya yang merona mengundang perhatian dua orang yang baru saja datang dari arah luar.
"Sayang," panggil Raka, sontak Aira terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba.
Aira langsung menyembunyikan ponselnya ke belakang. "Mas Raka, Mami! balasnya, mendekat ke arah mereka.
"Kok pulang gak ngasih kabar. Tiba-tiba aja muncul, aku kan kaget." Aira nampak salah tingkah, takut apa yang ia lakukan tadi mengundang pertanyaan mereka.
"Gak sempet, sayang. Oh iya, buatkan Raka minum gih! Mami juga," titah Citra pada gadis itu.
"Iya, Mi."
Sepeninggal Aira, Raka dan Citra duduk di sofa ruang tengah. Nampak jelas di wajah pria itu, melihat keganjalan sikap kekasihnya.
"Sayang, kamu liat nggak tadi?" tanya Raka pada wanita uang duduk, tepat di sebelahnya.
"Apa sih, sayang. Jangan genit-genit, deh. Ada Aira, di sini."
"Bukan itu, Yang. Sikap Aira yang aku maksud." Raka memperhatikan pintu ruang makan. Berjaga, kalau-kalau Aira tiba-tiba masuk ke dalam.
__ADS_1
"Kenapa dengan anak itu?" Citra menaikkan sebelah alisnya.
"Pas kita baru dateng tadi, dia tuh kelihatannya lagi berbunga-bunga. Apa mungkin, Aira selingkuhi aku?"