Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku

Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku
Di desak


__ADS_3

Seperti biasa, selepas magrib akan banyak pengunjung cafe yang berdatangan. Biasanya, mereka para mahasiswa yang menghabiskan waktunya di tempat itu.


Veronica, Siska, dan beberapa temennya sudah sejak tadi nongkrong di salah satu bangku yang sudah di sediakan.


"Mana cowok Lo, Ver?" tanya Siska memicingkan sebelah matanya. "Katanya mau tlaktir. Kok gak ke sini?"


"Iya, nih. Lama amat, ya?" Veronica tampak sibuk memainkan ponselnya.


"Ya udahlah, kalau gak ke sini juga. Kita bisa happy-happy, iya gak temen-temen," timpal Anggun, yang baru saja gabung.


"Weh, tumben Lo keluar. Anak mami gak bakal di cariin, nih!" kelakar Siska terkejut dengan kehadiran Anggun.


"Nggak lah, lagian. Gue juga nongkrongnya sama kalian. Mana mungkin nyokab gue nyariin." Anggun menjawabnya. "Udah pada pesen belum?" Kemudian bertanya pada teman-temannya.


"Belum, mana nih kak Aira nya." Veronica mencari-cari keberadaan Aira. Yang kebetulan masih melayani pelanggan, tak jauh dari mereka.


"Kak!" seru Veronica. Aira pun menoleh.


"Itu aja, ya Mas." Setelah mencatat semua pesanan di meja itu. Gegas, Aira mendekati geng Veronica.


"Eh kalian, mau pesen apa nih." Dengan ramah, Aira bertanya.


"Biasa aja, Kak. Jangan lupa, bonusin cogan satu," canda Vero tergelak.


"Hahaha, di sini kagak ada cogan. Yang ada cetik." Aira menjawabnya, ikut terkekeh.


"Apaan tun cetik?" Kening Veronika mengkerut.


"Cewek-cewek cantik." Aira tergelak. Pun dengan mereka. "Udah ah, aku siapkan dulu ya pesenannya."

__ADS_1


"Ok!"


Sepeninggal Aira, mereka mulai berbincang-bincang seru. Banyak hal yang mereka bahas, salah satunya para gebetan mereka.


"Eh, gue nyesel banget tau gak sih. Naksir sama cowok ini," ujar Anggun memperlihatkan foto seorang pria.


"La emang kenapa?" timpal Veronica. "Bukannya itu cowok sering ada di sini, ya?" sambung wanita itu mengingat-ingat.


"Iya, gue juga sering liat." Siska menimpali.


"Serius, Lo pada!!!" Anggun terbelalak.


"Iya, lah. Gue beberapa kali pernah ketemu sama tuh cowok. Emang ada apa sama tuh cowok?" Veronika penasaran.


"Eh, dia itu brownisnya tante-tante kesepian," cetuk Anggun kesal.


"Hahhhh, secakep gitu. Jadi brownisnya tante-tante girang?" tanya Vero tak percaya.


"Mami Citra? Itu 'kan mami Citra." Veronika terperangah kaget.


"Iya, itu tante-tante girangnya," timpal Anggun, kesal.


Sayup-sayup Aira mendengar makinya di sebut-sebut, ikut penasaran dengan apa yang mereka bicarakan. "Ada apa sama mami?" Setelah itu, ia membuka suara.


"Ini lo, Kak. Mami Citra itu suka sama ...." Ucapan Siska terhenti, saat Veronika mengedipkan matanya. Memberi isyarat agar tidak mengatakannya pada Aira.


"Suka sama siapa?" tanya Aira menunggu jawaban.


"Bukan sama siapa-siapa, kok Kak. Tadi itu cuma salah sebut aja," kilah Veronika mengambil alih pembicaraan.

__ADS_1


"Ini, silahkan di minum. Aku tinggal dulu, ya. Selamat bersantai ria," ucapnya tersenyum manis. Kemudian kembali pergi dari sana.


Mereka bertiga menghembuskan napasnya kasar. Lega rasanya, setelah ketegangan sempat memenuhi ruangan itu. "Lebih baik kita gak usah bahas masalah ini. Mendingan, bahas pak Suraj. Eh, ada yang punya nomornya gak sih?" Veronica menatap satu persatu wajah temannya.


"Gue, dong." Anggun tersenyum kuda. Melihat ekspresi temen-temennya yang penuh harap. "Nggak punya," jawabnya, menggaruk tengkuk. Sontak mendapat tatapan mematikan dari ke dua temannya.


"Gue ada,ini nomor Pak Suraj yang lama. Entah masih aktif atau nggak?" sambar Siska memberikan ponselnya pada Veronica.


"Ok, gue save deh." Veronica tampak sibuk menyalin nomor itu. " Gue coba hubungi ya?" sambungnya menyeringai. "Aktif, tapi belum di jawab."


"Hallo, Pak Suraj." Setelah nada tersambung, Veronica tersenyum kuda. Bingung mau bicara apa, akhirnya ia mengakhiri panggilan telponnya.


***********


Seperti biasa, setiap jam sepuluh malam. Aira mengakhiri aktivitasnya di cafe. Dengan di jemput oleh Jali, sampai juga wanita itu di rumah.


Penat, lelah, sudah sering ia rasakan. Namun semua itu, akan hilang saat melihat maminya tersenyum bahagia dengan hasil penjualan di cafe. Itu yang membuat Aira tetap bertahan, selain sudah kewajibannya mengurus cafe itu. Dia tidak ingin, resep yang diwariskan ayahnya hilang begitu saja.


"Ra, mami mau ngomong sesuatu sama kamu?" Dari arah kamar tamu, Citra berjalan mendekati Aira yang akan menuju ke anak tangga. Wanita itu mengerlingkan katanya, menatap aneh dengan gelagat maminya yang tiba-tiba muncul dari ruang tamu.


"Ada apa, Mi?" tanya Aira, kemudian mereka duduk di ruang tengah.


"Ini tentang kamu dan Raka," ujar Citra dengan wajah serius.


"Aku sama mas Raka? Ada apa sama kamu berdua, Mi?" ulang Aira semakin bingung.


"Mami tadi di tegur sama pak RT. Seringnya Raka di rumah ini, membuat beliau was-was. Dan menegur mami untuk bertindak tegas sama kalian."


Aira menunduk, padahal mereka jarang bertemu. Bagaimana mungkin pak Surya menganggapnya begitu.

__ADS_1


"Tapi, Mi. Mas Raka sering kesini 'kan karena mami."


"Apa maksud kamu?" tandas Citra dengan mata melotot.


__ADS_2