
Sorot mata Surat menggambarkan ketulusan dalam hatinya. Dan itu, bisa di rasakan oleh Aira. Ia sendiri kagum dengan pria itu. Akan tetapi, ada benteng tebal yang menghalanginya. Apalagi untuk memulainya. Rasanya akan sulit.
"Aku gak bisa menjawabnya sekarang!"
Aira berlari meninggalkan Suraj. Dia tidak sanggup terlalu lama berada di dekat pria itu. Justru semakin membuat hatinya sakit tak berdarah.
*****************
"Sayang, gimana ini. Kalau petugas tadi membocorkannya pada pihak hotel. Yang ada kita akan di gandang ke kantor polisi?" tanya Raka panik. Wajahnya langsung memutih, takut berurusan dengan pihak berwajib.
"Itu gak akan terjadi, kamu tenang aja. Biar aku yang urus." Citra melenggang pergi dari kamar itu, setelah berpakaian lengkap.
Sempat terjadi adegan kejar-kejaran saat Citra mendapati petugas tadi masuk ke dalam lift. Beruntung, Citra bisa menyusulnya. Bahkan satu lift dengan pria itu.
"Anda mau apa?" tegas pria itu, dengan wajah suramnya.
"Saya mau menawarkan sesuatu," balas Citra menyeringai.
"Saya tidak butuh itu!" Dengan tegas, pria itu menolaknya.
"Lima belas juta, saya rasa itu nominal yang pas untuk membungkam mulut anda, agar merahasiakan hal tadi dari atasan anda!" Citra mengeluarkan sejumlah uang dari dalam tasnya.
Wajah petugas itu menggambarkan kebimbangan. Uang segitu banyaknya akan masuk ke kantongnya, hanya dengan menutup mulutnya saja. "Tawaran yang menarik!" balas pria itu, menyeringai. "Saya ambil uang ini." Kemudian mengambil uang itu dari tangan Citra.
__ADS_1
"Good job." Citra tersenyum puas. Satu masalah sudah terlepas darinya.
**************
Dua pasangan laknat itu sudah kembali ke rumah. Hari mereka berantakan karena kedatangan Aira tadi. Sepanjang jalan, sampai di rumah. Citra mengumpat kesal, tidak bisa ajib-ajib dengan Raka. Padahal, ia sudah menyewa kamar hotel itu dengan mahal. Berharap bisa mendapatkan suasana baru, dalam bercinta.
"Sayang, apa yang akan kita katakan nanti sama Aira?" Raka bagaikan kerbau yang di cucuk hidungnya, menuruti apapun yang di perintah oleh Citra. Seperti siang itu, dengan telaten pria bertubuh atletis itu memijit kaki Citra.
"Kenapa kamu kelihatan takut gitu sih, sayang? Udah deh, nggak usah di pikirin." Di jawab santai oleh Citra.
"Kalau dia minta cerai, kita gak akan bisa kek gini lagi. Kemungkinan besar, Aira akan pergi. Siapa yang akan mengurus cafe."
Citra tersenyum kecut mendengarnya. Raka terlalu polos untuk menjadi couplenya dalam kejahatan. Pikiran pria itu belum ke arah sana.
"Kok bisa? Apa kamu punya rencana?" Wajah Raka mengkerut.
"Iya, dong. Kamu tenang aja. Segitunya gak rela, kalau kita berpisah."
Sentuhan kecil itu berakhir dengan ******* manja. Raka kembali menjadi penyemangat gelora **** untuk Citra. Mereka saling bercumbu, saling menyatukan lidah. Memupuk rasa nikmat yang menjulang tinggi.
"Kita lanjutkan di kamar, yuk!!" bisik Citra dengan suara parau.
"Iya, sayang."
__ADS_1
Hanya dengan satu sentuhan saja, gairah Citra sudah terpancing. Tak bisa di biarkan terlalu lama. Karena itu akan menyakitinya. Pun dengan Raka, yang langsung menyambut dengan semangat peraduan bibir itu.
Mereka sudah berada di kamar. Siap untuk bertempur. Saling menyalurkan hasrat yang tadi sempat tertunda. Tanpa di sadari, seorang wanita baru saja masuk ke dalam. Dengan langkah limbung, pelan ia memasuki ruang tamu. Dia masih tak berani menginjakkan kakinya di rumah itu. Akan tetapi, dia juga tidak bisa keluar dari rumah itu. Karena hanya itulah satu-satunya peninggalan papinya sebelum meninggal.
Langkah Aira berat, ia mengumpulkan keberaniannya untuk bertemu dengan mami dan suaminya. Saat sampai di ruang tengah, semua berantakan. Bantal sofa berjatuhan ke lantai. Di tambah, tas maminya juga berserakan di sana.
"Mereka sudah pulang," lirihnya tak mau berkedip. Wanita itu menatap hampa ke arah tangga. Seolah ada makhluk menakutkan di sana. "Ya Tuhan, aku harus bagaimana. Apa mungkin mereka sedang."
Sakit, untuk melanjutkan ucapannya. Sesakit apapun dia harus berani untuk menghadapi mereka. Meminta penjelasan pada dua orang laknat itu. Apa tujuannya, menyakiti hatinya.
Di rasa sudah yakin, Aira mulai melangkahkan kakinya menuju ke lantai atas. Sesampainya di sana, ia sudah di sambut dengan suara khas yang menghujam jantungnya.
Sttttt, ahhhhhhh, emmmmmmmm.
Tanpa menunggu lagi, air matanya seketika luruh. Membasahi wajahnya. Tidak bisa dibayangkan oleh Aira. Wajah menjijikkan mereka yang sedang di bumbung awang-awang.
Rasa panas dan sesak, menumpuk keberaniannya untuk mendobrak pintu kamar itu. Ia tidak boleh lemah, harus kuat demi harga dirinya sebagai seorang wanita.
Aira mempercepat langkahnya. Tepat di depan pintu kamar Citra, ia membukanya dengan kuat.
"Dasar bajingan, kalian!!!!!!!!!" Dengan wajah yang merah padam, Aira masuk ke dalam.
"Aira," lirih Raka, langsung turun dari tubuh Citra.
__ADS_1
"Kalian semuanya adalah binatang!!!!" Aira memukul-mukul dua tubuh polos itu menggunakan bantal. "Ceraikan aku sekarang juga, Mas!!! Huhuhuhu. Ceraikan aku."