Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku

Ranjang Panas Milik Suami Dan Ibuku
Pelanggan baru


__ADS_3

"Sudah mulai berani dia," gumam Citra setelah Aira pergi dari tempat itu.


Ada kalanya ia merasa bersalah, membiarkan maminya hidup dalam lembah dosa. Ingin ia menegur, menasihatinya. Supaya Citra menghentikan semuanya. Dan bodohnya lagi, Aira tidak pernah tahu kebusukan maminya. Yang ia tahu, Citra adalah sosok orang tua yang lembut, penuh kasih sayang. Sebelum dia tahu, perselingkuhannya dengan Raja.


Setelah selesai urusannya di rumah, Aira lekas pergi ke cafe. Hari ini akan banyak pekerjaan yang sedikit menguras tenaganya. Salah satu mahasiswi di kampus itu, akan merayakan song tahun di cafenya.


"Iya sayang. Kamu udah di kampus kan?" balas Aira, saat menjawab telpon dari Suraj.


Tak hayal, pria itu terkesiap mendengar kata-kata yang keluar dari bibir kekasihnya.


"Sayang, aku gak salah dengar nih!" tegur Suraj, masih tak percaya.


Aira yang menyerukan dirinya dengan sebutan nama. Kali ini, terselip kata 'sayang' yang sedikit membuat hatinya menghangat. Bukan di lihat dari kata-katanya yang keluar dari bibir wanita itu. Tapi keberadaannya, sedikit banyak sudah di akui oleh Aira.


"Emang aku ngomong apa?" tanya Aira menyeringai. Sejak mengenal Suraj, kehidupan wanita itu berubah seratus delapan puluh derajat. Hari-harinya di penuhi dengan nama dan bayangan pria itu.


"Hmmm, suka gitu deh. Sebel aku. Ya udah dulu ya sayang. Nanti kalau jam ngajar selesai, aku langsung samperin di cafe."


"Iya. Aku tunggu ya? Love you," ucap Aira dengan malu-malu.


"Love you more," balas Suraj, tersipu malu.


Suraj menutup sambungan telponnya. Dengan wajah berseri-seri. Sungguh di luar nalar, gaya pacaran mereka yang seperti ABG, membuat dia tersenyum geli. Tapi, tak dapat dipungkiri rasa bahagia itu selalu tercipta dalam hati. Saat melihat Aira tersenyum. Itu sudah lebih cukup untuknya.


Sepertinya kegembiraan Suraj terekam mata dari seseorang yang mengintainya dari balik pintu kamar mandi.

__ADS_1


"Siapa cewek itu, gue harus selidiki. Gue gak mau ngelepasin Suraj gitu aja!" gumam wanita itu mengepalkan tangan. "Gue bersumpah, akan melakukan cara apapun untuk mendapatkan kembali Suraj."


*************


Kesibukan Aira di dapur cafe, membuat wanita itu melupakan jatah makan siangnya. Deadline sore ini, harus sudah beres menyiapkan cetering seratus porsi makanan yang sudah di pesen oleh pelanggannya. Di tambah, dia masih melayani pelanggan lainnya.


"Mbak Aira, biar aku yang goreng kentangnya. Mbak makan dulu. Nanti pingsan, loh!" seloroh Bellian menawarkan diri untuk membantu Aira.


"Aku belum lapar, Ian. Nanti deh, nanggung. Kamu layani aja pelanggan yang datang," tolak Aira bersikukuh mengerjakan semuanya sendiri.


"Ya udah kalau gitu, aku layani mereka dulu." Bellian pun pergi. "Win, meja dua puluh udah belum?" Kemudian bertanya pada rekannya yang lain.


"Belum, yang sebelahnya udah. Aku mau siapin jus alpukat dulu." Winda melanjutkan tugasnya.


Bellian menghampiri pelanggan yang belum di tawari makanan oleh Winda."


"Saya pesen menu andalan di cafe ini aja, sama minumnya juga," balas wanita itu sopan.


"Ok, cefeelate dengan taburan caramel di atasnya. Makanannya Tom yam kuah pedas. Mau level berapa?"


"Dua aja, saya tidak terlalu suka pedas."


"Baik, mohon di tunggu bus? Kami siapkan dulu."


Kalau di lihat-lihat dari wajah wanita itu sangat familiar. Bellian merasa tidak asing dengan sosok itu. Sehingga mengganggu konsentrasinya saat memasuki dapur.

__ADS_1


"Astaghfirullah," serunya kaget, saat Aira menabrak.


"Kamu itu kenapa ngelamun?"


"Kok orang tadi sekilas mirip sama Mbak Aira, ya?" Bellian membatin.


"Mbak, ada yang pesen Tom yaam pedes level dua. Aku aja ya, yang buatin," sambung Bellian lagi.


"Iya," jawab Aira singkat, sambil melanjutkan pekerjaannya tadi.


"Mbak di depan ada orang yang mirip banget sama Mbak, loh! Tapi dia udah agak tua. Siapa tahu, Mbak kenal." Bellian mengadukannya pada Aira.


"Alah kamu ini. Di dunia ini kan ada tujuh orang yang mirip sama kita, wajar aja lagi." Aira menimpali.


"Tapi beda, Mbak. Ini tuh kayak ibu sama anak gitu. Samperin deh, kalau gak percaya?" usul Bellian yang merasa ada sesuatu antara mereka berdua.


"Kamu ini ngaco aja sih, Yan. Mami aku ya cuma satu. Mami Citra," sahut Aira, dengan wajah sayu. Jika menyebut nama itu. "Ya walaupun emang gak mirip. Dia cantik, makanya suami aku mau sama dia. Sedangkan aku kumel, mana ada yang mau?"


"Kata siapa gak ada yang mau!" sambar Suraj dari belakang. "Aku mau kok," sambungnya, langsung mendekati Aira.


"Cieee, yang udah sayang-sayangan. Ihiir, aku mah cuma bisa doain aja. Semoga kalian berjodoh dunia akhirat," sambut Bellian baper melihat kedekatan mereka berdua.


"Aamiin."


"Sayang, kamu udah jalankan misi kita, 'kan?" tanya Suraj, di sela-sela kesibukan mereka.

__ADS_1


"Udah, kok. Aku udah lakuin, apa yang kamu perintahkan kemarin."


"Ya udah, setelah ini. Kita cek sama-sama ya?"


__ADS_2