
"Aira, iya itu Aira!" Suraj bergumam, sambil terus memandangi waiters yang sedang melayani tamu undangan.
"Nak Suraj, ayo masuk!" ajak Alea tertuju pada pria yang memakai setelan jeans dan kaos lengan pendek.
"Iya, Tante. Duluan aja, nanti saya nyusul," sahut Suraj, kikuk.
"Ya udah Nadine, kamu temenin Suraj ya sayang? Mami mau sama Tante Yuni dulu," ucap Alea pada putrinya.
"Iya, Mi." Wanita menyeringai senang.
Para ibu-ibu sudah pergi meninggalkan mereka berdua. Nadine mendekati mantan kekasihnya itu. Berharap, pria yang berada di sampingnya bersikap sedikit lebih manis padanya.
"Kita masuk, Yuk. Gabung sama yang lain."
"Kamu duluan aja, aku masih ada urusan yang jauh lebih penting daripada ini!" tegas Suraj, masih bersikap dingin pada Nadine.
Kecewa, itu yang dirasakan oleh Nadine. Begitu mendengar jawaban ketus dari sang mantan kekasih. Akan tetapi, wajahnya terlihat berseri-seri saat melemparkan pandang ke arah waiters yang sedang berjalan menuju kearahnya.
"Tunggu saja nanti, kamu akan tahu. Dimana seharusnya kamu berada, cewek kampungan," batin Nadine, menatap licik pada waiters itu.
Tak ingin membuang waktu, Suraj mendekati Aira yang ternyata berada di pesta Nadine. Sedikit lega, melihat keadaan wanita itu. Meski, terlihat jelas rasa lelah melekat di wajah Aira.
"Sayang," panggil Suraj yang berdiri di belakang Aira. Wanita itu menoleh, kaget dengan apa yang ia lihat.
__ADS_1
"Kok ada disini?" tanyanya bingung, masih menawarkan minum pada salah satu tamu undangan.
"Iya, sayang? Aku bantu, ya?" balas Suraj, mengambil nampan minuman yang dibawa oleh Aira.
"Jangan, kamu gak pantas mengerjakan ini. Kamu tamu undangan di tempat ini," tolak Aira tidak ingin mempermalukan pria itu. "Aku lanjut kerja dulu, ya? Aku gak mau mereka komplain," sambung Aira, melanjutkan pekerjaannya.
"Sayang, kenapa gak angkat telepon?" Suraj bertanya lagi, menyusul Aira yang mulai berkeliling menghampiri yang lain.
"Sayang, kamu tahu kan alasannya. Maaf, ya?" sahut Aira, menoleh ke samping. Setelah itu, fokus kembali dengan kerjaannya.
Suraj masih bergeming, tak mengindahkan permintaan sang kekasih untuk tidak mengikutinya. Dan saat Aira, menawarkan minuman kepada para dosen kampus, disaat itulah hatinya tersayat pilu.
"Pak Suraj, ngapain ngintilin waiters ini. Apa jangan-jangan, dia cewek yang Bapak taksir, ya?" seloroh salah satu dari mereka.
Disaat itulah, Aira merasa kecil. Jika dibanding mereka. Dia tidak ada apa-apanya. Dia membenarkan ucapan teman-teman Suraj, yang mengganggap dirinya tak sebanding dengan Suraj, yang derajatnya jauh lebih terhormat dibanding dia.
Gemuruh dalam dadanya kian mencuak. Menahan rasa malu yang luar biasa, andai ia bisa memilih pergi. Mungkin, sudah ia lakukan. Panas mendengar ucapan mereka, hingga kelopak matanya terasa penuh. Hanya dalam hitungan detik, air matanya akan jatuh saat itu juga.
Suraj memandang wajah Aira yang disembunyikan. Terlihat jelas kesedihan di sana. Pria itu langsung menarik tangan Aira agar menjauh dari mereka.
"Sayang, kamu gak usah dengerin mereka. Apapun yang dikatakan mereka, tidak akan merubah perasaanku padamu," ucap Suraj dengan tulus.
Aira tak berani memandang wajah Suraj. Malu, merasa terhina, tidak pantas bersanding dengan pria itu. Ucapan mereka terngiang-ngiang ditelinganya. Mengisi penuh di kepala wanita itu.
__ADS_1
GAK SELEVEL
DEKIL, JELEK, MISKIN
"Lepaskan aku, aku masih banyak kerjaan!" sentak Aira, melepaskan genggaman tangan Suraj. Segera ia pergi, menjauh dari pria itu yang memandang sesal karena kepergiannya.
"Sayang," cegah Suraj, yang akan mengejar Aira. Namun terhalang oleh Nadine yang menariknya dari belakang.
"Mami nyariin kamu, aku mohon temui mami dulu." Dengan wajah mengiba, Nadine meminta pada Suraj.
"Gak, aku gak mau. Aku mau ngejar Aira!" Suraj menolaknya.
"Suraj!!" bentak Nadine sedikit meninggikan nada suaranya. "Dia itu pelayan di acara ini. Jangan ganggu dia, kalau kamu gak ingin aku bertindak kasar dengannya." Nadine mengancamnya. "Dia itu aku bayar, untuk melayani para tamu disini. Bukan untuk ngobrol sama kamu!" sambungnya lagi, kesal.
"Aku gak peduli!!" tegas Suraj, kekeh mau menyusul Aira.
"Atau kamu ingin, dia tidak aku bayar sepeserpun karena ulah kamu!" tandas Nadine, sontak menghentikan niat Suraj untuk mengejar. "Kalau kamu masih ganggu dia, aku gak segan untuk tidak membayarnya!" Merasa berhasil dengan cara itu, Nadine semakin menyudutkan mantan kekasihnya itu.
"Dasar licik, kamu!!"
"Aku gak peduli!!!"
Suraj tak punya pilihan. Selain mengawasi Aira dari jauh. Tidak ingin mengacaukan semua, jika ia tetap egois mengejar wanita itu. Hingga suara MC sedikit mengejutkan dirinya. Karena namanya di sebut-sebut oleh pria berperawakan tinggi, namun gaya bahasanya seperti perempuan.
__ADS_1