Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku

Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku
Tak sabar


__ADS_3

Pria yang menjabat ketua RT di komplek itu pun mendekat. Penasaran dengan apa yang dua orang itu kerjakan.


"Ada apa ini, Bu Citra?" ulang Surya dengan nada tegas.


Sementara Citra dan Raka terlihat gugup. Bingung akan menjawab apa. Mereka saling melempar pandang. Hingga, Citra yang lebih dulu menemukan ide.


"Gak ada apa-apa kok, Pak. Ini calon mantu saya, mau nyariin Aira. Biasalah, anak muda." Citra melirik sekilas Raka, dengan wajah merahnya. "Mau ngajak Aira keluar, hehehehe."


"Iya, Pak. Tapi, Mami Citra bilang Aira gak ada di rumah. Saya penasaran, dan pengen liat," sambung Raka dengan nada gugup. Setelah Citra memberikan kode untuk membantu menjawabnya.


"Oh begitu ceritanya." Sorot mata Surya nampak menelisik tajam ke arah Raka. Timbul rasa tidak suka dengan pemuda itu. "Lebih baik, mereka dinikahkan saja, Bu. Saya liat, Mas Raka ini. Sering banget datang kesini," usul Surya dengan nada khawatir. "Bukan apa-apa, Bu. Sekarang ini, banyak muda-mudi yang lepas kontrol. Melakukan **** bebas, yang mengatasnamakan cinta."


Citra tersenyum puas, mendengar usulan dari Surya. Memang itu rencananya, segera menikahkan Aira dan Raka. Dengan begitu berondong kesayangannya dengan leluasa tinggal di rumah itu. Tanpa ada orang yang curiga, kalau mereka berbuat sesuatu.


"Baik, Pak. Nanti akan saya katakan sama Aira." Citra menjawabnya.


"Ya sudah, saya permisi dulu Bu. Selamat sore."


"Sore, Pak."


***********************

__ADS_1


Ruang makan keluarga Malhotra sudah terisi Yuni dan suami. Mereka sudah duduk di tempat itu sejak tadi. Hanya tinggal menunggu putra kesanyangan datang.


"Mi, mana Suraj?" tanya Moh, panggilan untuk papinya Suraj.


"Ada Pi, di kamar." Yuni fokus memperhatikan pintu ruang tengah. Menunggu Suraj muncul dari sana. "Coba mami panggil dulu ya, Pi," pamit wanita senja yang masih terlihat cantik mengenakan dres berawana crem muda.


Sesampainya di depan kamar Suraj, Yuni langsung masuk. Tanpa mengetuk pintu terlebih dulu. Sontak membuat Suraj terkejut dengan kehadiran wanita itu secara tiba-tiba.


"Mami," lirihnya memegangi dada.


Wajahnya tampak suram, ada yang mengganjal pikiran pria itu. Kemungkin besar, kejadian sore tadi. Saat tangan Aira digenggam oleh Raja. Langsung ada rasa tak nyaman dalam dirinya. Membayangkan gaya bercinta sepesang kekasih itu.


"Entahlah, Mi. Kenapa ya nasib Suraj selalu gak beruntung. Dulu, menjalin hubungan sama Nadine, Suraj dikhianati. Di tinggal nikah. Sekarang, sekalinya Suraj suka sama wanita, eh udah ada yang punya. Sungguh nasibmu malang, Suraj," keluh pria yang hanya mengenakan celana jeans pendek, dengan setelan kaos berwarna merah.


Yuni tersenyum getir, mendengar keluh kesah putranya. Sebagai seorang ibu, dia tidak ingin Suraj mengalami trauma. Nantinya, tidak mau mengenal lawan jenis.


"Kamu gitu aja udah nyerah," cibir Yuni dengan senyuman mengejek. "Aira bukan tidak suka sama kamu. Mami liat, ada sepercik api cinta dimatanya. Dia hanya wanita polos, yang memegang teguh komitmen. Dan itu baik, menurut mami. Kamu tinggal berusaha lebih keras lagi, untuk mengobarkan api cinta itu untukmu. Semangat dong." Yuni menepuk pundak Suraj.


"Tapi, Mi. Masalahnya Raka itu bukan orang baik." Suraj mendengkus kesal, saat mengingat kejadian itu. Dimana, dengan mata kepalanya sendiri Suraj sedang bercumbu dengan Citra, di depan umum.


"Mami tahu," sahut Yuni dengan semangat. "Itu jadi tugas kamu, dong. Buat Aira sadar, kalau Raka bukan yang terbaik buat dia. Jangan melempem gini."

__ADS_1


Suraj mencerna kata demi kata yang diucapkan maminya. Timbuk kepercayaan dirinya lagi, setelah sempat memudar. Dan membiarkan gadis itu lepas begitu saja.


"Kamu hanya cukup berusaha. Jangan lupa juga, doanya jangan putus."


"Makasih ya, Mi." Suraj memeluk maminya erat. Wanita itu selalu bisa membuat semangatnya berkobar. Dalam hal apapun itu.


"Ya udah, cepetan turun. Papi udah nunggu. Sekalian, mami mau berembuk acara anniversary pernikahan papi dan mami," suruh Yuni, agar Raka secepatnya beranjak.


"Siappp!!!"


Seperti yang sudah direncanakan oleh Yuni dan Siraj. Acaranya akan di selenggarakan di rumah itu. Akan mengambil konsep, pesta topeng. Dengan begitu, Suraj bisa membongkar kebusukan Citra dan Raka di acara itu. Dan berharap, semua akan berjalan lancar.


"Mami setuju! Nanti temen-temen mami, mami japri satu persatu."


"Keren, Mi. Suraj udah gak sabar, pengen liat reaksi Aira saat tahu kalau Raka bukan pria yang baik untuknya." Siraj menyunggingkan senyuman, membayangkan hal itu terjadi. "Dan disaat itulah, aku akan jadi pahlawan kamu, Ra. Aku akan mengobati luka hatimu."


Setelah semua sepakat, Suraj memutuskan kembali ke kamar. Sambil menyiapkan materi untuk besok. Baru juga mengambil labtob, ponselnya berdering. Suraj mengambilnya, mengerenyit heran saat ada nomor tidak di kenal menghubunginya.


"Siapa, ya?"


Tampak ragu-ragu menjawabnya. Apalagi setelah mendengar suara dari seberang. Wajahnya berubah suram.

__ADS_1


__ADS_2