Reincarnation : A Quite Revenge

Reincarnation : A Quite Revenge
Bab 28 - Menemukan Klan Yamada


__ADS_3

Hayate memimpin jalan di depan. Sebelum memasuki ruang rahasia yang disebutkannya, dia terlebih dahulu mengambil kunci yang tergantung di dinding. Kemudian menuntun Hiro dan Shima masuk ke sebuah ruangan.


"Apa kau yakin ini tempat yang aman?..." tanya Hiro dengan suara paraunya. Keningnya masih tampak mengernyit, pertanda kalau dirinya masih dirundung rasa kesakitan dilengannya.


Hayate hanya diam. Dia malah membuka karpet yang ada di lantai. Di sana terdapat kayu membentuk persegi. Benda tersebut dapat dibuka oleh Hayate. Ternyata lantai kayu yang sekarang menjadi pijakan Hiro, masih mempunyai ruangan lain di bawahnya.


Hiro dan Shima lantas bergantian masuk ke tempat yang bisa dibilang ruang bawah tanah itu.


"Maaf berantakan. Aku sudah lama tidak masuk ke dalam..." ujar Hayate sembari hendak menutup pintu kembali. Namun dia mendadak membukanya lagi, karena merasa ada sesuatu yang harus disampaikan. "Ah benar, jika orang yang mengejar itu datang, kalian harus mematikan lampunya." tambahnya, lalu benar-benar beranjak pergi. Hayate kembali meletakkan karpet di atas papan yang menjadi pintu penghubung ruang bawah tanah.


Hiro merebahkan diri ke kasur kumal yang kebetulan ada beberapa langkah darinya. Dia tidak begitu memperhatikan keadaan yang ada di ruangan tempatnya berada. Matanya dipejamkan rapat-rapat sambil mendenguskan nafas lega.


"Senpai, apa kau tidak melihat benda-benda yang ada di sekitarmu. Aku yakin semua ini akan membuat keadaanmu membaik." Teguran Shima otomatis mengharuskan Hiro membuka mata. Dia segera mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan. Hiro langsung mengubah posisi menjadi duduk tatkala menyaksikan banyak perabotan ninja disekitarnya. Berbeda dengan barang-barang yang dimiliki kakeknya Shima, kali ini lebih lengkap.


Hiro sempat terkagum sejenak. Dia perlahan berdiri dan berjalan menghampiri benda yang menarik perhatiannya. Yaitu beberapa senjata ninja yang memiliki ukiran lambang tertentu. Dahi Hiro lantas mengerut heran, karena dia merasa sangat mengenal ukiran yang terpatri di setiap sudut badan senjata.


Ukiran berbentuk gambar rubah Inari dan pedang, mengingatkan Hiro dengan kehidupan sebelumnya. Kalau hanya klan Yamada-lah yang membuat ukiran khas tersebut. Lambang itu dibuat dengan tujuan untuk menegaskan kalau akademi ninja Yamada pernah berdiri.



"Kenapa? apa gambar itu mengingatkanmu dengan sesuatu?" Shima yang tadinya berdiri agak jauh, segera berjalan mendekat.


"Ini dari akademi ninjaku dulu. Bagaimana bisa ada di sini..." lirih Hiro. Menatap barang-barang berbau ninja yang terlihat lusuh dan tua. Bahkan kebanyakan ada yang sudah rusak dan rapuh.


"Apa?! be-benarkah?" Shima merasa ikut terkagum.


Dug! Dug!


"Matikan lampunya, Sebentar lagi kedua orang itu memeriksa ke sini!" terdengar suara Hayate dari luar. Shima segera mematikan lampu. Dia dan Hiro sontak membisukan diri.


Tidak lama kemudian terdengar bunyi derap langkah yang kian mendekat. Langkah kaki itu bergerak mengelilingi ruangan di atas. Baik Hiro maupun Shima, keduanya dapat mendengar dengan jelas bagaimana dua orang Nakagawa tersebut melakukan pencarian.

__ADS_1


Shima menelan salivanya sendiri akibat merasa tegang. Peluhnya menetes di kedua pelipis tidak dalam waktu yang sama. Matanya terus menatap ke atas. Tepatnya ke arah celah-celah kayu dimana dua orang Nakagawa berada.


Karena tidak berhasil menemukan apa yang dicarinya, dua orang Nakagawa tersebut akhirnya pergi. Sepertinya mereka memilih melakukan pencarian di lokasi lain.


Setelah memastikan semuanya aman, Kogoro bergegas membuka pintu ruang bawah tanah. Dia mengatakan kalau Hiro dan Shima sudah bisa keluar dari tempat persembunyian.



Hayate menyarankan Hiro untuk pergi ke klinik terdekat. Karena takut pengobatan yang dilakukannya akan menimbulkan kesalahan. Hayate sendiri bukanlah seorang tabib atau pun dokter. Dia hanya memiliki ilmu pengobatan yang pernah diajarkan orang tuanya.


"Lebih baik besok saja. Takutnya malah tidak sengaja bertemu dengan orang-orang Nakagawa. Nanti siapa lagi yang repot?" kata Kogoro, bermaksud menyindir. Dia menatap ke arah keponakannya dan Hiro secara bergantian.


"Benar, aku setuju." Hiro menganggukkan kepala. Menyetujui usulan Kogoro.


"Baiklah!" Hayate terpaksa setuju. Dia mencoba melangkah menuju pintu keluar.


"Tunggu!" Hiro menghentikan pergerakan kaki Hayate.


"Benar. Namaku Hayate Yamada," jawab Hayate seraya melakukan anggukan yakin.


Hiro membulatkan mata. Sekarang di depan matanya ada sosok keturunan Yamada yang lain. Dia merasa tidak percaya sekaligus senang. Sedikit senyuman mengembang dari mulutnya. Sedangkan Hayate segera melanjutkan derapnya untuk keluar dan mengurus sauna-nya.


"Hiro, kenapa responmu sangat berlebihan?" tegur Kogoro, bingung dengan ekspresi yang ditampakkan Hiro.


"Nama belakangnya Yamada!" kata Hiro bersemangat.


Kogoro lantas mengerutkan dahi. Dia tentu merasa dibuat heran dengan tindakan aneh Hiro.


"Kenapa memangnya? ada ratusan orang yang memakai nama belakang itu di Jepang!" balas Kogoro dengan tawa kecilnya.


"Benarkah?" bukannya ciut, Hiro malah semakin tertarik. Sebab dimasanya dulu, hanya orang-orang yang tinggal di akademi ninja yang menggunakan nama belakang tersebut.

__ADS_1


'Sepertinya mereka berkembang biak dengan baik,' batin Hiro yang kembali mengukir senyuman diwajahnya.


"Kalian berdua sangat aneh. Istirahatlah! aku harus pergi menyelesaikan urusan," ucap Kogoro sambil berderap untuk keluar. Namun langkahnya terhenti di ambang pintu. Dia menoleh dan berucap, "Mengenai urusan kalian dengan keluarga Nakagawa, sebaiknya jangan menyelinap masuk lagi ke rumah mereka. Itu hal bodoh dan tergila yang pernah kudengar. Kau beruntung Hiro, bisa menyembunyikan jejakmu dengan rapi dan berlagak seperti ninja. Tetapi Katashi tidak akan melupakan orang yang telah berani mengganggunya." Setelah puas memberi nasehat, Kogoro pun benar-benar berlalu pergi.


Hiro merebahkan diri di atas kasur milik Hayate. Di ikuti oleh Shima yang juga telentang di sampingnya. Pikiran keduanya melayang dengan cara yang berbeda.


Shima sibuk berbicara ditelepon dengan adiknya. Dia mencemaskan Shiro yang ditinggal sendirian di rumah. Namun adik lelakinya tersebut sedang tidak berada di rumah, melainkan menginap di rumah temannya. Dibandingkan dengan Shima, Shiro lebih supel dan pandai mencari teman.


Sementara itu, Hiro tengah berkutat memikirkan cara untuk menemukan informasi mengenai hubungan Akira dan keluarga Nakagawa. Dia berusaha berpikir keras. Hiro tahu, segalanya tidak akan selalu bisa diatasi dengan kekerasan. Hingga terbersitlah ide dalam kepalanya.


"Shima-Kun, aku punya cara untuk mencari informasi dengan mudah!" Hiro mendadak merubah posisinya menjadi duduk.


"Apa itu?" Shima ikut duduk, dan segera melepaskan ponsel dari genggaman tangan.


"Izumi!" seru Hiro dengan pupil mata yang membesar.


"Eh? apa aku salah dengar?" tanya Shima memastikan.


"Satu-satunya jalan adalah mendekati Izumi!"


"Tapi Senpai, kau tidak tahu betapa psikonya gadis itu. Saat di klub malam dia bahkan menuangkan sebotol alkohol ke wajahmu!" Shima menggeleng tegas. Mencoba menolak mentah-mentah ide dari Hiro.


"Kita harus mencoba. Karena tidak mungkin aku kembali menyelinap ke sana, mereka pasti melakukan pengamanan lebih ketat sekarang!" Hiro menyilangkan tangan di depan dada. "Dan satu hal lagi, mulai sekarang jangan panggil aku Senpai. Cukup nama saja, semuanya agar kau terbiasa, sehingga rahasiaku dapat disimpan dengan rapat."


"Tapi, aku--"


"Shima, anggap saja aku Hiro. Sahabatmu dulu!" Hiro sengaja memotong kalimat Shima. Dia membawa sahabatnya tersebut masuk ke dalam rangkulannya.


"Baiklah..." lirih Shima, terpaksa setuju.


Catatan kaki :

__ADS_1


Inari : Adalah rubah Jepang perlambang kesuburan, kemakmuran, dan kesuksesan duniawi.


__ADS_2