
Melihat kehadiran Hiro, Katashi tidak bisa berbuat apa-apa. Dia sudah tumbang dan lemah. Pria paruh baya itu mulai kehabisan darah. Hingga akhirnya Katashi menghembuskan nafas terakhir. Dia terhempas ke lantai dalam keadaan mata terbelalak.
Sementara Izumi sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Dia berada dalam pelukan Hiro.
"Cepatlah Chen Fu!" desak Hiro. Tangannya sibuk menekan luka diperut Izumi.
"Aku sedang berusaha!" balas Chen Fu. Dia melajukan mobil dalam kecepatan tinggi.
Setelah memakan waktu sekian menit, tibalah Hiro dan Izumi di rumah sakit. Izumi pun langsung dibawa ke ruang unit gawat darurat. Gadis itu harus diselamatkan dengan proses operasi.
Hiro kini mencoba menenangkan diri. Dia duduk di bangku yang ada di depan ruang unit gawat darurat. Sedangkan Chen Fu segera memberikan kabar kepada yang lain.
Shima dan yang lain lantas menyusul ke rumah sakit. Bahkan juga Akira. Mereka menyaksikan Hiro duduk dengan kepala tertunduk. Akira bergegas menghampiri, dan memberinya pelukan hangat.
"Hiro, kau dan ibumu lebih baik istirahat. Aku yakin kalian belum mendapat makanan yang layak saat disekap," ujar Shima menyarankan.
"Ikutlah denganku. Aku akan mengantar kalian ke hotel terdekat," ajak Hana.
"Hiro, kami yang akan berjaga di sini. Dan jika operasi Izumi telah selesai, kami pasti akan segera memberi kabar!" ucap Shima.
Hiro menganggukkan kepala. Dia beserta ibunya ikut dengan Hana untuk beristirahat.
Setibanya di hotel, Akira langsung mengistirahatkan dirinya. Dia tanpa sengaja terlelap di sofa.
Sedangkan Hiro memilih pergi membersihkan diri ke kamar mandi. Dia merasa lega ketika shower mengalirkan air hangat untuknya. Terdapat luka dan lebam di beberapa titik tubuhnya. Itu membuat Hiro merasakan perih.
Setelah selesai mandi, Hiro bergegas keluar dengan hanya mengenakan handuk dipinggulnya. Hana terlihat mengobrol dengan Akira.
"Ya sudah, sekarang aku yang harus membersihkan diri," imbuh Akira sembari berdiri. Dia menepuk pelan pundak Hana.
"Hiro, itu pakaianmu. Hana tadi membelikannya untuk kita," ujar Akira, yang kini bicara dengan Hiro. Dia kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
"Terima kasih, Hana," ucap Hiro sambil meraih pakaiannya yang tergeletak di atas kasur. Hana lekas-lekas berbalik badan. Dia paham Hiro akan melepas handuk dan memakai baju.
"Apa kau menemukan informasi rahasia Katashi?" tanya Hiro. Dia telah selesai mengenakan seluruh pakaiannya.
"Tentu saja. Lihat koper yang ada di meja ini!" sahut Hana sembari menepuk dua briefcase yang diletakkannya di atas meja.
Hiro langsung menghampiri. Dia berniat memeriksa isi dari briefcase. Namun Hana mencegah pergerakannya, dan menyuruh Hiro mengisi perutnya terlebih dahulu.
"Apa kau tidak lapar?" timpal Hana.
"Kau benar." Hiro meraih makanan yang juga sudah tersedia di meja. Lalu menikmatinya.
Hana membukakan briefcase untuk Hiro. Dia menemukan banyak sekali berkas penting. Gadis itu terkejut karena surat-surat yang ada, atas nama milik Keichi Yamada dan bukan Katashi Nakagawa.
"Keichi ayahmu bukan?" tanya Hana memastikan. Hiro segera menganggukkan kepala untuk mengiyakan.
"Kalau begitu, aku yakin semua ini sekarang jatuh ke tanganmu." Hana menyerahkan berkas warisan kepada Hiro. Dia meletakkannya di atas meja.
"Maksudmu harta Katashi?" Hiro melebarkan kelopak matanya.
Hiro memeriksa berkas yang diberikan Hana. Dia melihatnya satu per satu. Dapat diketahui ada beberapa perusahaan, serta properti atas nama Keichi.
"Lihat di bagian bawah itu. Ayahmu menuliskan, 'Jika sesuatu terjadi dengannya, dia akan menyerahkan hartanya kepadamu.' Setelahnya barulah ibumu. Ayahmu dan Akira pasti sangat menyayangimu," tutur Hana memberitahu.
"Ya... padahal saat itu aku masih ada dalam kandungan. Mungkin itu salah satu alasan Ibu berusaha keras menjagaku," kata Hiro. Dia masih memandangi lembaran kertas yang dipegangnya.
'Hiro lebih tepatnya, bukan Hiroshi,' batin Hiro dalam hati. Dia sadar apa yang jatuh kepada dirinya sekarang bukanlah miliknya. "Bagaimana dengan informasi yang kau cari, apa kau menemukannya?" tanya-nya lagi. Melanjutkan pembicaraan.
"Aku hanya menemukan sedikit. Sepertinya aku harus mencari lagi di beberapa tempat penting Katashi." Hana menjelaskan dengan tenang. "Tidak usah cemas Hiro, aku pasti akan menemukannya. Dan ayahku pasti akan segera keluar dari penjara," sambungnya lagi. Tersenyum tipis.
Hiro telah menyelesaikan makanannya. Dia baru saja selesai menenggak beberapa teguk air putih. Dirinya memergoki Hana tampak gelisah, seakan masih ada sesuatu yang ingin dia bicarakan. Gadis itu terlihat sibuk memainkan jari-jemarinya tanpa alasan.
__ADS_1
"Hana? Apa ada sesuatu mengganggumu?" Hiro mengangkat kedua alisnya penuh tanya.
Hana gelagapan dan menghela nafas panjang. "Ini tentang Izumi..." dia bicara sambil menundukkan kepala. "Apa yang akan kau lakukan jika dia sudah pulih?" lanjutnya.
"Mungkin memberinya tempat tinggal, dan aku pikir Izumi harus memakai identitas baru. Supaya dia terlindungi dari cemohan orang," terang Hiro.
"Bukan itu maksudku, Hiro..." lirih Hana. Dia kini mendongakkan kepala untuk menatap Hiro. "Maksudku, posisi Izumi bagimu. Kau menyukainya bukan?" Hana akhirnya langsung bicara ke intinya. Dia hanya ingin memastikan perasaan Hiro.
"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan itu? aku akan mengurusnya," respon Hiro sembari sedikit terkekeh.
"Kau tertawa? kau pikir apa yang aku bicarakan ini lucu?" timpalan Hana berhasil membuat Hiro terdiam seribu bahasa.
"Apa kau selalu menganggap perasaan perempuan sebagai permainan?" dahi Hana mengerut kesal.
"Kenapa kau tiba-tiba sangat sensitif?!" balas Hiro. Keningnya ikut mengernyit.
"Kenapa kau bilang?!" Hana memutar bola mata sebal, lalu meneruskan, "Bukankah sudah jelas kalau aku menyukaimu!"
Hiro agak terkejut mendengar pernyataan Hana. Sepertinya gadis tersebut tidak bisa memendam perasaan lagi. Suasana semakin canggung, ketika Akira keluar dari kamar mandi. Ibu kandungnya Hiro itu sebenarnya mendengar pembicaraan Hana. Namun dia berlagak biasa saja, agar Hana tidak menanggung malu.
Benar saja, wajah Hana langsung memerah padam saat melihat kemunculan Akira. Dia segera pamit keluar dari kamar. Beralasan ingin kembali ke kamarnya.
Akira kini duduk di hadapan Hiro. Dia tidak ingin ikut campur dengan urusan asmara putranya. Dirinya lebih memilih menikmati hidangan yang tersedia di meja. Kemudian membicarakan berkas-berkas penting di briefcase dengan Hiro.
"Jika kau merasa kebingungan mengurus semuanya. Aku pikir kau harus meminta bantuan Kogoro. Dia pasti bersedia membantu," ujar Akira, yang langsung direspon Hiro dengan anggukan kepala. Selanjutnya mereka segera mengistirahatkan diri. Saling terdiam dan menenangkan pikiran. Hiro bahkan sempat tertidur dalam beberapa jam.
Tidak lama kemudian, Hana kembali. Dia memberitahukan kalau operasi Izumi berjalan lancar. Meskipun begitu, Izumi masih belum sadarkan diri.
"Aku akan beritahukan Hiro nanti. Dia tidur sangat nyenyak sekarang," ucap Akira seraya menunjuk ke belakang. Tempat dimana Hiro terlelap sangat pulas.
"Dia pasti sangat lelah..." komentar Hana lirih. Dia menatap Hiro dari kejauhan.
__ADS_1
"Hana, kau juga perlu istirahat. Kamu bisa beristirahat di sini kalau mau," tawar Akira lembut.
"Tidak usah Tante, aku akan istirahat di kamarku saja. Lagi pula posisinya ada di seberang kamarmu dan Hiro," sahut Hana sambil membungkukkan badan. Lalu masuk ke dalam kamarnya.